Aku, Tornado & Luna Maya

Menguji adrenalin (kadang) adalah sesuatu mengasyikkan. Menjerit, berteriak dengan jantung yang berdetak diluar kewajaran buat beberapa orang adalah sebuah ekspresi kebebasan yang liar. Tapi apa yang terjadi ketika lagi asyik-asyiknya menjerit dan bermain-main dengan rasa takut, tiba-tiba permainan kita berhenti. Ah……….sial ada apa sih ini ? khan masih bentar ? Woi….what’s wrong ?

Itu terjadi ketika saya naik wahana Tornado, Dufan pada hari Sabtu , 18 April 2009 kemarin. Saya harus mengantri 3 “kloter penerbangan “ sebelum bisa “ take off “. Antrian saya semakin lama karena kloter sebelum saya ada yang muntah saat Tornado lagi goyang, jadi harus dibersihin dulu. Pembersihan sudah beres, saya pun naik ke “podium” dengan semangat. Dan pertunjukan pun dimulai………..

AAAAAAAAAAAAARRRRRRRRRRGGGGGHHHHHHHHH……………………..

AAAAAAAAAAARRRRRRRRGGGGGGHHHHHHH…………………..

JJJIIIIAANNNCCC#########KKKKKK…………………………………………

(*&*&^%&^$^%#!#%$#@*#(*(#(*&*^%………………………………………………………

Lho ? …Tiba-tiba saya ( dan yang lain ) dalam normally position. Pikir saya, wah mau dikagetin nech. Ternyata petugas melepas sabuk pengaman saya. Dan mempersilakan kami menuju exit door. Lho ? khan masih bentar , apa karena asyik jadi ga inget waktu ? Pengunjung sebelah saya dan yang lain ternyata juga menggerutu. Wah pasti ”konspirasi” tersembunyi untuk menyabotase keasyikan saya.

Dan ternyata benar. Ada rombongan diluar antrian pengunjung yang pengen naik. Mereka adalah Luna Maya beserta ”asesorisnya”. Sialan, emang mentang-mentang artis dia bisa seenaknya main di Dufan. Saya sungguh tidak perlakuan tidak adil seperti ini. Saya sangat marah atas angkara murka yang terjadi di Dunia Fantasi.

Tapi saya mengurungkan niat saya protes, karena ternyata visualisasi Luna Maya membuat saya terkagum-kagum. Saya ga menyangka dia bisa seputih dan sebersih itu. Makhluk macam apa dia ? Apa aja sih makanannya ?

Langsung saja saya ambil DSLR kesayangan. Set ISO, F, speed sutter tinggi, Zoom In dan jepret !! Wah ……..

Kalo disuruh milih Tornado atau Luna Maya, saya tetep keukeuh memilih Tornado dengan catatan duduk disamping Luna Maya. Benar-benar suatu permainan yang menguji adrenalin seorang lelaki.

7-Eleven

behind the screen Chiang Mai – Singapore backpacker’s trip

7eleven Khaosan Road, Bangkok-Thailand

Apa tempat yang paling banyak kami kunjungi ditiga negara tersebut? Ternyata malah bukan obyek wisata. Tapi tempat itu adalah minimarket, 7-Eleven. Apa istimewanya? Ya memang tidak ada yang istimewa. Di minimarket orang ya belanja kebutuhan sehari-sehari. Kalau kami yand dibeli ya sudah jelas, paling sering beli air minum, atau kadang juga beli roti. Paling enak beli minuman gelas seduh atau mie, karena bisa langsung diseduh disana, karena mereka sudah menyediakan air panasnya. Harga belum tentu lebih murah dari pada toko kelontong dipinggir jalan, atau mungkin bisa saja lebih mahal. Tapi yang jelas, karena minimarket, yang ditawarkan adalah kepraktisannya dalam memilih. Dan yang jelas ada kulkasnya. Jadi kalau ingin beli minuman jelas bisa milih minuman yang dingin.

Awalnya sih ketika kami di Bangkok, ketika kami lagi beli minuman, kami pikir 7-Eleven adalah nama untuk minimarket itu saja. Jadi nothing special. Tapi ternyata jarak satu blok ada lagi. Dan sepanjang perjalanan kami keliling kota Bangkok ternyata 7-Eleven ada dimana-mana. Begitu juga ketika berada di Chiang Mai dan Hat Yai. Indomart-nya Thailand sepertinya. Tapi yang membuat kami semakin ‘kagum’ adalah ketika kami berada di Penang, Kuala Lumpur Johor ternyata minimarket ini juga ada dimana-mana juga. Di Singapore-pun juga begitu. Wah, ternyata 7-Eleven franchise internasional. Tapi sepertinya franchise yang satu itu akan sulit untuk masuk Indonesia dan mengalahkan dominasi kerjaan Indomart dan Alfamart.

Posting ini bukan iklan bukan promosi, hanya sekedar cerita. Kalau di Indonesia mungkin anda sekalian belum pernah melihat mata orang berbinar-binar melihat ada Indomart, tapi disana kami sampai terpesona ketika melihat ada 7-Eleven, seperti melihat cewek cantik melintas. Ayo belanja minuuuum….!!!??!!!


Aroma Kematian

behind the screen Chiang Mai – Singapore backpacker’s trip

Mendung tak selamanya berarti hujan, tapi memang mendung adalah salah satu pertanda akan datang hujan. Banyak pertanda-pertanda disekeliling kita namun terkadang kita tidak memperhatikannya. Namun permasalahannya adalah kita sulit membedakan apakah ini pertanda ataukah bukan.

Gagak di LCCTSetelah cukup puas makan di food garden bandara LCCT Malaysia, sambil menunggu penerbangan selanjutnya ke bandara Suvarnabhumi di Thailand, kami duduk-duduk dipelataran luar tempat orang-orang menunggu bus. Suasana cukup panas namun kadang angin sepoi-sepoi berhembus. Lagi enak-enaknya tidur-tiduranan (sambil duduk), ada suara cukup ramai yang membuat kita terbangun. Suaranya “Wok…wok…wok…”. Ternyata ada dua ekor burung gagak hinggap diatas atap disekitar kita. Dan kemudian kejar-kejaran satu sama lain. Hinggap lagi disekitar kita. Dan seterusnya. Photagrapher kami, Son dan Ervan tidak melewatkan kesempatan untuk mengambil photonya. Jarang-jarang ada burung gagak di kota. Di gunung saja kita jarang menemui, bahkan sepertinya tidak pernah.

Kisahpun berlanjut. Jalan-jalan di Chatuchak Park, Bangkok, Thailand. Walaupun sebetulnya kami tidak sengaja ketempat tersebut. Semua akibat kami salah membaca peta yang terpampang dipintu keluar MRT. Tujuan kami sebenarnya adalah menuju Chatuchak Weekend Market yang sebetulnya berada disebelah kanan kami, namun karena kami (saya lebih khususnya) salah membaca peta sehingga kami berjalan kearah kiri, dan melewati taman tersebut (baca: Chatuchak Park). Taman tersebut cukup nyaman untuk dinikmati karena memang terawat, indah dan bersih. Suatu saat ketika kami lagi enak berfoto-foto diatas pohon terdengar suara “Wok…wok…wok…”. Ternyata ada burung gagak bertengger. Wah, bukan cuma di Kuala Lumpur ternyata, di Bangkok pusat kota ada juga burung gagak.

Berikutnya. Di Wat Phrathat Doi Suthep. Tempat ini adalah kuil yang berada di gunung Doi Suthep di Chiang Mai, Thailand. Selain tempat ibadah bagi umat budha disana, tempat ini adalah salah satu obyek wisata yang paling dijual oleh pemerintah setempat. Banyak sekali wisatawan mancanegara yang datang ketempat ini. Untuk orang asli thailand tidak dikenakan biaya masuk, namun bagi wisatawan mancanegara dikenakan biaya masuk sebesar 30 Bath per orang. Sekali lagi, ketika enak-enaknya jalan-jalan disekitar kuil terdengar lagi suara “wok…wok…wok…”. Ada burung gagak lagi. Karena ini digunung dan dikuil, kami berpikir cukup dimaklumi ada burung gagak. Walaupun bingung juga apa hubungannya.

Selanjutnya. Sehabis puas berphoto dengan patung Merlion simbol negara Singapore, kami melanjutkan ketarget selanjutnya yaitu Raffles Landing Site yang berada tidak jauh dari sana. Disekitar sana berdiri bangunan-bangunan dengan gaya klasik yang cukup elegan dipadu dengan taman-taman dengan pepohonan yang cukup rindang. Dan betul, kami mendengar lagi suara burung gagak (dan tentu saja juga melihat batang moncongnya) ditaman dekat Anderson Bridge. Di Victoria Theatre kami mendengar dan melihat lagi. Dan didekat Raffles Landing Site juga.

Terakhir. Di Johor Bahru, Malaysia kami sepertinya mendengar lagi suara merdunya.

Pertama mungkin biasa saja. Namun karena sesering itu bertemu dengan burung gagak, kadang pikiran kami menjadi berfantasi macam-macam. Apakah kami membawa aroma kematian?

Gagak is everywhere or gagak is following us?

Being Nowhere

behind the screen Chiang Mai – Singapore backpacker’s trip

Ibarat dijatuhkan dari langit ditengah-tengah kota. Kota besar, diluar negeri, masih pagi gelap gulita lagi. Seperti orang buta. I am blind……

Begitulah kalau datang kesebuah kota tapi tidak mendarat di public transportation place (bandara, terminal, pelabuhan, stasiun, dll). Berangkat dari George Town, Penang menuju ibukota Malaysia, Kuala Lumpur naik bus dengan asumsi akan turun diterminal di KL sana. Dan dari terminal kita baru akan berburu angkutan menuju tempat-tempat yang ingin kita kunjungi. Kenyataan bercerita lain. Masih enak-enak tidur lelap di bus, kondektur berteriak “KL…KL…”. Penumpang bus pun bangun dan langsung bergegas turun. Dengan nyawa yang masih separuh (biasa ketika bangun tidur dengan cara dikagetin kecerdasan belum kembali), kitapun ikut-ikutan turun. “Wah sudah nyampe nih”. Turun dari bus yang menyambut supir-supir taksi. Lihat-lihat sekeliling, bukan terminal ini. Busyet, dimana ini. Kita diturunkan diperempatan besar, sepertinya dipusat kota, tapi memang tempat untuk men-drop penumpang sepertinya. Daripada kelihatan kaya orang bego, langsung saja angkat backpack dan pergi kepinggir jalan, tempat penumpang-penumpang lain menunggu jemputan. Bingung juga mau apa dan kemana. Mantos dan edo yang paling seger kondisinya, survey lokasi (survey toilet sebenarnya). Dan untunglah tidak jauh diseberang jalan sana ternyata memang ada terminal, walaupun bukan terminal utama seperti yang telah kita browsing sebelumnya.

Di Singapore lebih parah lagi. Kami dari Kuala Lumpur menuju Singapore naik bus. Penumpang di drop didepan semacam plaza. Dan kali ini lebih pagi lagi. Jam tangan menunjukkan pukul 4.00 AM waktu Singapore. Sebagai informasi, subuh disana pukul 5.34 AM. Suasana sepi sekali. Kalau dilihat-lihat dari poster-poster yang menempel memang sepertinya plaza ini pusat agensi bus Malaysia-Singapore. Tapi jam segitu mana ada orang. Dan sekali lagi, yang menyambut kami – dan penumpang lain tentunya – adalah para supir taksi. Sebagai backpacker kere seperti kami, taksi adalah hal yang tabu. Karena memang tidak punya uang berlebih tentunya. Jadi yang dilakukan tetaplah sama, angkat backpack, cari tempat untuk duduk yang nyaman dipinggir jalan, mengembalikan kecerdasan, dan beraksi. Sedikit paket bantuan hanyalah kertas print google map untuk secuplik wilayah singapore dan berharap tempat kami berada masih tercakup didalam peta tersebut. Ervan dan Purwo memulai perburuan lokasi untuk mengetahui apa nama jalan ini dan jalan sekitarnya untuk memudahkan mapping. Saya dan Son juga ikut membantu. Setelah ketemu kemudian tinggal melotot diatas print map dan mencari lokasi. Dan ketemu. Ternyata keberuntungan tidak cukup disitu. Lokasi kami saat itu tidak terlalu jauh dari hostel tempat rencana kami menginap. Cukup manusiawi untuk ditempuh dengan jalan kaki walaupun dengan gendongan dipundak.

Tidak ada keberuntungan didunia, semua memang adalah rencana-Nya

Stupid Indonesian

behind the screen Chiang Mai – Singapore backpacker’s trip

Tenang! Ini bukan hinaan untuk orang Indonesia. Karena saya sendiri adalah orang Indonesia asli dan sangat mencintai sekali negeri saya ini. Posting saya kali ini hanya untuk menceritakan – kalau istilahnya tukul – ke-KATROK-an kami selama dalam perjalanan backpacker kami yang pertama ini ke thailand, malaysia, dan singapore.

Mau tak mau harus diakui, secara perkembangan teknologi negara kita (baca: Indonesia) cukup tertinggal kalau dibanding negara tetangga kita (padahal kita paling suka membanding-bandingkan kita dengan negara-negara tersebut). Jadi kita berenam sebagai penghuni kota-kota besar di Indonesia dan juga masuk golongan terpelajar saja bisa kaya orang kampung masuk ke kota berada dikota besar di tiga negara tersebut.

Hari pertama di Thailand, kita mau jalan-jalan keliling Bangkok via kereta subway. Orang sana menyebutnya MRT (mass rapid transport). Busyet, di Indonesia mana ada yang beginian. Diloket pembelian otomatis melototlah kita ngeliatin gimana caranya kerjanya alat ini. Baca dan baca, ternyata simple, tinggal tekan tujuan di layar touch screen, masukkan uangnya, keluarlah koin koin hitam untuk tiket masuknya. Masalah berikutnya – dan ini masalah yang paling penting karena menentukan tingkat malu didepan orang – adalah tinggal gimana cara gunakannya untuk melewati palangan pintu didepan sana. Nasib sial. Jam sudah jam 8 malam. Tidak ada orang masuk yang lain (maksutya biar kita bisa liat dulu gimana caranya). Ahaaa….ada satu orang yang masuk. Ternyata cepat sekali. Sampai tidak keliatan diapakan saja itu koin. Ervan, Purwo, Edo kayanya sudah ngeh dan sukses melewati. Mantos juga sukses. Son yang dibelakangnya Mantos lihat kalau koinnya Mantos cuma ditempelkan dilayar display, ikut-ikutan. Tapi ternyata pintu tetap tidak mau membuka. Ditempelkan lagi, digeser-geser tetap tidak mau membuka. Pak Satpam sudah lirak-lirik saja. Saya yang dibelakang Son bantu baca keterangan. Ternyata ada magnetig pad untuk tempat menempelkan koinnya. Langsung saja saya tunjukkan ke Son kalo koin harus ditempelkan disana. Terbukalah pintu. Tinggal giliran saya. Koin saya tempelkan tapi tidak mau membuka pintunya. Padahal tadi Son juga begitu caranya. Coba lagi. Tempelkan lagi. Tetap tidak mau membuka. Tulisan di display ‘error bla..bla…’. Sudah keringat dingin, sampai-sampai tulisan di display tidak masuk otak. Coba pindah pintu sebelahnya. Tempelkan koin, pintu tetap tidak mau membuka. Pak Satpam akhirnya menghampiri. Sambil malu-malu anjing tanya ‘how to use this coin?’. Pak Satpam menyuruh untuk re-program lagi koinnya diloket. Setelah diprogram akhirnya bisa juga melewati pintu ‘shirothol mustaqim’ nya. Analisa dan analisa, sepertinya pas nunjukin Son tempat untuk menempelkan koinnya, koin saya tersentuh magnetig padnya jadi saya sudah dianggap sudah masuk. Mantos yang masih keukeh kalau dia tadi menempelkan dilayar display dan pintu tetap dapat terbuka sepertinya memang koinnya menyentuh magnetig pad terlebih dulu. Ah malunya. Mana ditas cangklong ada bendera merah putih lagi.

Pas keluar lain lagi cerita. Seharusnya koinnya kan dicemplungin. Entah Edo atau siapa saya lupa, koin tetap ditempelin. Dan dengan cueknya keluar. Nabrak lah dia, karena palangannya kan jelas tidak mau berputar. Apa gak diliatin orang-orang coba.

Lain MRT lain BTS. BTS ini adalah jenis skytrain. Kalau MRT tiketnya berupa koin, sedangkan BTS tiketnya berupa kartu. Sistem entrance-nya kartu dimasukkan dipinggir terus nanti kartu keluar dibagian atas, kartu diambil dan membukalah pintunya. Mantos setelah kartu dimasukkan tidak melihat kalau kartu keluar dibagian atas. Tunggu dan tunggu, pintu tetap tidak mau membuka. Sambil tolah toleh seperti orang yang kehilangan kecerdasannya, binggung juga dia. Sampai Pak Satpam menyuruh untuk menyabut tiket yang sudah nongol dibagian atas. Edo beda lagi. Melihat orang didepannya cuma menempelkan kartu, dia ikut-ikutan. Setelah ditempelkan dia menerobos pintu masuk dan menambraklah lagi dia karena pintu tidak mau membuka. Ternyata orang yang didepannya tadi menempelkan kartu smart card, semacam kartu berlangganan lah.

Dan masih banyak cerita katrok-katrok lainnya.

Seandainya berada di eropa atau amerika dan mengalami kemaluan semacam ini mungkin bisa dimaklumi karena anak kecilpun tahu kalau kita (baca: Indonesia) sudah tertinggal sangat jauh dibanding negara-negara barat. Tapi ini masih di asia tenggara. Negara tetangga lagi. Ibarat MU dibantai Liverpool 4-1 di Old Trafford lagi. Malu bukan main. Sekarang sudah jelas semuanya. Soal perkembangan teknologi dengan thailand, malaysia, singapore kita mungkin tertinggal 10-20 tahun. Tiga negara tersebut sudah punya sistem subway yang bagus dan menjangkau tempat-tempat strategis. Belum lagi sistem skytrain yang ruwet yang hampir menjangkau seluruh sisi kota. Di Jakarta, paling banter KRL, kopaja ke kopaja, angkot ke angkot. Jauh….jauh….

Tapi jangan salah, soal keindahan alam, negara lain tidak ada apa-apanya…