Merapi : Perjuangan antara Hidup dan Mati kami

Merapi 07-08 Juni 2008

Merapi 2

Gunung Merapi merupakan salah satu gunung teraktif di dunia dan juga di Indonesia. Gunung ini tidak henti2nya mengepulkan asap belerang dari dapur kawahnya. Gunung ini memiliki tipe letusan berupa lelehan asap berat yang sering di kenal dengan nama Wedhus Gembel karena warnanya yang putih tebal dan bergelombang. Saat terjadi letusan, suhu wedhus gembel bisa mencapai 3000 derajat celcius. Gunung Merapi memiliki ketinggian 2.959 mdpl dengan puncak tertinggi diberi nama Puncak Garuda. Pendakian dapat dilalui melalui 3 jalur yaitu Jalur Selo (Boyolali), Jalur Babakan (Magelang) dan Jalur Kaliurang (Djogja). Letusan terakhir Gunung Merapi terjadi pada tahun 2006 yang menewaskan beberapa orang tim SAR yang sedang mengamati aktivitas dari gunung ini dari dekat. Juru Kunci gunung Merapi yang terkenal adalah Mbah Marijan, dimana beliau dipercaya memiliki hubungan dekat dengan penunggu Gunung Merapi dan juga Nyi roro Kidul. Walaupun para peneliti ilmiah sudah memastikan gunung Merapi dalam keadaan Waspada, namun Mbah Marijan tetap kekeh pada pendiriannya bahwa gunung tidak akan meletus. Dan hasilnya pun benar, gunung Merapi perlahan lahan berhenti mengeluarkan wedhus gembelnya. Pendakian kali ini ber-4 dengan kompisisi peserta yaitu Saya, Chimot, Edo, dan Purwo. Kami memutuskan untuk naik melalui Jalur Selo Boyolali. Menurut informasi, Jalur Kaliurang sampai saat ini belum bisa di lewati karena tertutup lahar pasca letusan terakhir gunung ini. Pendakian ini sangat spesial buat saya pribadi, karena ini sekaligus merupakan perayaan ulang tahun saya yang ke-25 yang jatuh pada tanggal 06 Juni.

Perjalanan menuju Selo

Merapi 5Perjalanan kami mulai dari bekasi, markas besar kami bertiga Saya, Edo dan Purwo. Sementara Chimot berangkat dari Surabaya sendirian. Kami janjian ketemu di Terminal Bus Surakarta atau sering di kenal dengan nama Solo. Dari bekasi lagi2 kami memilih naik kereta api favorit kami yaitu Senja Utama Solo. Perjalanan malam kembali kami tempuh dari bekasi menuju Stasiun Solo Balapan. Sabtu jam 07.00 pagi kami bertiga sampai di Stasiun Kerete Api Solo Balapan. Sementara Chimot sudah tiba lebih dulu di terminal Bus Surakarta. Dari Stasiun Solo Balapan kami naik becak menuju terminal Bus. Di Masjid dalam terminal akhirnya kami ber-4 bertemu dan merencanakan perjalanan selanjutnya. Tak lama kemudian kami memutuskan untuk segera berangkat ke Boyolai naik Bus jurusan Semarang.Merapi 3 Sampai di terminal Boyolali pukul 09.00 pagi, kami segera menuju tempat favorit kami untuk makan. Soto khas Boyolali menjadi pilihan utama kami, soto yang kami nikmati kala kami turun dari pendakian Merbabu. Setelah sarapan pagi, kami melanjutkan perjalana ke desa Selo naik Bus mini jurusan Selo. Perjalanan kurang lebih 1 jam akhirnya kami sampai di Gerbang Pendakian Merapi. Sebelum turun kita akan di tanyai kenet untuk turun di gerbang Merbabu atau Merapi. Jarak antara Gerbang Merbabu dan Merapi tidaklah jauh. Gerbang merbabu akan lebih dulu kita lewati sebelum sampai ke gerbang Merapi. Setelah turun dari bus, kami berjalan sekitar 500 meter menuju Pos Pendakian. Sampai di ujung Aspal kami temui warung nasi dan tempat peristirahatan yang sejuk. Dari sini kita bisa bersantai sambil menikmati Gagahnya gunung Merbabu di hadapan kita. Kami pun mencoba merasakan nikmatnya masakan pegunungan sebelum memulai pendakian.

Hadiah Sunset di balik Gunung Merbabu

Merapi6Perjalanan kami mulai sekitar jm 1 siang setelah kami menunaikan Sholat dzuhur. Perjalanan menuju puncak sebenarnya dapat di temppuh dalam waktu kurang lebih 6 jam, tapi kami sengaja berjalan santai untuk menghemat stamina. Ladang penduduk adalah pemandangan pertama yang kami nikmati sepanjang perjalanan selama 1 jam. Setelah itu kami mulai memasuki hutan Pinus dan tumbuhan pendek. Perjalanan berupa trek terbuka, sinar matahari terus mengiringi kami dari sela2 pepohonan. Sesekali kami berhenti menikmati pemandangan Gunung merbabu yang di selimuti awan senja yang indah sekali. Perjalanan menanjak terjal kami lalui sampai di Pos 2. Sebelum mencapai Pos 3, kami berhenti sejenah di tengah perjalanan untuk menyaksikan Sunset yang mengagumkan dibalik gagahnya Gunung Merbabu. Setelah asyik foto2, kami segera melanjutkan perjalanan menuju Pos 3 untuk bermalam disana. Sekitar jam 7 malam kami telah sampai di Pos 3, kami segera mendirikan tenda disini. Untuk menggapai Puncak dari Pos 3 memerlukan waktu sekitar 3 jam perjalanan malam. Setelah mendirikan tenda, kami menyiapkan makan malam dan lilin ulang tahun saya yang ke-25. Pemandangan di depan kami adalah hamparan permata daratan kota Boyolali. Sedangkan di atas kami terhampar gugusan galaxi Bima Sakti yang luas, sungguh suasana malam yang menabjubkan. Karena tidak ingin menyia nyiakan pemandangan indah ini, sayapun tidur di luar hanya beralas matras dan sleeping bag. Tidur beratapkan bintang diangkasa sungguh membuatku kagum akan kebesaran Tuhan. Alarm jam 2 pagi berbunyi, kami segera bangun dan berkemas untuk memulai pendakian ke puncak.

Pasar Bubrah & Puncak Garuda

Kami mulai melakukan perjalanan jam setengah 3 pagi. Pos selanjutnya yang kami tuju adalah pasar Bubrah, yaitu pos terakhir sebelum puncak. Pos Pasar Bubrah merupakan pertemuan jalur dari 3 arah, yaitu dari Selo, Babakan dan Kaliurang. Pos ini di tandai dengan banyaknya batu besar berserakan di sana sini yang menyerupai pasar yang amburadul (baca: bubrah). Di Pos ini banyak sekali pendaki yang mendirikan tenda dan berkemah sebelum mendaki ke Puncak. Area yang sangat luas dan terlindung dari Bebatuan besar adalah tempat yang bagus untuk mendirikan tenda. Kami sampai di sini pukul 4 pagi. Terlalu dini untuk melanjutkan perjalanan ke puncak karena masih terlalu gelap. Kami beristirahat sambil bercanda tawa di balik bebatuan besar untuk membunuh waktu. Pukul setengah 5 pagi kami mulai melanjutkan perjalanan. Kami adalah rombongan pertama yang mendaki ke puncak, mungkin kami terlalu bersemangat untuk melihat Sunrise. Perjalanan dari Pasar Bubrah menuju puncak berupa bebatuan dan kerikil tajam. Selain itu trek yang di lalui tidaklah kelihatan di malam hari karena bebatuan yang mudah bergeser. Pendaki harus berhati-hati dalam melakukan pendakian jika angin berhembus kencang. Pendakian menanjak terjal sangat beresiko untuk dilakukan di malam hari jika cuaca sedang tidak bersahabat. Selain itu pendaki lebih baik mengenakan Masker untuk melindungi dari bau asap belerang yang menyengat dan keluar dari sela2 bebatuan sepanjang perjalanan. Kami waktu itu tidak mengenakan masker, akhirnya kami sering batuk2 karena tidak tahan dengan asap belerang kami hirup. Perjalanan selama 1,5 jam kami lalu dengan penuh perjuangan berat, akhirnya kami sampai di Puncak Merapi. Tak lama kemudian Sunrise muncul dari ufuk timur dan hari perlahan2 mulai terang. Rasa puas dengan sedikit rasa khawatir menghinggapiku, kami benar2 berada di dekat kawah dari salah satu gunung teraktif di dunia. Setelah puas berfoto2 dengan Sunrise, kami segera menghampiri kawah Merapi yang terus menerus mengeluarkan asap tebal tersebut. Dan puncaknya adalah memanjat Puncak Garuda yang berada persis di depan kawah Merapi. Dari puncak Merapi kami bisa melihat gugusan gunung Merbabu yang sangat dekat dengan kami, gunung Sumbing dan Sundoro yang berada di belakang merbabu dan gunung lawu yang mengintip dari tenggara. Setelah puas mengekplorasi semua sisi puncak Merapi, kami merencanakan turun melalui jalur Kaliurang. Hanya bermodal buku petunjuk pendakian yang di bawa Chimot, kami mencoba meraba2 jalur Kaliurang yang katanya sudah tertutup itu. Dari sinilah awal perjuangan hidup dan mati kami.

Merapi9

Merapi8

Merapi10

Merapi11

Merapi Kecil

Jalur Kawah => Antara Hidup dan Mati kami

Merapi12Dengan penuh optimisme tinggi, kami segera mengambil arah melintasi puncak gunung. Meninggalkan puncak dari sisi sebelahnya yaitu ke arah timur, mencari tanda2 jalur menuju Kaliurang. Sejenak kami merasa menemukan jalur yang benar karena adanya prasasti2 berupa tulisan2 dari para pendaki dan juga seismograf yang berdiri tegak di atas gundukan tanah. Semakin jauh kami berjalan, semakin jauh pula kami meninggalkan puncak Merapi. Rasa optimis masih saja menghinggapi kami, sampai pada akhirnya kami tidak menemukan jalur ataupun tanda2 pendaki melintasi jalur yang kami lalui. Sejenak kami berhenti dan berdiskusi mempertanyakan jalur yang kami lalui. Terlanjur basah ya sudah mandi sekali, itulah mungkin yang ada di dalam hati kami masing2. Jalur menuruni bukit pasir bebatuan di samping tebing curam yang hampir runtuh kami lewati bersama. Dan selanjutnya salah seorang dari rekan kami yaitu Edo memisahkan diri dan berjalan jauh di samping kami. Kami bertiga berharap jalur yang kita lewati merujuk pada jalur yang sama. Tapi fakta berkata lain, Edo terpisahkan bukit pasir dan tebing batu yang tinggi oleh kami. Kami ber-3 terlanjur menuruni tebing dan jurang yang dalam dan tidak memungkinkan lagi untuk kembali ke atas bukit. Perasaan was2 di iringi dengan detak jantung yang keras mulai menghantui kami. Kami lihat di depan sana hamparan tanah hijau yang terasa amat dekat dengan kami, ternyata itu hanyalah fatamorgana. Kenyataanya jauhnya bukan main, ini benar2 jalur yang sesat buat kami.

Selamat dari Tebing Curam

Merapi13Tantangan pertama kami adalah menuruni tebing yang sangat curam dengan kemiringan lebih dari 45 derajat. Saya waktu itu sebagai pimpinan rombongan dan berjalan paling depan. Ketika saya sedang merayap menyisir tebing yang labil dengan pijakan kaki yang minim, tiba2 lempengan batu yang saya pegangi lepas dari tebing dan goyah. …Jantungku benar2 berdetak kencang….Ya Allah………selamatkan nyawa hambamu ini (Saya terus berdoa dalam hati dan sesekali menyebut Asma Allah). Akhirnya saya menyandarkan dada saya ke tebing tersebut dan perlahan lahan melepaskan kaitan tas ransel dari tangan saya………Glodak dag dag dag…dug dag duk……Tas yang ada di punggung saya jatuh bertubi-tubi ke bawah tebing sampai kelihatan sangat kecil. Saya benar2 tidak bisa membayangkan jika saya tadi jatuh dari tebing tersebut……kemungkinan saya tangan kepala dan kaki saya akan terpisah dan berserakan di bawah sana. Dengan penuh hati-hati saya mencoba melangkah perlahan-lahan. Sementara kedua teman saya Chimot dan Purwo masih jauh di atas saya….saya mencoba teriak2 untuk memberitahu mmereka akan kemungkinan bahaya yang menimpa. Sesampainya di bawah saya segera menghampiri tas saya yang telah robek sana sini, sungguh………..Tuhan telah menyelamatkan nyawaku sekali ini. Saya di bawah melihat kedua teman saya sampai merintih2 memohon mereka menjatuhkan tas ranselnya sebelum melewati tebing tersebut….Saya benar2 tidak tega melihat merka dari bawah sini yang sangat mengerikan. Akhirnya satu persatu tas mereka di jatuhkkan dan mereka perlahan-lahan menghampiri saya. Kami benar2 bersyukur atas keselamatan kami ber-3 dari tantangan maut ini. Setelah melewati tebing curam, kami masih dihadapkan oleh lautan pasir yang luas.

Selamat dari Lautan Pasir

merapi20Saya mencoba mencari jalan untuk turun dan menggapai hamparan hijau yang masih sangat jauh dari mata kami. Akhirnya saya menemukan turunan pasir yang cukup panjang yang berakhir di lautan pasir bawah, tempat berkumpulnya bebatuan yang jatuh dari atas bukit. Kami menuruni dengan saling berpegangan satu sama lain selama kurang lebih 15 menit dengan cara meluncur jongkok. Sesekali kami harus berhenti menghindari bebatuan dari atas yang jatuh mendahului kami. Sesampainya di lautan pasir, saya terkejut dengan kondisi tas kecil saya yang tebuka. Setelah saya lihat isinya…….yaa ampuun…….Hape saya dan Hape Chimot yang dititipkan ke saya telah tiada. Kemungkinan jatuh pada saat kami meluncur di jalur pasir tersebut. Lebih baik kehilangan harta daripada kehilangan nyawa, itulah setidaknya yang ada dalam pikiran kami. Waktu sudah semakin siang, angin berhembus kencang menerpa bukit pasir yang sesekali menjatuhkan bebatuan dari atas dan membahayakan kami. Kami terus berjalan turun menyusuri lautan pasir nan luas sampai pada akhirnya langkah kami terhenti oleh Jurang yang sangat dalam tepat di hadapan kami. Chimot mencoba menengok seberapa dalam tebing di hadapan kami, dan alangkah terkejutnya saya ketika Chimot mmerengek meminta tolong karena kakinya gemetar setelah melihat tebing yang sangat dalam di hadapanya persis. Satu langkah menuju kematian, mungkin itu yang bisa kami katakan. Kaki Chimot menginjakkan batas pasir terakhir yang berada di bibir tebing curam, dan dia sama sekali tidak bisa bergerak ke atas. Kemungkinan dia akan terperosot ke jurang yang dalam jika salah menginjakkan kaki. Saya dan purwo sangat cemas dan mencoba menenangkan sahabat kami tersebut. Hingga Akhirnya purwo berhasil menari chimot dari tempatnya. Alhmadulilah……..kami berhasil selamat dari tantangan maut yang kedua. Sementara kami mencemaskan keselamatan Edo yang terpisah dan entah berada dimana. Kami mencoba menghubungi Hapenya tetapi sinyal yang ada dan tiada membuat hubungan komunikasi kami sia-sia.

Diantara Tebing Runtuh

Setelah lepas dari jurang yang dalam, Chimot berusaha mencari jalan keluar dari tempat menyeramkan ini. Setelah memutar ke kiri, kami mendapatkan jalur yang lumayan untuk di turuni meskipun kami tetap harus melemparkan tas kami ke bawah sebelum menuruni tebing ini. Kami meloncat dari tebing setinggi 3 meter satu persatu, dan saya yang terakhir di bantu purwo dari bawah untuk bisa turun. Perjalanan kami lanjutkan menelusuri jalan yang semakin tidak jelas ini. Sampai pada akhirnya kami menemukan rintangan yang tidak mungkin terelakkan, yaitu tebing runtuh. Tebing ini sangat labil karena terbentuk dari gundukan pasir dan tanah yang sangat keropos, kami tidak berani menyentuhnya saat menuruninya. Dan yang mengerikan lagi, kami benar2 berada di antara tebing yang rawan runtuh. Saya benar2 ingin cepat2 meninggalkan tempat ini saat sedang menunggu teman2 yang sedang berjuang menuruni tebing dengan sangat hati-hati. Jika angin berhembus kenccang, kemungkinan kami akan terkena reruntuhan batu besar dari atas tebing. Sungguh mengerikan…………….

Berfikir 30 Menit untuk Tantangan terakhir

Merapi18Setelah berhasil melewati 3 tantangan besar, kami di hadapkan dengan tantangan yang benar membuat kami berfikir ekstra. Kami dihadapkan dengan turunan sangat curam tanpa pijakan sedalam kurang lebih 20 meter. Di bawah sana menunggu batu besar yang siap menghantam kepala kami jika kami tergelincir saat turun. Sementara tas kami sudah terlebih dulu kami jatuhkan ke bawah. Di samping kanan kami terdapat bukit pasir yang licin dah curam, sesekali angin bertiup maka bebatuan dan pasir kerikil runtuh di samping kami. Sesaat kami berfikir bagaimana bisa menuruninya, di depan sana bukit pasir yang sangat besar runtuh tertiup angin. Di samping kiri kami adalah tebing batu yang sangat mengerikan, sepertinya sesaat lagi akan runtuh dan menimpa kami. Setengah jam saya berfikir bagaimana bisa turun dari sini, sampai Chimot mengeluh karena mengantuk menungguku memecahkan rintangan ini. Saya harus memilih batu pijakan dan membersihkanya dari pasir yang menutupi agar tida licin waktu di pijak. Dapat separoh perjalanan, tidak ada lagi batu pijakan untuk kami. Akhirnya saya nekat untuk beraksi seperti Jacky Chan dalam filmnya yang menggunakan kaki dan tangan untuk menopang badan kami diantara lempengan batu di kanan kiri kami. Alhasil kami bisa sampai di bawah dengan selamat……….Alhamdulilah banget bisa melewati tantangan terakhir. Puji syukur benar2 kami panjatkan pada Allah yang telah menunjukkan pada kami jalan yang benar. Waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore, perjalanan mengarungi jalur kawah sunggu merupakan ekspedisi terbesar kami sepanjang sejarah mendaki gunung. Setelah 3 jam perjalanan kami sampai dippemukiman penduduk. Sesampai di Pos rasa jengkel, marah dan senang meluap2 pada diri kami setelah melihat teman kami Edo sudah berada di hadapan kami. Makian dan rasa marah kami lampiaskan disini,

Kembalinya Quartet di Babakan

merapi 21Kami segera bergegas untuk menggapai hamparan hijau yang semakin terlihat dekat di depan kami. Sampai juga kami disamping bukit hijau itu, kami berusaha mencari jalan dengan menjelajah diantara rumput dan pepohonan. Sesampainya di atas bukit akhirnya kami menemukan Jalur pendakian, yaang tidak lain dan tidak bukan adalah jalur pendakian dari arah Babakan Magelang. Setelah berjalan selama kurang lebih 3 jam, akhirnya kami sampai juga di Pos Babakan. Sesampainya di sana, kami bertiga terkejut bercampur jengkel, marah dan senang melihat teman kami Edo telah ada di hadapan kami. Umpatan, makian dan kemarahan kami lampiaskan terhadap Edo walaupun akhirnya kami merasa senang bisa berkumpul kembali dalam keadaan yang sehat. Setelah membersihkan badan dan Sholat Maghrib, kami melabjutkan perjalanan turun ke Muntilan menggunakan jasa Ojek. Sesampainya di Muntilan kami segera mencari bus jurusan Magelang. Tiket kereta api senja utama jogja telah hangus, akhirnya kami ber-3 (Saya, Edo dan Purwo) memilih ke semarang untuk mengejar Kereta Api Gumarang dari Surabaya. Sementara Chimot melanjutkan perjalanan ke Surabaya menggunakan Bus Eka. Berakhir sudah perjuangan kamis setelah samapi di rumah masing2 di keesokan harinya. Dan kenangan besar itu tidak akan pernah terlupakan dari ingatan kami ber-4………….

Puji Syukur yang sebesar-besarnya kami panjatkan pada Allah SWT atas keselamatan dalam pendakian kali ini…………..

DUFAN (Dunia Fantasi) – A Place where you DO FUN

27 Juni 2009 adalah pertama kali aku mengunjungi Dufan, suatu taman hiburan dimana terdapat banyak permainan dan pertunjukan.  Pada kesempatan ini aku pergi ke sana dalam rangka jalan-jalan bersama rekan satu kerjaan. Pagi-pagi sekitar jam 7 aku berangkat ke tempat penjemputan. Sesampainya disana ternyata tak ada bis yang dijanjikan dan tak ada teman-teman yang rencananya akan berangkat bersama. Aku putuskan untuk menghubungi koordinator bis, dan ternyata bis barus sampai cibitung dan akan ke cikarang, baru kemudian menjemput aku di bekasi barat. Sial pikirku, kenapa bilang aku harus standby jam 7. Daripada “ngentang” disitu aku pergi ke tempat kos temanku. Di situ aku main PS sampai koordinator bis menelpon, baru kami berangkat ke tempat penjemputan tadi. Terdengar sindiran dari beberapa orang, tapi ku acuhkan saja.

Sesampainya di sana kami foto bersama dan kemudian mendengarkan sambutan dari manajer kami. Begitu selesai kami berpencar.

Saat liburan sekolah seperti ini tempat-tempat wisata pasti ramai tak terkecuali dufan. Loket belum buka tapi sudah banyak orang yang antri, tak kalah dengan antrian sembako loh. Untunglah aku sudah disediain tiket oleh panitia, jadi ga perlu antri beli tiket. Tapi hal ini bukan berarti aku bebas dari antrian, karena di pintu masuk antrian terjadi. Di atas antrian ada semacam penyemprot air untuk penyejuk. Kami tampak seperti tanaman disemprot pestisida. Banyak orang main serobot jadi pertahankan barisan anda (Menurutku salah satu keburukan warga Indonesia adalah tak bisa antri dengan sendiri, harus diatur petugas. Meski tak semua seperti ini). Harga tiket rombonganku adalah Rp. 141.000 termasuk pertunjukan police academy. Menurut ketua panitiaku harga normal adalah sekitar Rp.212.000. Harga ini karena bertepatan dengan liburan sekolah, untuk hari biasa harga tiket normal hanya sekitar Rp.100.000 saja.

Untuk pengalaman pertama ini aku rencanakan pemanasan saja tanpa naik wahana yang super extreme seperti Kora-kora, Halilintar, dan tornado (kurencanakan 2nd visit naik wahana ini. Sebenarnya aku masih mengumpulkan keberanian  (^_^)v  hehehe)

NIAGARA

Ini adalah wahana pertama yg kunaiki. Disini aku naik sebuah perahu yang berjalan melewati gua dimana ada patung Indian di dalamnya dan semprotan air yang membuat kaget dan basah. Perahu kemudian naik dengan bantuan eskalator, kemudian meluncur kebawah dengan kemiringan 50 derajat (mungkin). Aku duduk paling depan dan saat meluncur aku berteriak “OOOOOOAAAAA”  karena rasa ngeri dan geli (bukan karena hal lucu) di perut.

Hati-hati dengan bawaan anda yang tak tahan air. Jadi bawalah tas kresek untuk melindunginya.

ALAP-ALAP

Alap-alap adalah nama salah satu jenis burung, kalau tidak salah nama lain dari elang jawa. Wahana ini adalah roller coster mini. Bagiku yg pertama kali naik roller coster, alap-alap cukup memicu adrenalin, aku beteriak-teriak seperti orang gila. Saranku duduklah disebelah kanan. Mengapa? Karena banyak belokan ke kanan yang membuat anda terdorong ke kiri, dan bila sebelah kanan anda bertubuh lebih besar dari anda, maka anda akan tergencet olehnya. Hahahaha.

ARUNG JERAM

Disini aku basah kuyub lebih parah dari niagara, selama perjalanan ku angkat tasku diatas kepala karena takut kameraku basah. Dalam wahana ini aku duduk pada perahu berbentuk lingkaran. Perahu ini akan melintasi arus deras seperti disungai, akan tetapi ga ada batu-batu yang membahayakan. Lumayan seru deh.

Di Perahu ini kebetulan aku bersama satu keluarga pengunjung, tampaknya baru pertama kali juga naik wahana ini. Si ibu ingin memangku anaknya, karena takut ada apa-apa. Untunglah petugas dapat meyakinkan bahwa duduk dikursi aman karena ada sabuk pengamannya. Di tengah  perjalanan, mulailah perahu terombang-ambing, air masuk ke perahu sehingga semua basah kuyub. Si ibu mengomel pada si bapak karena ga bilang kalau disini akan basah kuyub katanya”Aduh piye bapak iki kok ngajak numpak iki. Teles kabeh awakku pak”, si bapak tertawa “ hahaha, yo ngene ki sing jenenge arung jeram bu”. Akhirnya pada ujung perjalanan mereka kesulitan membuka sabuk pengaman, aku bantu mereka membukanya -  Sabuk pengamannya mirip dengan yang dipakai pada pesawat terbang.

OMBANG-AMBING

Setelah istirahat sebentar, temanku mengajak ke sebuah wahana berbentuk seperti piring. Kupikir ini permainan ringan. Dan ternyata ini seperti permainan ombak banyu yang biasa ada di pasar malam di desa-desa. Sambil berputar seperti komedi putar, wahana ini membuat anda naik turun yang tinggi sekali, seperti naik perahu yang dihantam ombak setinggi 3 meter kali ya. Lumayan asik bagiku.

BOKU DOKU (BOMBOM CAR)

Ada dua jenis bombom car di dufan, satu untuk anak kecil, dan satu lagi untuk orang dengan minimal tinggi 125cm. Jika keluraga anda (anak) tidak lebih tinggi dari itu lebih baik jangan antri disini, karena petugas tidak akan memperbolehkan anda naik, meskipun anda bilang anda akan menemani keluarga anda itu.

Cara mengendalikannya tidak sama dengan mobil biasa. Di bombom car ada pedal gas dan setir saja, tidak ada rem. Untuk mundur putar kemudi anda 180 derajat dari keadaan maju  ke arah kiri atau ke kanan. Untuk kembali maju lepaskan setirnya, setir akan berputar sendiri sehingga anda dapat maju lagi. Pakailah sabuk pengaman karena waktu bertabrakan dengan yang lain anda akan terpental.

Anda ingin mengalami rasa tabrakan mobil? Naiklah bombom car ini. Hahaha

PERANG BINTANG

Setelah makan siang di super bento aku dan teman-temanku memutuskan bermain perang bintang. Terlihat antrian panjang, tapi ternyata setiap kali masuk cukup banyak, sehingga tak perlu lama antri. Memasuki pintu, kemudian kami menyusuri lorong-lorong yang mirip kapal startrek. Di sini tampak seolah-olah kapal telah diserang alien. Setelah itu ada pesawat2an kecil berpentuk lingkaran dimana di setiap sisi ada pistol untuk menembak. Satu pesawat kira-kira untuk 8 orang.

Awalnya kupikir ada boneka-boneka alien berterbangan yang harus ditembaki. Ternyata disini anda harus menembaki apapun dimana lampu / LED hijau berada, baik dinding, boneka, dan lainnya. Jika lampuu berubah menjadi warna merah, ini berarti telah tertembak. Anda bisa berlomba bersama teman-teman anda untuk memperoleh poin tertinggi. Dalam pesawat yang kutumpangi aku mejadi juara dengan poin 15700.

EXTREME LOG

Inilah wahana dimana anda akan menonton bioskop dan kursi anda dapat bergerak menyesuaikan dengan yang ditampilkan dilayar. Cukup banyak peminat wahana ini, aku harus mengantri selama  1,5 jam. Sambil mengantri aku membaca novel berjudul “Botchan” diiringi oleh musik live show  di panggung hikayat.

Pada film ini anda dikisahkan sebagai potongan kayu yang akan dikirim ke himalaya. Kayu akan melewati jalur-jalur extreme. Orang-orang yang menonton bersamaku berjerit-jerit, mungkin karena terlalu mengkhayati filmnya. Sedangkan aku tertawa melihat mereka menjerit.

POLICE ACADEMY STUNTMAN SHOW

Itulah wahana-wahana yang aku naiki, waktu menunjukkan pukul 16.30, kami harus segera menuju police academy untuk menyaksikan aksi stuntman dengan akrobatik motor dan mobil. Sesampainya disana, kami terlambat untuk menyaksikan sesi ke-2, sehingga kami harus menunggu selama satu jam untuk sesi ke-3.

Akhirnya pintu masuk di buka, orang-orang pun masuk. Aku duduk di atas bersama teman-temanku, keputusan yang kusesali kemudian.

Dua puluh menit berlalu, acara belum juga dimulai, penonton mulai resah. Tiba-tiba muncul sosok polisi dari salah satu bangunan di arena pertunjukan. Dia berlari ke arah penonton dengan meniup peluit “ Prit.. prit.. prit”. Dia menghibur para penonton dengan lawakannya yang lucu. Pre opening ini cukup menghibur untuk menghilankan keresahan para penonton.

Musik terdengar dan muncul police-police cantik menari, tanda acara dimulai. Aku tak memperhatikan jalan ceritanya. Yang membuat menarik adalah mobil-mobil toyota yaris dan BMW yang melakukan drift seperti di game need for speed underground. Mobil polisi BMW yang berjalan dengan dua roda, kukira ada semacam penyangga di belakangnya, tapi ternyata tidak ada. Ada juga motorcross yang melakukan jumping.

Yang sedikit membuatku geleng-geleng kepala adalah sikap para penonton yang kurang menghargai. Pada waktu pengenalan para aktor/artis penonton mulai meninggalkan tempat tanpa ada tepuk tangan. Padahal masih ada sedikit aksi mobil dan motor. Yang terjadi adalah para penonton berdiri tak bergerak dan menutupi pandanganku dan memaksaku ikut berdiri untuk melihat. Terlintas dipikiranku bahwa negara ini cocoknya diperintah secara diktator, benar memang kalau demokrasi itu jelek karena membuat rakyat manja.

Aku berencana untuk ke dufan lagi, entah kapan dapat ke sana lagi.

Merbabu : Meniti Jembatan Setan

Jalur Pendakian MerbabuMerbabu 03-04 Nopember 2007

Gunung Merbabu terletak di Provinsi Jawa tengah dengan ketinggian 3,142 mdpl. Merbabu adalah tetangga dekat dari Gunung Merapi. Jika kita melihatnya dari kota Klaten, gunung Merapi dan Merbabu tampak seperti gunung kembar yang saling berhimpit kakinya. Lain halnya gunung Merapi yang sangat aktif, Merbabu sudah lama tertidur dan tidak pernah terbangun sampai sekarang. Gunung merbabu memiliki 2 puncak yaitu Puncak Syerif ((3.119 mdpl) dan Puncak Kenteng Songo (3.142mdpl). Jalur pendakian favorit ada dua yaitu Jalur Selo dari Boyolali dan Jalur Wekas dari Magelang. Pendakian saya kali ini bersama dengan 3 orang teman saya yang akhirnya kami sebut Quartet, yaitu Saya, Chimot, Purwo, dan Edo. Pendakian kami mulai dari Jalur Wekas dan kami akhiri melalui Jalur Selo.

Perjalanan Menuju desa Wekas

Merbabu9Saya beserta 2 orang teman saya Purwo dan Edo berangkat dari Bekasi hari jum’at naik kereta api Senja Utama Solo dan turun di Stasiun Tugu Djogja. Sementara teman saya Chimot berangkat dari Surabaya menuju ke Magelang menggunakan Bus Eka. Kami janjian ketemu di terminal Bus Magelang untuk keesokan harinya. Waktu itu kami ber-3 harus rela duduk di dekatn sambungan gerbong kereta karena kami kehabisan tiket duduk. Walaupun perjalanan kami bertiga terasa tidak nyaman tapi kami merasa enjoy karena kebersamaan. Perjalanan 8 jam menuju Djogja kami lalui, akhirnya jam 6 pagi kami sampai di Stasiun Kereta Api Tugu Djogja. Kami segera membersihkan badan di mushola untuk mengembalikan kesegara tubuh kami setelah semal tidur ala kadarnya. Setelah selesai membersihkan badan, kami menikmati sejenak sarapan pagi di belakang stasiun Tugu. Hangatnya Soto khas Djogja dan gorengan di warung angkringan terasa sangat nikmat diiringi hujan gerimis yang rintik2. Setelah perut terisi penuh, kami segera melanjutkan perjalanan ke Terminal Magelang.Merbabu2 Kami naik bus kopata jurusan terminal Jombor dan selanjutnya oper Bus jurusan Jogja-Magelang. Setelah melakukan 2 jam perjalanan lebih, kami sampai di terminal Bus Magelang. Waktu baru menunjukkan pukul 10 pagi. Hujan gerimis terus menerus mengiringi perjalanan kami. Sementara Chimot masih dalam perjalanan antara Jogja dan Magelang. Setelah satu jam kami menunggu, akhirnya sahabat kami pun datang kehadapan kami juga. Satu jam kemudian kami melanjutkan perjalanan menggunakan bus jurusan Kopeng dan turun di desa Wekas. Setelah melakukan perjalanan selama 45 menit kami sampai di desa Wekas. Sebelum melakukan pendakian, kami menyempatkan diri untuk makan siang di warung seberang gerbang desa Wekas. Udara dingin dan hujan gerimis yang tak kunjung berhenti menambah nikmat masakan sederhana warung kampung tersebut. Setelah kenyang, kami segera berjalan masuk melalui gerbang desa wekas menuju Pos perijinan Pendakian. Pos perijinan berada cukup jauh dari gerbang desa Wekas, kami harus bejalalan sejauh kurang lebi 1 km. Sepanjang perjalanan ke Pos kami harus mengenakan jas hujan karena gerimis lebat terus mengguyur kami. Akhirnya kami menemukan Pos Perijinan setelah setengah jam berjalan, segera kami melakukan registrasi dan memulai Pendakian yang sesungguhnya.

Pos 2

Jalur Wekas merupakan jalur favorit para pendaki yang suka melakukan pendakian cepat. Pendaki akan disuguhi trek yang terus menerus menanjak terjal dari awal hingga akhir. Tempat favorit untuk berkemah ada di Pos 2 yang memiliki area luas dan terdapat sumber mata air yang bersih. Perjalanan awal kami lalui melewati pemukiman penduduk yang mengarah ke batas hutan. Jarak antara batas hutan dengan pemukinam penduduk ini cukup dekat, hanya berjalan beberapa menit kita sudah memasuki hutan pinus. Perjalanan terjal langsung menyambut kami sampai ke Pos 2. Untuk mencapai Pos 2 kita memerlukan waktu kurang lebih 3 jam. Kami sampai di Pos 2 jam setengah 6 menjelang matahari tenggelam. Karena kondisi cuaca yang mendung, sunset pun tidak bisa kami nikmati dengan sempurna. Sesampainya di Pos 2 kami langsung mendirikan Tenda dan mencari sumber Air untuk menambah bahan bahan bakar kami. Udara disini sudah terasa dingin walaupun ketinggian belum seberapa. Kami mencari dahan2 dan ranting kering untuk membuat perapian. Belum sempat api unggun menyala dengan sempurna, hujan mengguyur kami lagi. Kami segera masuk ke Tenda dan menunggu waktu yang tepat untuk melanjutkan perjalanan lagi. Rencananya jam 1 kami melanjutkan perjalanan ke Puncak. Kami tidur “umpek-umpekan” dalam tenda yang berkapasitas 3 orang tapi di paksa untuk 4 orang. Walaupun demikian, kami dapat tertidur dengan nyenyak sampai alarm jam 1 pagi berbunyi. Kami segera bangun dan berkemas untuk melanjutkan perjalanan menggapai Puncak Kenteng Songo yang masih jauh.Merbabu 1

Merbabu3

Pos Geger Sapi – Jembatan Setan

Jam 2 pagi kami mulai melakukan perjalanan malam, cucaca mendung masih mengiringi kami. Jalur yang lebih terjal langsung menyambut kami. Tak jarang kami harus merangkak dan meanjat bebatuan terjal untuk menggapai tempat yang beih tinggi. Sari Pos 2 ke Geger sapi memerlukan waktu kurang lebih 2 jam. . Sebelum sampai di Geger Sapi, kami sempat disuguhi pemandangan yang sangat indah, yaitu lanskap kota boyolali yang berada di antara 2 buat bukit kembar. Lanskap ini membentuk segitiga, dimana gemerlapnya kota boyolali sangat terlihat jelas disini. Kami sempat tertipu dengan bukit di samping kami yang kokoh berdiri, kami kira itu adalah puncak tertinggi Merbabu. Setelah kabut menghilang, ternyata di belakanganya masih terdapat bukit yang lebih tinggi. Ternyata kami salah perkiraan dan membuang banyak waktu di sini. Kami segera beranjak dari tempat ini dan memburu bukit tinggi yang masih jauh tersebut. Trek menaiki Geger sapi sungguh terjal, inilah trek terberat sepanjang perjalanan dari Pos 2 ke Geger Sapi. Geger sapi memiliki ketingggian sekitar 3000 mdpl. Kami sempat mendapati para pendaki yang berkemah diarea sebelum naik ke Geger Sapi. Di sini terdapat kawah belerang kecil yang masih mengeluarkan asap yang berbau cukup menyengat. Setelah melewati Geger Sapi, kami harus melewati tantangan berikutnya yaitu Jembatan Setan. Sebelum melintasi Jembatan Setan, kabut sangat tebal dan angin yang sangat kencang menghadang kami. Rupanya terjadi badai di Puncak Gunung. Benar benar menyiutkan Nyali kami, dan memaksa kami untuk duduk bersebunyi di balik tebing untuk menghindari hempasan angin. Jarak pandang hanya 5 meter, sangat riskan untuk melakukan perjalanan malam. Udara begitu dingin, kami mencoba membakar ranting2 dan tanaman2 kecil yang ada di sbelah untuk menghangatkan badan kami yang menggigil. Kami sempat tertidur dalam kondisi duduk merapat kedinginan, waktu satu jam pun kami lewatkan begitu saja. Saat kami terbangun, terdapat pendaki yang mulai mendahului kami. Walaupun angin masih bergemuruh, tapi mereka nekat menyebrangi Jembatan Setan tersebut. Akhirnya mental kami terbangun juga, dan mengikuti jejak dari para pendaki hebat tadi. Kabut sudah mulai menipis dan angin sudah mulai lambat menerpa kami. Kami melanjutkan perjalanan dengan sangat hati-hati menyebrangi jalur sempit yang berada diantara jurang yang dalam di sebelah kiri dan kanan kami, itulah yang dinamakan jembatan setan. Jika kita membawa tas ransel yang berat dan angin bertiup kencang dari samping, saya sarankan untuk berhenti sejenak menunggu cuaca membaik. Jika kita memaksakan diri, bisa-bisa kita akan terhempas ke jurang dalam disamping kita. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah 6 pagi, Sunrise kali ini tidak kelihatan karena tertutup oleh mendung. Angin membawa kabut tipis menerpa kami di sepanjang jalur menuju puncak. Matahari yang masuh muda mengintip kami dari sela2 awan yang menghitam, kami segera ambil posisi untuk berfoto foto disini. Sebelum mencapai puncak sejati, kita akan melewati puncak bayangan. Kejadian menarik ketika saya memimpin rombongan menuju puncak sejati dari puncak bayangan. Di belakang kami terdapat banyak rombongan pendaki yang mengikuti kami, setelah jauh melangkah ternyata jalur yang saya tempuh keliru dan berakhir di jalan buntu. Dengan perasaan bersalah dan rasa malu, akhirnya saya meminta rombongan di belakang kami untuk berbalik dan mencari jalur yang benar. Akhirnya kami menemukan jalur memutari puncak bayangan, dan kami sekarang berada di barisan paling belakang :D .

Puncak Kenteng Songo

Perjalanan terjal bebatuan kami lewati untuk menggapai puncak Kenteng Songo. Dua puluh menit dari puncak bayangan, akhirnya kami sampai juga di puncak tertinggu gunung Merbabu ini. Puncak Keteng Songo berupa gundunkan tanah yang luasnya sekitar 25 meter persegi. Dari puncak ini kita bisa melihat Gunung Merapi yang terus menerus mengeluarkan asap di sebelah tenggara kami. Kami benar2 terasa berada di negeri di atas awan, sungguh menabjubkan. Setelah berfoto-foto dan puas menikmati suasana puncak, kami memutuskan untuk segera turun melalui jalur Selo.

merbabu4

Merbabu7

Merbabu5

Jalur Selo

Perjalanan turun kami melewati Jalur Selo yang berakhir di desa Selo Boyolali. Perjalanan dari Puncak kami mulai jam 9 pagi, dengan perkiraan kami akan sampai bawah jam 2 siang. Perjalanan kami awali dengan turunan terjal melewati sabana yang luas. Pemandangan menuruni puncak sungguh indah, dengan background gunung merapi dan awan di atas sabana yang luas benar2 membuat kami tidak ingin cepat melewatkanya begitu saja. Kami juga sering berpapasan dengan pendaki lain yang sedang berjuang naik melewati jalur ini. Setelah berjalan selama kurang lebih 20 menit, kami sampai di Pos terakhir sebelum puncak untuk jalur Selo ini. Pos ini cukup terlindung oleh hutan Edelweis yang rapat, para pendaki banyak yang berkemah disini sebelum menggapai Puncak. Selanjutnya perjalanan mengarungi sabana yang luas dengan trek yang landai kami lewati. Setelah 2 jam perjalanan, akhirnya kami sampai di batas sabana dan hutan tropis. Selanjutnya perjalanan turun melalui hutan kami jalani selama 3 jam. Akhirnya jam 2 siang kami sampai di perkampungan desa Selo – Boyolali. Kami mampir sejenak ke Pos Pendakian Selo sebelum melanjutkan perjalanan turun ke Jalan Raya. Penduduk di desa ini sangat ramah, sepanjang perjalanan sapaan ramah sering kami terima saat kami melintas di depan rumah penduduk. Sampai di jalan raya, kami menunggu Bus Jurusan Boyolali. Perjalanan 1 jam lebih kami sampai di Boyolali. Sampai di terminal boyolali kami membersihkan diri dan menikmati Soto Khas Boyolali yang nikmat. Selanjutnya kami naik Bus menuju terminal Kartosuro untuk melanjutkan perjalanan kembali ke Jogja. Sementara Chimot berpisah dengan kami di kartosuro untuk melanjutkan perjalanan ke Surabaya. Dari Kartosuro kami ber-3 naik bus jurusan Djogja untuk memburu Kereta Api di Stasiun Tugu. Sampai stasiun tugu jam setengah 6 sore, kami menyempatkan makan di warung Gudeg Khas Djogja yang berada di dalam stasiun Tugu. Tak lama setelah kami selesai amkan, kereta api sudah datang dan kami harus melanjutkan kembali perjalanan malam menuju Kota tempat kami mencari nafkah yaitu Bekasi.

Merbabu8

Merbabu6Merbabu01

Mahameru : Puncak Abadi Para Dewa

Mahameru 18-20 Mei 2007


Gapai Keangkuhan Puncak Semeru


Gunung Semeru adalah gunung tertinggi di Pulau Jawa dengan ketinggian 3,676 mdpl. Gunung ini terletak di wilayah kabupaten Malang Jawa Timur. Gunung semeru juga sering di sebut Mahameru yang artinya kalau tidak salah adalah Yang Tertinggi. Untuk mendaki ke puncak gunung ini kita harus terlebih dahulu mengetahui status gunung yang masih aktif ini. Tidak jarang pendakian ke puncak mahameru dilarang karena gunung ini sedang batuk parah. Waktu untuk mencapai puncak gunung ini pun dibatasi sampai jam 9.00 pagi. Mahameru 5Pendaki disarankan tidak memaksakan diri untuk mencapai puncak jika telah lewat jam tersebut karena arah angin akan berbalik dan pendaki dapat terkena racun dari gas yang disemburkan oleh gunung ini. Setiap 15 menit gunung ini akan meletup kecil atau sering di sebut “ngerokok”. Moment terbaik untuk mengambil gambar adalah ketika gunung sedang meletup, anda bisa berpose dengan background kepulan asap hasil letupan ringan. Tak jarang juga letupan membuat para pendaki lari ketakutan karena yang dikeluarkan bukan pasir melainkan bebatuan. Sebelum melakukan pendakian saya sarankan untuk menghubungi Balai Taman Nasional Bromo Tengger Semeru untuk menanyakan kondisi gunung semeru jika anda tidak ingin melewatkan puncak mahameru. Di ketinggian 2300 mdpl kita juga dapat menyaksikan keindahan Ranu Kumbolo yang luas. Danau ini airnya tidak mengalir ke bawah, dan selalu ada airnya walaupun musim kemarau. Pendaki yang tidak berniat mencapai puncak biasanya menghabiskan waktu disini dengan berkemah dan menikmati sejuknya alam pegunungan.

Ranu Pane

Mahameru4Perjuangan untuk menuju gunung semeru saya mulai dari bekasi bersama teman2 dari Woi Community. Dari stasiun Gambir kami naik Kereta Api Gumarang jurusan Surabaya. Sementara di keesokan harinya kedua teman saya Chimot dan Ifa telah menunggu kami di Stasiun Pasar Turi. Chimot telah menyiapkan 2 Mobil Bison untuk mengangkut rombongan kami ke Kecamatan Tumpang Malang. Perjalanan ke Tumpang memakan waktu kurang lebih 2 jam dikarenakan kami harus masuk jalan tikus menghindari kemacetan karena lumpur porong. Akhirnya kami sampai di terminal tumpang sekitar jam 9 pagi. Mahameru 6Kami menyempatkan waktu untuk sarapan sembari menunggu mobil Hard Top yang akan mengangkut kami ke Ranu Pane. Sebelum mobil Hard Top kami datang, personel tambahan 4 orang dari teman2 Woi Community kota malang pun datang. Tambah banyak saja pesertanya, kurang lebih ada 20 orang. Untuk menuju ke Ranu Pane kita harus menyewa mobil hard top dengan tarif per orang adalah 40 ribu rupiah. Mobil ini bisa mengangkutbarang penumpang sebanyak 15 orang sekaligus beserta barang bawaaanya yang akan di taruh di atas kepala mobil. Semua penumpang dalam posisi berdiri dan perjalanan akan berlangsung kurang lebih selama 1,5 jam menyusuri jalan aspal dan beton menyisir bukit. Ditengah perjalanan kami berhenti sejenak untuk melakukan administrasi pendakian di Balai Tanam Nasional Bromo Tengger Semeru (BTNBTS). Setiap orang wajib menyerahkan fotocopy KTP dan membayar administrasi sebesar 6000 rupiah. Setalah urusan administrasi selesai, kami melanjutkan perjalanan kembali. Ditengah-tengah perjalanan kami diguyur hujan deras selama setengahjam, benar2 sambutan yang dingin buat kami. Walaupun hujan mendera kami sepanjang perjalanan, tidak menyurutkan mental kami untuk melakukan pendakian. Akhirnya kami nyampai di desa Ranu Pane sekitar jam 12 siang. Ranu Pane merupakan titik awal pendakian ke gunung Semeru. Tak jauh dari Pos terdapat Danau kecil yang dinamakan Danau Pane atau dalam bahasa tengger di sebut dengan Ranu Pane. Di sekitar pos terdapat warung nasi yang menyajikan masakan dan minuman hangat khas pegunungan. Sebelum melakukan pendakian terlebih dulu kami mengisi perut di warung depan pos. Hmm….udara dingin menambah nikmatnya masakan gunung yang sederhana itu. Setelah makan siang kami segera menyiapkan mental dan fisik untuk memulai pendakian.

Ranu Kumbolo

Mahameru 8

Sebelum melakukan pendakian terlebih dulu kami berdoa untuk meminta petunjuk dan keselamatan kepada Sang Pencipta. Perjalanan dimulai dengan jalanan datar sepanjang 500 meter menyisir ladang penduduk. Selanjutnya kita mengambil arah jalan setapak disebelah kiri dimana treknya langsung terjal. Disini adalah tanjakan awal sebagai sambutan panas untuk para pendaki. Setelah tanjakan awal berlalu, kita akan melakukan perjalanan kurang lebih 3 jam untuk mencapai Ranu Kumbolo dengan Trek yang lumayan landai. Vegetasi sepanjang perjalanan berupa Hutan Tropis yang kering. Perjalanan menyiris bukit demi bukit kami lalui tanpa henti selama 3 jam. Akhirnya kami sampai di Ranu Kumbolo sekitar pukul 3 sore.

Mahameru 7

Kami menyempatkan waktu sebentar untuk menjemur perlengkapan kami yang basah karena kehujanan sepanjang perjalanan ke ranu Pane tadi. Ranu kumbolo terletak pada ketinggian kurang lebih 2300 mdpl. Di malam hari, suhu udara disini bisa mencapai minus 2 derajad celcius dan dipagi harinya kita dapat melihat es yang menutupi rerumputan. Kita bisa mendirikan tenda di sepanjang pingggiran danau yang sangat luas ini. Setiap tanggal 17 Sgustus, tidak jarang di tempat ini berlangsung upacara bendera memperingati hari kemerdekaan bangsa indonesia. Danau ini banyak ditumbuhi ganggang hijau yang menyebabkan warna air menjadi hijau ketika terkena sinar matahari pagi. Setelah semua perlengkapan kami kering, segera kami melanjutkan perjalanan ke Kali mati. Yaitu Pos selanjutnya setelah ranu Kumbolo.

Tanjakan Cinta – Oro-Oro Ombo – Kali Mati

Perjalanan meninggalkan Ranu Kumbolo di mulai dengan tanjakan yang sangat terjal dan panjang yang sering dikenal dengan nama Tanjakan Cinta. Setelah selesai menaklukkan tanjakan cinta, kita akan di suguhi padang sabana yang luas yang sering di sebut Oro-Oro Ombo yang artinya padang yang luas. Untuk melanjutkan perjalanan kita dapat menyisir bukit di samping oro-oro ombo atau untuk mempersingkat waktu kita bisa menyebrangi oro2 ombo tersebut. Tapi jangan sampai anda terkena sial seperti saya yang akhirnya terjebak di lumpur dan terpaksa balik ke atas bukit. Di musim hujan, oro-oro ombo akan digenangi oleh air hujan yang menyebabkan tanah di dalamnya akan lembek mejadi lumpur. Waktu itu saya bersama teman saya dari Woi dengan pede melintas di oro-oro ombo dan hasilnya kaki kami masuk sedalam betis. Kenangan buruk untuk saya dan mbak Heti yang saling berpegangan tangan untuk melepaskan sepatu dan sandal dari kaki kami yang terjebak di dalam lumpur. Setelah lepas dari jebakan lumpur ganas di oro-oro ombo, kami berhenti sejenak mebersihkan sandal dan sepatu kami menggunakan pasir kering di ujung batas oro-oro ombo. Selanjutnya perjalanan akan melewati hutan tropis dengan trek yang lumayan terjal. Di tengah perjalanan kembali kami di guyur hujan gerimis. Perjalanan selama kurang lebih 4 jam telah kami lewati, tetapi Pos Kali Mati belum juga kami temukan. Kami segera mengeluarkan senter karena hari telah malam. Setelah melakukan 3 jam perjalanan malam akhirnya kami sampai juga di Pos Kali mati. Total waktu perjalanan yang kami tempuh kurang lebih 6 jam. Kami sampai di Pos Kalimati sekitar jam 9 Malam. Pos Kalimati berada dipinggiran sabana yang luas, disini terdapat bangunan kayu yang bisa kita tempati untuk berteduh dan bermalam. Dari pos ini ke puncak Mahameru membutuhkan waktu paling sedikit 5 jam. 3 jam perjalanan melintasi hutan tropis ditambah 2 jam merayap mendaki kubah pasir yang terjal. Sambil menunggu waktu yang tepat untuk melanjutkan perjalanan menuju puncak, saya bersama teman2 Woi bergabung menikmati hangatnya api unggun di serambi pos. Setelah ngobrol panjang dengan rekan2 pendaki yang lain, kami memutuskan untuk langsung melanjutkan perjalanan pada pukul 11 Malam. Belum sempat kami tidur, kami harus memburu sunrise di keesokan harinya.

Kubah Pasir Mahameru

Setelah hujan gerimis reda dan waktu sudah menunjukkan jam 11 malam, kami memutuskan untuk mulai melanjutkan pendakian. Pendakian ini kami lakukan ber-6, yaitu trio saya, chimot, ifa ditambah 3 anggota dari Woi Community. Perjalanan menanjak menyusuri hutan tropis kembali kami lalui bersama. Setelah berjalan selama 1 jam, salah satu teman kami dari Woi mengalami sakit ringan. Mungkin karena kurang tidur dan memaksakan diri untuk naik, akhirnya jatuh sakit. Kami berhenti sejenak untuk memberi waktu kepada teman kami yang sedang sakit tersebut istirahat. Setelah agak lama kami berhenti, kami lanjutkan perjalanan menuju pos terakhir sebelum keluar dari hutan. Sampai di post terakhir jam 3 pagi, kami mencoba meminta secangkir teh hangat ke pendaki yang sedang berkemah disini untuk teman kami yang masih sakit. Istirahat sejenak, kami melanjutkan perjalanan keluar hutan menuju Puncak Mahameru. Sesampainya di titik pertama pendakian kubah pasir, saya mengganti sandal gunung saya dengan sepatu pull yang saya bawa. Sekilas memandang ke atas kelihatanya dekat, tetapi kenyataan berkata lain. Setiap maju 2 langkah, kita akan turun 1 langkah karena medannya adalah pasir. Kami harus berjalan ekstra hati-hati disini karena pasir yang licin dan jalur yang sempit. Bisa bisa kita terpeleset dan jatuh berguling ke dasar kubah jika tidak berhati hati berjalan di jalur pasir ini. Kita harus berhenti memberi jalan jika ada pendaki lain yang ingin mendahului kita. Pijakan kaki untuk berhenti pun tidak mudah, kita harus menginjak2 pasir tersebut dengan pangkal kaki sebagai tautan agar kita tidak melorot ke bawah saat duduk. Jarang sekali ada pendaki yang membawa tas ransel yang berat disini, kebanyakan pendaki hanya membawa tas ringan yang berisi air minum dan senter. Angin dari samping juga membuat nyali kami semakin menciut karena membuat badan ini menggigil kedinginan. Teman saya yang sakit akhirnya memutuskan untuk berhendi di sela2 batu pasir yang yang melindungi dari terpaan angin dari samping. Sementara Chimot dan Ifa telah jauh meninggalkan saya. Dengan langkah seribu, saya segera mempercepat langkah mengejar mereka berdua. Fajar sudah mulai mengintip di ufuk timur tepatnya di samping kiri jalur pendakian. Akhirnya saya, chimot dan ifa bertemu kembali menjelang sampai di puncak. beberapa meter sampai puncak, chimot mengalami cidera engsel kaki sebelah kiri.mahameru1

Mahameru 2

Tak beberapa lama akhirnya Saya dan Ifa sampai puncak lebih dulu jauh meninggalkan Chimot yang berjalan tertatih-tatih. Yeesss……….akhirnya kaki kami menginjak tempat tertinggi di tanah jawa ini. Benar-benar menakjubkan pemandangan dari atas puncak abadi para dewa ini. Di depan terlihat dapur magma gunung semeru yang setiap 15 menit meletup mengeluarkan asap adari dalam perut bumi. Lima menit kemudian saya bisa melihat Sunrise muncul perlahan2 dari ufuk timur, sayang sekali saya dan ifa tidaak membawa kamera untuk mengabadikan moment berharga tersebut. Sementara Chimot masih berjuang mengatasi rasa sakitnya menuju puncak. Tak lama kemudian akhirnya chimot sampai juga ke puncak. Setiap terjadi letupan, para pendaki memanfaatkan untuk berfoto2 bersama. kami benar2 menyesal tidak membawa kamera waktu itu, sampai pada akhirnya teman kami dari Woi datang menyusul kami. Akhirnya kami bisa berfoto bersama di depan kepulan asap Mahameru.Ada kejadian menarik saat terjadi letupan waktu itu. Duuuuum…….asap hitam tebal membumbung tinggi bercampur dengan bebatuan besar seakan akan mengarah ke kami. Tidak seperti biasanya saat terjadi letupan dimanfaatkan untuk foto-foto, kali ini para pendaki lari kocar kacir sambil memegangi kepala bagian atas dan tiarap ke tanah. Hahahaha…..bisa dibilang lucu dan bisa pula di bilang mengerikan. Ternyata bebatuan besar tadi tidak mengarah ke kami, syukurlah. Setelah puas menikmati pemandangan dari puncak, kami segera turun karena angin sudah mulai berbalik ke arah kami dan abu vulkanik sudah mulai bertaburan menghujani kami. Perjalanan turun jauh lebih cepat daripada perjalanan naik. Kita ahanya perlu meluncur di jalur pasir yang licin tersebut. Tapi kita harus ekstra hati2 juga, jika tidak hati2 bisa2 kita akan nyasar ke jalur pasir yang lain dan tersasar entah ke mana. Tidak jarang pendaki yang tersasar gara2 salah memilih jalur pasir saat turun. Satu hal lagi yang penting untuk dibawa adalah kacamata pelindung mata. Saat turun diiringi hujan abu vulkanik, mata kita akan sering terkena debu dan hasilnya adalah iritasi. SAya sendiri mengalaminya, sempet beberapa kali harus berhenti “ngucek” mata saya yang “kelilipan” pasir lembut dari abu vulkanik. Setelah menuruni kubah pasir, kami segera melanjutkan perjalanan ke Kali Mati. Sampai Pos Kali Mati sekitar pukul 12 siang, kami ber-3 segera ambil posisi tidur. Tidur selama 1 jam cukup untuk mengobati rasa ngantuk karena sudah sehari semalam tidak tidur sama sekali. Bangun tidur kaki sebelah kiri saya tiba2 nyeri, pas di bagian lutut. Sementara Ifa juga mengalami sakit di kaki sebelah kanan. Rasa sakit akan terasa saat kita jalan menurun, karena otot kaki akan tertarik dan rasanya sangat nyeri. Setelah packing dan sedikit makan siang, kami segera melanjutkan perjalanan ke Ranu Kumbolo. Sementara sebagian teman2 Woi masih berkemah di situ, rencananya mereka akan mendaki puncak pada malam harinya. Saya bertiga sengaja langsung turun karena memburu jadwal kereta api Gumarang pada sore hari besoknya. Dengan langkah tertatih2 dan santai kami bertiga melanjtkan perjalanan ke Ranu Kumbolo. Empat jam perjalanan akhirnya kami ber-3 sampai di Ranu Kumbolo, tepatnya jam 4 sore. Perut kami terasa keroncongan, mie instant tanpa di rebuspun ludes kami makan ber-3. Pukul 5 sore kami mulai melanjutkan perjalanan turun ke Pos Ranu Pane

Perjalanan Mistis (Misteri Patok 9)

Perjalanan turun dari Ranu Kumbolo ke Ranu Pane dapat di tempuh dalam waktu maksimal 3 jam. Karena kaki kami semakin terasa sakit, kami memutuskan untuk jalan santai tanpa henti. Menurut prediksi, kami akan nyampai ke Ranu Pane kurang lebih pukul 9 malam. Di dalam perjalalanan malam bertiga, kami sering di dahului oleh para pendaki lain yang sedang turun dengan berlari. Kami sengaja tidak mau melihat jam, yang kami lakukan hanya jalan dan jalan tanpa henti. Ada kejadian aneh ketika kami melewati patok 9 Hm yang ada di sebelah kanan jalan, dan juga pohon palem yang berada di sebelah kiri jalan. Saya sebagai yang paling depan juga merasakan keanehan ketika saya mersa melihat patok 9 dan pohon palem 3 kali berturut2 seperti layaknya dejavu. Perasaan saya sudah merasa tidak enak waktu itu, tapi saya mencoba memendam dalam hati agar teman2 tetap tenang dan tidak berfikiran macam2. Sampai pada akhirnya teman kami ifa nyeletuk pada saya,

Ifa : ” Tos, perasaan aku wes ping 3 lewat patok 9 “

Saya : ” Sttt….wes menengo wae fa, dilut kas nyampai kok “

Chimot : ” Iyo mlaku terus wae lak tekan”

Saya : ” Gari nglewati sak bukit ngarep iku tok kok rek”

Setelah beberapa menit berjalan, kami tidak lagi menemukan patok 9 dan pohon palem tadi. Hmm….Saya tidak tau persis apakah perjalanan kami yang sangat lambat atau memang kami di ganggu oleh sesuatu hingga akhirnya kami berputar2 selama 3 kali di jalur yang sama. Yang jelas kesalahan yang kami lakukan adalah ketika Maghrib kami tidak berhenti, biasanya menjelang Maghrib kita harus berhenti sejenak sebelum melakukan perjalanan lagi. Setelah 1 jam lebih perjalanan, akhirnya kami sampai di Ranu Pane. Ingin rasanya kami segera ke warung dan makan sepuasnya. Tapi apa yang terjadi, kami benar2 kaget ketika melihat suasana Ranu Pane seperti Kota Mati. Tidak ada satu orangpun yang berada di luar, benar2 sepi senyap dan menyeramkan. Setelah kami mengeluarkan hp, ternyata waktu sudah menunjukkan pukul setengah 12. Haaaaaaa…………benar2 waktu yang sangat lama untuk perjalanan turun. Seharusnya hanya 3 jam, tapi kami lewatkan 6 jam lebih. Saya sejenak berfikir tentang patok 9 yang misterius tadi, saya semakin yakin saat itu benar2 di ganggu oleh makluk yang tak tampak.Karena tidak ada wrung yang buka jam segitu, dan kondisi luar yang sepi senyap. Kami emutuskan untuk menginap di dalam Pos. Waktu itu pintu hanya di ganjal oleh sof jadi kami bisa mendorongnya.

Numpang Truk Sayur

Pagi hari menjelang, kami terbangun dari tidur yang cukup nyaman. Segera kami membasuh muka dan membersihkan tubuh dari lelahnya petualangan. Selagi nongkrong di depan pos, ada truk sayur yang datang mengangkut sayur Kol hasil panen petani setempat. Saya mencoba bertanya pada sopirnya, apakah truk akan turun sampai tumpang. Ternyata benar, truk akan turun ke pasar tumpak setelah menaikkan sayur hasil petani setempat. Selagi menunggu truk menaikkan barang bawaan, kami menikmati sarapan pagi di warung nasi depan pos. Hmm…benar2 nikmat masakan pegunungan pasca pendakian. Tak lama setelah kami selesai sarapan, sopir truk memanggil kami untuk segera menaikkan tas kami ke dalam truk dan kami ber-3 juga ikut naik di kap truk. Sebelum truk penuh, kami harus mengikuti truk menaikkan sayuran kentang di ladang lain. Stelah truk penuh berisi kentang, kami segera naik ke atas kap truk dan duduk manis di atas tumpukan kentang. Hmm….asyiiik juga ternyata berpetualang seperti ini. Satu jam perjalanan akhirnya kami sampai di desa tumpang. Kami turun di perempatan sebelum masuk ke pasar sayur dan memberi ongkos 30 ribu /0rang. Selanjutnya kami meneruskan perjalanan ke Terminal Arjosari Malang menggunakan angkot. Dari Arjosari kami lanjutkan naik bus Malang – Surabaya turun di Bungurasih. Selanjutnya dari bungur kami memutuskan untuk naik taksi menuju rumahnya Chimot. Sampai di rumahnya chimot sekitar jam 2 siang. Sebagai penutup, kami membeli makan siang di Ikan Bakar Sunda. Hmmm…..lengkap sudah petualangan kami. Selanjutnya jam 4 sore saya diantar Chimot ke Stasiun Pasar Turi untuk bertolak ke Bekasi. Selamat tinggal Surabaya……

Mahameru3

Catt:

  1. Dari Jakarta/ Bandung menuju Surabaya dengan KA. Dari Surabaya menuju Terminal Tumpang , Malang (lewat Pasuruan)
  2. Dari Terminal Tumpang menuju Ranu Pane, dengan menyewa mobil (@ IDR 40.000)
  3. Pos –pos : Ranu Pane, Ranu Kumbolo (± 3 jam dari Pos 1), Kali Mati (melewati Tanjakan Cinta & Oro-oro Ombo, ± 4,5 jam dari Pos 2) dan Puncak (± 5 jamdari Pos 3)

Argopuro : Singgasana Dewi Rengganis

Argopuro 06-09 Agustus 2005

Argopuro 2Gunung argopuro merupakan salah satu gunung yang terletak di deretan Pegunungan Yang. Gunung ini membentang dari kabupaten Probolingo sampai ke Kabupaten Situbondo yang memiliki ketinggian 3,088 mdpl. Pendakian dari kabupaten probolinggo melalui desa Bremi sedangkan dari situbondo melalui desa Baderan. Gunung Argopuro merupakan gunung yang memiliki trek lintasa terpanjang di jawa. Kebanyakan pendaki memilih untuk melintasi gunung atau naik dan turun pada jalur yang berbeda. Jarur Bremi lebih singkat daripada jalur Baderan tetapi trek yang dilewati cenderung lebih Terjal. Gunung Argopuro memiliki Vegetasi terlengkap, mulai dari hutan Tropis, Hutan Hujan, Hutan Cemara, dan juga padang sabana yang sangat luas. Gunung ini memiliki kisah legenda Dewi Rengganis yang hilang bersama dayang-dayangnya, ada tempat yang dikenal dengan Taman Rengganis yang diyakini sangat Angker. Di ketinggian sekitar 1200 mdpl dari jalur Bremi, anda bisa menemukan Danau Taman hidup yang cukup luas. Danau ini sangat indah di pagi hari, banyak ikan di dalamnya dan anda bisa memancing untuk di bakar dan di makan. Jika anda turun melalui jalur Baderan, saya yakin anda akan terbius oleh keindahan padang sabana yang sangat luas. Padang Sabana ini konon merupakan bekas pangkalan udara Tentara Jepang yang diyakini sangat angker juga. Jangan sampai anda menginap atau bermalam disini, bisa2 anda di datangi tentara jepang yang sedang patroli. Konon masih ada pendaki yang mendengar derap langkah kaki para tentara saat menginap disini. Gunung yang lengkap keindahanya dan membuat frustasi karena treknya yang begitu panjang.

Pendakian jalur Bremi (Probolinggo)

Argopuro 1Kami sengaja meluangkan waktu di semester akhir menjelang kelulusan kami. Sekedar melepas stress karena mengerjakan Tugas Akhir yang tak kunjung selesai, akhirnya kami ber-6 (Saya, Chimot, Edo, Ucup, Dhani, Sri) merencanakan untuk mendaki Argopuro melalui jalur Bremi dan turun melalui jalur Baderan. Kami berangkat dari Lab ber-6 dengan perbekalan sederhana yang kami punya. Seperti biasanya kami hanya membawa Terpal dan Ponco tanpa Tenda, maklum mahasiswa kere belum mampu beli tenda. Minimnya perlengkapan bukan penghalang untuk melakukan pendakian. Pagi itu kami berangkat ke Bungurasih naik taksi 4 orang dan naik sepeda motor 2 orang. Dari bungurasih kami naik bus jurusan probolinggo, dan turun di terminal probolinggo. Perjalanan selama kurang lebih 3 jam kami lewati. Argopuro 4Sampai probolinggo kami menuju terminal bus AKAZ , dimana dari terminal ini kita bisa naik bus jurusan Bremi. Perjalanan ke desa bremi memerlukan waktu kurang lebi 1 jam. Sesampainya di Desa Bremi kami menyempatkan diri untuk makan siang di warung setempat. Pos perijinan berada di kantor polisi setempat, salah satu dari anggota kami melakukan registrasi di kantor polisi. Setelah semua administrasi beres, kami segera melakukan pendakian melewati ladang penduduk. Setelah melalui ladang penduduk, kita akan masuk ke hutan damar yang sangat lebat. Target pertama kami adalah Danau Taman Hidup yang terletak pada ketinggian 1200 mdpl. Perjalanan 3 jam kami lalui di tengah hutan yang lebat dan trek yang mulai menanjak. Perjalanan cukup panjang dan melelahkan tak kunjung kami temukan danau taman hidup yang kami cari. Hari sudah beranjak gelap, kami bergegas mengeluarkan senter yang kami bawa. Dengan sangat berhati2 kami melanjutkan perjalanan malam itu. Di tengah hutan kami mencoba berhenti karena semua anggota tim kelelelahan dan lapar. Sejenak menikmati mie instant dan energen, rasa lelah dan lapar kamipun terobati sedikit. Tak mau berlama-lama di hutan kami melanjutkan kembali perjalanan. Sebelum menemukan Danau Taman Hidup, kami menemukan pertigaan. Menurut informasi, untuk mencapai danau taman hidup kita harus mengambil arah ke kanan. Jalanan menurun kami lalui, sekitar 15 menit akhirnya kami sampai di Danau yang kami cari tersebut.

Danau Taman Hidup

Argopuro 5Danau taman hidup merupakan tempat favorit bagi para pendaki yang memilih jalur Bremi. Ada juga para pendaki yang sengaja hanya nge camp disini beberapa hari. Di area sekitar danau memang cukup nyaman untuk nge camp, tempatnya cukup hangat dan terlindung oleh pohon pinus yang tinggi. Waktu itu kami mendaki pada tanggal muda jawa, sehingga kami bisa menikmati gugusan Galaxi Bima Sakti yang nampak jelas di gelapnya malam. Di dukung dengan cuaca yang cerah dan lokasi yang cukup luas, kami serasa berada sangat dekat dengan bintang2 di angkasa tersebut. Sesekali melihat bintang meteror yang Argopuro 6jatuh, hmm….sungguh mengagumkan alam semesta ciptaan Tuhan itu. Kami segera mencari tempat untuk mendirikan tenda amatir kami, mengaitkan terpal ke batang pohon pinus. Bermalam di sini tidak begitu dingin, sehingga saya memutuskan untuk tidur di luar beralaskan matras. Kami membuat perapian sebagai penghangat kami menikmati malam. Tidurpun terasa puas, tak terasa pagi menjelang. Kami segera beranjak menikmati pemandangan danau yang sangat indah. Air danau yang di ambil oleh sinar matahari pagi menimbulkan keindahan yang luar biasa di atas danau. Saya menyempatkan diri untuk mencoba memancing ikan disana, dengan kail yang sudah tersedia entah punya siapa. Ternyata sulit juga mancing disini kalau belum berpengalaman. Karena kasihan dengan saya yang gak dapet2, ada mas2 yang menawari ikan untuk saya bawa. dengan malu2 tapi mau, aku terima saja ikan itu untuk di bakar daripada mancing tanpa hasil. Bakar2 ikanpun dimulai, dan rasanya….mak nyissss…….uenak coy. Setelah sarapan pagi dan bakar2 ikan, kami segra beres2 tenda dan packing untuk melanjutkan perjalanan.

Sicentor & Fucking Plant

Tepat pukul 9 pagi kami memulai perjalanan dari taman hidup menuju ke puncak. Perjalanan menanjak dan menurun kami lalui. Sepertiga perjalanan trek yang kami lalui cenderung menanjak dengan vegetasi hutan yang tidak begitu lebat. Dua pertiga perjalanan kami lalui dengan trek cenderung menurun. Kami sempat frustasi karena perjalanan menurun dan datar yang sangat lama padahal kami berencana menuju puncak. Perjalanan ini melintasi vegetasi ilalang dan tanaman pendek dan rapat. Tak jarang kami melintas diantara Funcing Plant atau Jancukan. Tanaman ini adalah tanaman yang paling di benci oleh para pendaki di gunung argopuro. Begitu kulit anda menempel di tanaman ini, dijamin anda akan teriak kesakitan. Saya sendiri sempat merasakannya ketika sedang berlari menurun, dan “plak”…..kaki saya nyerempet tanaman tersebut dan rasa panas campur gatal membuat saya jatuh tersungkur. Tanaman ini merupakan tanaman perdu vegetasi bawah, tingginya tidak lebih dari 2 meter. Memiliki daun menyerupai daun ganja dan bersisik. Mungkin sisik daun tersebut yang menusuk kulit dan menyebarkan racun sehingga terasa gatal dan panas. Tak terasa 6 jam perjalanan kami lalui. Waktu sudah menunjukkan puku 3 sore, dan cadangan bahan bakar kamipun mulai menipis. Target kami adalah Aing Kenik, atau air putih yang katanya berada sebelum pos Sicentor. Perjalanan sebenarnya tidak melelahkan, melainkan membosankan. Rasa frustasi telah menghantui semua anggota. Akhirnya pukul 4 sore kami menemukan aliran sungai kecil yang menghalangi jalan kami. Huh…leganya bisa minum sepuasnya. Seberapa jauh lahi Pos Sicentor kami tidak tau, yang jelas kami hanya berjalan dan berjalan. Gelappun mulai terasa, kami segera mempercepat langkah. Senter kami keluarkan, dan pada akhirnya tepat puku 7 malam kami menemukan Pos yang namanya Sicentor. Udara disini sangat dingin, dan hanya kami ysatu2 pendaki yang ada di pos ini. Lega rasanya menemukan Pos yang kami cari, pos terakhir menuju puncak. Pos Sicentor ini adalah pertemuan antara jalur Bremi dan jalur Baderan. Terdapat aliran Sungai kecil yang cukup deras yang membelah jalur dari arah baderan. Areanya cukup luas untuk mendirikan tenda dan bermalam disini. Terdapat juga bangunan kayu yang cukup lebar dan muat untuk tidur 10 orang. Kami cukup beruntung dengan adanya bangunan kayu tersebut karena kami memang tidak membawa tenda. Kami tidur berjajar di dalam Pos dan berencana bangun subuh untuk mengejar Sunrise. Alarm berbunyi dan kami tidak pula beranjak bangun karena kelelahan. Sehabis sholat subuh kami melanjutkan perjalanan ke puncak, dimana menurut informasi dapat di tempuh dalam waktu 3 jam dari sini.

Sensasi Puncak Rengganis

Perjalanan menuju puncak diawali dengan jalur yang cukup landai melewai sabana yang cukup luas. 1 jam perjalanan kami menemukan Pos sebelum puncak, dinamakan Rawa Embik. Disni terdapat sungai kecil yang mengalir, anda bisa mengambil air di sini sebagi air minum. Setelah Rawa Embik, perjalanan melalui hutan tropis kering yang jarak tanamanya agak renggang. Setelah itu kita akan melewati Hutan cemara yang sejuk dan hijau. Tidak jauh dari sini kami melewati hutan tropis kering lagi sampai puncak Rengganis. Setelah 4 jam perjalanan dari Sicentor akhirnya kami sampai di puncak Rengganis. Kami sedikit bertanya apakah ini benar2 puncak atau puncak bayangan karena masih terdapat pohon yang lebih tinggi dari puncak. Tapi tanda tanya kami terjawab ketika kami menemukan batu yang merupakan titik puncak gunung Argopuro ini. Sunrise telah lewat beberapa jam yang lalu, tapi kami cukup puas bisa mengakhiri rasa frustasi kami. Kami segera foto2 dan mengibarkan bedera kemenangan kami di atas pohon di dekat puncak. Satu jam menikmati puncak, kami segera turun dan melanjutkan perjalanan ke Baderan

Argopuro 8

Argopuro 9

Jalur Baderan

Sebelum turun melalui jalur Baderan, kami singgah sebentar di Sicentor lagi. Istirahat sebentar, makan siang, dan membersihkan diri di sungai. Tengah hari kami mulai melakukan perjalanan panjang sekali melalui jalur baderan. Perjalanan dari Sicentor ke baderan cukup landai tetapi sangat panjang. Kami melintasi hutan yang kering dan hangus terbakar. Mungkin terbakar oleh matahari atau sengaja di bakar oleh tangan jahil. Lima jam perjalanan akhirnya kami menemukan padang savana yang sangat luas yang terkenal sebagai lapangan terbang nipon jepang. Memang di sabana ini masih tersisa bangunan2 berupa benteng dan juga gundukan2 tanah sebagai tempat latihan militer jepang. Jangan sampai anda tersasar memilih jalur di sabana ini. Dari Sicentor kita harus mengambil arah kiri dan melintas Sungai yang airnya di penuhi dengan enceng gondok dan tanaman air lainya. Perjalanan melintasi sabana ini cukup panjang, jika anda beruntung makan anda bisa menemukan Burung Merak disini. Saya sempat bertemu dengan Merak jantan yang terbang pas dihadapan kami. Kami sarankan untuk berhati2 karena jika anda mendapai merak, tidak jauh dari situ harimau akan menjadi ancaman serius anda. Hari gelap mulai menghantui perjalanan kami, dan kami berjalan tanpa henti sampai kaki ini sendiri yang menghentikan perjalanan kami karena kelelahan. Jam 10 malam kami terkapar tak berdaya di tengah hutan dan memutuskan untuk bermalam disitu. Segera kami membeber terpal dan memasak mie instant yang tersisa. Ada yang makan dan ada pula yang langsung tertidur pulas karena kecapekan. Udara di sini tidak dingin, menandakan tempatnya tidak begitu tinggi. Pagi menjelang dan kami segera melanjutkan perjalanan yang masih panjang. Empat jam perjalanan kami mulai kehabisan bahan bakar, dan dehidrasi pun mulai terasa. Akhirnya kami menemukan ladang penduduk dimana ditengah2nya terdapat aliran pet yang bocor. Terobati sudah rasa lelah dan dehidrasi yang mendera kami. Tengah hari kami sampai di desa Baderan. Kami segera hunting warung untuk mengisi perut kami yang sudahkangen dengan nasi. Di pertigaan dekat pangkalan angkot, kami menyantap nikmatnya masakan kampung Baderan. Perjalanan pulang kami lanjutkan dengan angkot dari Baderan ke Terminal Situbondo. Di terminal situbondo kami menyempatkan diri untuk Mandi dan Membersihkan diri. Perjalanan selanjutnya kami tempuh menggunakan Bus jurusan Situbondo – Surabaya. Sampai di Terminal Bungurasih sekitar puku 7 malam. Perjuangan panjang telah kami lewati bersama, dan kami benar2 kapok mendaki gunung Argopuro yang indah itu.

Argopuro 12

Argopuro 10

Argopuro 11