Sarinah Dept. Store: Awal dari Ekonomi Kerakyatan

Sarinah Dept Store

Setiap hari minggu di Jakarta Pusat selalu dilaksanakan Free Car Day. Event ini dimanfaatkan para warga Jakarta untuk berolahraga di sepanjang Jl. MH Tamrin dan Jl. Jend. Sudirman tidak terkecuali aku jika pas lagi di Jakarta. Aku tenteng tas kamera, niat jogging sekalian hunting foto. Mumpung tidak ada kendaraan bermotor yang berlalu lalang aku bebas jeprat-jepret di tengah jalan.

Pagi itu,  salah satu bangunan yang menyita perhatianku adalah bangunan Sarinah Dept. Store. Bangunan ini merupakan departemen store pertama di Indonesia dan sering disebut-sebut salah satu proyek mercusuar Presiden Soekarna. Namanya diambil dari nama pengasuh dan yang membesarkan Presiden Soekarno. Mengapa nama itu dipilih oleh Presiden Soekarno ? Karena dari Sarinah inilah beliau mendapatkan pelajaran tentang pentingnya arti rakyat untuk negeri ini.

Sarinah Dept. Store dibangun pada tahun 23 April 1963 dan diresmikan tanggal 15 Agustus 1966. Ada informasi yang mengatakan,  Sarinah direncanakan diresmikan tanggal 17 Agustus 1966, namun ada pula yang mengatakan direncanakan peresmiannya pada Hari Ibu tanggal 22 Desember 1965. Karena saat itu inflasi sedang membumbung tinggi, proyek ini mendapat kritik dan kecaman. Menurut Presidesn Soekarno, tujuan pembangunan Sarinah adalah menciptakan pusat perbelanjaan sekaligus promosi produk – produk dalam negeri baik itu dari pertanian maupun industri rakyat. Bangunan ini dirancang oleh Abel Sorensen yang juga arsitek dari Hotel Indonesia.

Dan sekarang Sarinah masih bisa dikatakann sebagai show room produk – produk khas budaya Indonesia, walaupun ada juga bagian dari Sarinah yang menjual brand luar negeri, salah satunya Mc Donald, KFC dan MU Cafe. Dan selama ini kalau ke Sarinah, aku lebih sering ke KFC daripada naik ke atas untuk melihat produk – produk dalam negeri.

SMT 2 : Bangkok – Haadyai – Penang – KL

Tanggal 20 Mei 2009 sore kami meninggalkan Bangkok menuju ke  Malaysia. Namun karena kami tidak mendapatkan KA jurusan langsung Butterworth maka kami memilih KA Sleeper Class yang hanya sampai Haadyai dan berencana naik minivan untuk menuju Pulau Penang.

Saat pertama kali mengetahui wujud gerbong sleeper class – economy, kami rada kecewa. Keadaanya mirip kelas bisnis KA Indonesia dan kami tidak menemui bed buat tidur, yang ada hanya dua kursi yang berhadapan. Tapi saat malam telah tiba, misteri bagaimana kami tidur terjawab. Ternyata dua kursi yang berhadapan tersebut bisa di transformasi menjadi satu bed. Dimanakah satu bed lagi ? diatas kursi terdapat semacam kapsul yang bila dibuka merupakan suatu bed. Akhirnya kami bisa beristirahat dengan tenang selama 14 jam perjalanan.

Sesampai di Haad Yai (21 Mei 2009), sudah banyak angkutan yang menawarkan ke segala tujuan. Namun kami memutuskan untuk sarapan terlebih dahulu. Tidak sulit bagi kami menemukan warung masakan halal di Haadyai, karena di depan stasiun  ada beberapa warung muslim. Dan menurut informasi , di Haadyai mayoritas beragama Islam, mungkin karena Haadyai merupakan kota yang berbatasan dengan Malaysia.

Setelah selesai sarapan kami menuju Malaysia via embarkasi Sadao – Changloon dengan Minivan Travel pukul 13.00 WT. Di embarkasi Sadao Thailand antrian pemeriksaan passport sangat panjang. Saat giliran passportku di periksa terasa begitu lama. Petugas imigrasi berulang-ulang men-scan passporku, cuman keliatannya ga bisa. Sampai-sampai raut muka si petugas terlihat jengkel dan mencoba memasukkan id-number secara manual.  Kalo tetap saja ga masuk bisa-bisa jadi tersangka pengguna passport palsu nech,………untung akhirnya bisa juga. Masalah ini ternyata dialami juga dengan rekanku yang lain.

Semua beres kamipun melintasi perbatasan antara Thailand dan Malaysia. Penasaran dengan batas darat antar negara, aku tetap menjaga konsentrasi :D untuk melihat bagaimana wujud sebenarnya batas darat antar negara tersebut. Ternyata selain gerbang keluar masuk negara, melintang tembok beton tinggi lengkap dengan kawat duri yang panjang, tapi aku tidak tahu apa tembok itu memanjang hingga ujung timur dan barat ( masih penasaran juga). Kemudian kamipun masuk ke embarkasi Changloon. Disinilah untuk pertama kali kami mengalami pemeriksaan penyakit flu babi ( virus H1N1). Pemeriksaan berupa scanning suhu tubuh. Sempat aku takut tidak lolos, karena pada saat itu aku sedikit demam sejak dalam perjalanan menuju Haad Yai. Dan kekawatiran itupun terbukti aku tidak lolos scanning !!! Sebenarnya hanya Purwo dan Ervan yang lolos, tapi kemudian untuk scanning kedua Mantos, Edo dan Chimot lolos, sedangkan aku baru scanning keempat baru dipersilahkan masuk.

Masalah lain muncul setelah mendapatkan visit pass. Edo diinvestigasi karena membawa sesuatu yang berunsur logam, dan itu adalah tripodku. Dia ditanyai kenapa bawa tripod tapi tidak membawa kamera. Untung masalah tidak berlarut-larut, kami pun bisa melanjutkan perjalanan menuju P. Penang. Tapi baru beberapa puluh meter kami keluar embarkasi, minivan kami diperhentikan oleh Polis Diraja Malaysia untuk pemeriksaan yang menurut kami useless banget.  Karena begitu tahu beberapa penumpang minivan adalah WNI mereka langsung meminta passport kami,padahal penumpang lain yang warga Thailand tidak diminta passportnya. Ketika memeriksa passport pun mereka cuman melihat-lihat secara manual passport kamu tanpa menggunakan alat khusus scanning seperti di embarkasi dan tanpa melihat wajah kami. Pemeriksaan yang aneh. Segitu burukkan image orang Indonesia ? Tapi kami berusaha positive thinking saja, mungkin ini demi ketertiban negara mereka.

Perjalanan menuju Pulau Penang sekitar 4 jam dari Haadyai. Sebelum memasuki Pulau Penang kami melintasi Penang Bridge yang mempunyai total panjang 13, 5 Km, sebuah jembatan melintasi laut. Kami kesorean sampai di Penang, tidak sempat menikmati sunset di Batu Peringgi tapi kami masih sempat belanja oleh-oleh dan menikmati Penang. Pukul 23.00 WP kami melanjutkan perjalanan menuju Kuala Lumpur dengan bis.

Staminaku mulai habis, kesehatanku pun menurun dan demamku semakin tinggi

Catt :

1. Bangkok (Huang Lampong )- Haadyai : KA Sleeper Class,  TBH 600

2. Haadyai – Penang : Mini Van, RM 40

3. Penang – Kuala Lumpur : Bis Exc, RM 40

Sop Iga Bakar Waroeng Bandung

Dalam perjalanan dinas menuju Bogor dari Pameungpeuk via Tol Cipularang saya dan rekan kantor menyempatkan sarapan di Rest Area Km 82. Sempat bingung makan apa, namun pilihan jatuh ke Waroeng Bandung. Kebetulan disitu rekan dari Tasikmalaya juga lagi sarapan.

Menu andalan Waroeng Bandung adalah Sop Iga Bakar. Penasaran gimana tampilan dan rasanya, langsung saya pesan saja menu ini. Tentu saja saya pilih yang Lada Hitam, rasa favorit saya. Sambil nunggu masakan datang saya nikmati teh manis hangat. Hmmm… sangat cocok buat suasana dingin di pagi hari yang cerah.

Wah…..akhirnya datang juga. Ternyata Sop Iga Bakar ini disajikan layaknya penyajian steak plus nasi dan semangkuk kuah sop. Iris-iris, lepaskan semua dari tulangnya, tambah sedikit sambal, kombinasi dengan nasi putih yang panas, kemudian………..Wow..weunak tenan…………. Lalu saya coba kuah sopnya, ….segar nan mantap. Kekurangannya (bagi saya) adalah rasa lada hitamnya kurang greget dan mungkin jika kuahnya ditambahin beberapa tetes jeruk nipis akan semakin membuat segar. Secara keseluruhan Sop Iga Bakar ini enak dan nikmat buat sarapan di pagi hari. Saya bisa menikmatinya cukup dengan IDR 30.000 untuk satu porsi Sop Iga Bakar.

Puas menikmati masakan, saya pun melanjutkan perjalanan menuju Bogor.

Bundaran Hotel Indonesia : Tugu Selamat Datang

HI

Pada suatu hari ( :D ) malam senin, aku dan Ervan bingung mau ngapain. Pengen motret tapi ga ada objek yang menarik. Kemudian muncul ide motret Bundaran HI di sore hari. Kamipun berangkat pukul 16:30 dari Bekasi menuju Jakarta dengan Bis AC05 dilanjut ke Jl. Tahmrin dengan busway.

Bundaran Hotel Indonesia dengan Tugu Selamat Datangnya adalah satu dari sekian banyak Jakarta building icon. Bangunan monumental ini berdiri di pertemuan Jl. Tamrin dan Jl. Sudirman. Posisinya sendiri berada pada sumbu axis  utara – selatan yang menghubungkan Pelabuhan Tanjung Priok di utara dengan Kebayoran di sisi selatan.Bundaran HI sendiri merupakan taman air.

Di tengah-tengah BHI yang memiliki diameter 100 meter terdapat patung sepasang pemuda – pemudi yang melambaikan bunga. Ini lah yang disebut Tugu Selamat Datang.  Ide bangunan ini dari Presiden Soukarno dan dikerjakan oleh pejabat Wakil Gubernur Jakarta saat itu, Henk  Ngantung. Dengan setinggi 7 meter dan terbuat dari perunggu, patung tersebut berdiri di atas dua tiang beton setinggi 30 meter.

BHI ini bisa dikatakan merupakan satu kesatuan dari Hotel bintang 5 tertua di Asia Tenggara, Hotel Indonesia  (sejak 20 Mei 2009bernama Hotel Indonesia-Kempinski).  Hotel yang dianggap proyek mercusuar Presiden Soekarno ini dibangun dalam rangka pergelaran besar Asian Games IV 1962. Dalam pembangunannya Presiden Soekarno mengobarkan slogan ” A Dramatic Symbol for Free Nation Working Together. Arsitek dari bangunan ini adalah Abel Sorensen dan istrinya Wendy Sorensen yang berkebangsaan Amerika. Dengan diresmikannya Hotel Indonesia pada 5 Agustus 1962, Bundaran HI beserta Tugu Selamat Datang seakan menunjukkan sambutan yang ramah Bangsa Indonesia dalam menyambut duta-duta olahraga Asian Games 1962.

Hmmmm…..btw sampai juga akhirnya di Bundaran HI. Ok !! ayo Van kita jeprat-jepret !!

Slamet Part#3: Api abadi di tengah2 pulau Jawa

Catatan Pendakian Gn. Slamet (3428 mdpl), part 3 (go home)

Hampir semua pendaki yang ingin turun dari Dusun Bambangan akan mencarter mobil untuk langsung menuju terminal ataupun stasiun Purwokerto. Dengan pertimbangan harga tidak akan jauh berbeda dengan jika turun dipertigaan Serayu dan naik bis lagi. Apalagi jika hari sudah sore, maka memang hanya itulah pilihan satu-satunya. Karena bis Purwokerto – Pemalang dan sebaliknya, terakhir pukul 5 sore.

mobil-bak.jpgMobil disini adalah mobil pick up dengan diberi terpal diatasnya. Kami berempat bergabung dengan rombongan lainnya, sehingga sekitar 8 orang, sehingga total 12 orang. Dua orang duduk didepan karena mereka adalah cewek. Walaupun posisi dibelangkang yang kurang nyaman, namun karena kelelahnya kamipun tetap dapat tidur dengan nyenyak. Dengan sesekali pada saat terbangun melihat sudah sampai manakan ini.

Kurang lebih dua jam, karena kecepatan mobil juga santai, kami tiba diterminal Purwokerto. Para rombongan Jakarta langsung menyerbu loket bis yang ternyata masih banyak tempat duduk yang tersisa. Mengingat ini masih hari Sabtu maka keadaan arus balik belum begitu terasa. Kami pun berpisah disini. Saya ditemani seorang teman saya yang ingin mudik ke Jember, menyempatkan sholat Maghrib dan Isya terlebih dahulu sebelum mencari bis jurusan Surabaya.

Setelah mendapatkan bis yang cukup nyaman, AC ekonomi, kamipun mengatur posisi tidur masing-masing. Rasanya mata sudah tak tertahankan lagi. Dengan ditemani alunan musik yang keluar dari speaker bis, kami pun terlelap, tak sabar untuk merasakan empuknya kasur lagi. Surabaya, I’m coming!

Dusun Bambangan – Terminal Purwokerto
# Carter (mobil bak terbuka) : Rp 15.000,- / orang (harga tergantung kondisi)
# Waktu : 2 jam
Purwokerto – Surabaya
# Bis mandala (jur. Bandung – Surabaya) : Rp. 65.000,-
# Waktu :11 jam