Slamet Part#2: Api abadi di tengah2 pulau Jawa

Catatan Pendakian Gn. Slamet (3428 mdpl), part 2 (pendakian)

Jumat, 21 Maret 2008, 06:00

Di dusun Bambangan ini sebenarnya terdapat base camp resmi pendakian yang terletak di akhir dari jalan aspal sebelah kanan jalan menjelang masuk gapura pendakian, namun kebanyakan pendaki sepertinya lebih menyukai untuk ber-base camp dirumah ibu Muheri, yang sudah dijadikan base camp oleh para pendaki sejak dahulu. Selain hangatnya karpet masih bisa kita rasakan disini, yang membuat kita serasa dirumah, keramahtamahan seluruh keluarga pemilik rumah membuat kita serasa menjadi tamu agung. Pemilik rumah terus menyuguhkan air hangat untuk para pendaki dan menyambut dengan senyumnya yang ramah ketika ada pendaki yang baru sampai.

Jika perut terasa lapar, atau jika ingin mengisi energi menjelang pendakian, kita juga bisa memesan makanan kepada pemilik rumah. Nasi hangat, sayur dan telur atau ayam benar-benar menggugah selera, mengingat setelah ini harus makan ala kadarnya ketika sudah berada dihutan. Ditoko Ibu Muheri juga menyediakan beberapa kebutuhan untuk kebutuhan pendakian, seperti air mineral, mie, sarung tangan, kerpus, dll. Dan yang paling menarik adalah disini juga menjual gantungan kunci, stiker, emblem, kaos (jika persedian ada) yang menggambarkan tentang pendakian Slamet yang bisa kita buat untuk kenang-kenangan. Saya pun sudah berencana akan memborongnya nanti ketika sudah turun gunung. Dan jangan lupa untuk melakukan proses registrasi pendakian, dengan menulis nama dan keterangan lainnya dan membayar Rp. 3.500 per orang.

slamet-from-bambangan.jpgSetelah tidur malam cukup pulas, dan perut pun sudah terisi penuh, rombongan saya siap untuk memulai pendakian. Hari cukup cerah. Dan dari luar rumah, puncak Slamet yang berwarna merah akibat tersinari mentari pagi berdiri gagah serasa memanggil kami, yang membuat kaki tak sabar untuk melangkah lagi. Sebelum pendakian teman saya mencatat nomer telepon base camp terlebih dahulu, sebagai jaga-jaga seandainya saja nanti digunung kami memerlukan bantuan. Dan dijaman seperti sekarang, tidak usah khawatir, walaupun lemah dan hilang timbul, namun sampai puncak pun sinyal masih dapat kita nikmati. Bismillah, tepat pada pukul 7.30 rombongan kami berangkat memulai pendakian. Pendakian Slamet melalui jalur Bambangan ini, saya menyebutnya adalah jalur ‘to the point’. Kita tidak perlu naik turun bukit. Kita akan dihadapkan langsung dengan kaki gunung Slamet, yang itu berarti jalur akan terus menanjak dan trek bonus bisa dikatakan sangat jarang sekali. Dan sepanjang pendakian puncak Slamet akan terus tampak didepan mata, kecuali jika berada didalam hutan.

gerbang.jpgSepuluh menit pertama kami berjalan menyusuri jalan berasal yang berada diantara rumah-rumah warga hingga tiba digapura pendakian. Gapura pendakian ini berada dipenghabisan jalan beraspal. Setelah memasuki gapura, jalan akan bercabang. Ambil jalan yang kekanan. Jalan yang kekiri adalah jalan menuju ladang penduduk. Kami terus berjalan menyusuri ladang penduduk dengan sungai yang mengalir cukup deras berada disebelah kiri jalur pendakian. Sekitar 15 menit kemudian terdapat papan keterangan milik Perhutani dan dibawahnya terdapat bak sampah besar, itu berarti kami telah tiba di shelter lapangan. Disebut shelter lapangan karena dibelakang bak sampah tersebut terhampar lapangan rumput yang cukup luas, yang jika anda kurang kerjaan bisa menyempatkan bermain sepak bola terlebih dahulu. Disudut lain juga tampak air terjun kecil yang cukup indah. Dan sepertinya shelter lapangan ini tidak begitu istimewa, tapi ternyata – dari istilah buku komik detektif – memainkan trik psikologis yang cukup indah. Yang membuat pendaki yang baru pertama kali mendaki gunung Slamet lewat jalur Bambangan seperti kami ini, menghabiskan 2 jam mondar-mandir ketika turun gunung nanti. Tapi tenang, seperti kata saya tadi ini hanya permainan psikologis, tidak terlalu berbahaya.

sketsa.jpgIni adalah denah jalur sederhana yang bisa saya buat. Denah ini saya buat berdasarkan kesimpulan saya. Dan jika ada yang hendak mengoreksi, monggo silakan. Sudah menjadi naluri, apalagi untuk pendakian pertama, pendaki akan mengambil jalan yang paling masuk akal jika terdapat percabangan. Masuk akal disini bisa mengambil jalan yang menanjak, atau jalan yang paling sering dilalui, atau jalan yang setipe dengan jalan yang sebelumnya, dan lain-lain. Apalagi jika percabangannnya tidak tampak, maka dengan santai kita akan melangkah terus. Nah, ketika kami melewati shelter lapangan ini, jelas kami dengan santai melangkah terus melewati jalur II, karena memang tidak tampak percabangan didaerah ini, lagipula jalan setapaknya sangat jelas berbelok mengarah ke jalur II. Dan memang seakan-akan tidak ada yang terjadi karena jalur ini memang mengarah kearah yang benar, yaitu jalur menuju puncak. Permasalahannya muncul ketika nanti kami turun gunung. Ketika turun gunung, pendaki akan digiring ke jalur I, karena meskipun tampak percabangan namun jalur dari atas menyatu dengan jalur yang berbelok ke jalur I. Untuk yang menuju jalur II, tampak seperti jalur yang lebih jarang dilalui. Kebingungan mulai muncul ketika jalur ini tepat menyatu dengan pinggiran sungai. Padahal kami yakin sekali pada saat naik tidak pernah melalui jalur ini. Inilah yang membuat kami naik turun tidak karuan untuk mencari jalur yang benar. Dan jikalau tidak bertemu dengan pendaki yang sudah paham betul jalur ini, maka bisa sampai malam kami mondar-mandir. Percabangan disisi atas inilah yang disebut pos Payung. Karena sebelumnya disini terdapat shelter berbentuk payung. Namun pada saat sekarang sudah tidak ada lagi, entah digerus oleh alam atau ada pihak yang tidak bertanggung jawab mengambilnya. Dan menurut orang yang sudah berpengalam di jalur ini, jalur I adalah jalur yang jauh lebih pendek dibanding jalur II, jalur II lebih memutar, dan lintasannya pun relatif lebih tidak licin. Jadi, mau pilih yang mana, terserah saja. Anehnya, sepertinya masih ada satu jalur lagi, karena ketika saya turun lewat jalur II saya merasa ada bagian yang hilang, karena pada saat naik lewat jalur II kami mendapati pondok ladang warga yang pada saat turun kami tidak mendapatinya. Tapi saya tidak tahu apakah itu benar atau tidak, dan kalaupun benar dimanakah percabangannnya saya juga tidak tahu. Tapi tenang saja, sepertinya semua jalur tetap menuju tujuan yang tepat. Seperti pepatah, banyak jalan menuju puncak J

Kembali ke perjalanan menuju puncak. Selepas Pos Payung ini jalan terus menanjak dan masih terbuka lebar. Dengan terkadang masih didapati ladang penduduk dikanan kiri jalur. Setengah jam berlalu akhirnya ‘peradaban’ mulai berganti, kami mulai memasuki hutan tropis. Seperti biasa, perjalanan didalam hutan tropis ini cukup rindang dengan aroma pepohanan yang khas. Pohon-pohon besar berdiri kokoh terbentang disepanjang perjalanan. Menurut literatur yang kami baca, sekitar 2 jam perjalanan setelah Pos Payung seharusnya kami akan mendapati pos II, Pondok Walang. Namun entah karena tidak ada plakat atau ada plakat namun kami tidak melihatnya, 2 jam berlalu tanpa tahu kami sudah melewati pos 2 atau belum. Nama Pondok Walang diambil dari bentuk cabang pohon yang ada di tempat itu yang menyerupai bentuk belalang. Namun menurut beberapa pendapat lain nama Pondok Walang diambil karena ditempat ini terdapat pohon yang penduduk setempak menamainya Pohon Walang. Dipondok Walang ini sudah tidak terdapat lagi pondok yang katanya sudah hancur, sehingga tanpa plakat kami yang baru pertama kali mendaki Slamet ini tidak akan pernah tahu letaknya.

pintu-gerbang-u.jpgTidak berapa lama kemudian, kami tiba di akar-akaran dua batang pohon yang setinggi satu meter lebih, yang orang-orang menyebutnya adalah ‘pintu gerbang’. Dahulu mungkin untuk berjalan terus pendaki harus memanjat akar pohon ini. Namun sekarang disamping pohon ini sudah terdapat jalan, sehingga pendaki tidak perlu memanjat lagi. Karena saya ingin mendapatkan kesan, maka walaupun lebih susah, saya merelakan diri untuk memanjat pohon ini. Dengan sampainya kami dipintu gerbang ini maka itu berarti kami telah melewati pos II tanpa kami sadari. Karena letak ‘pintu gerbang’ ini diantara pos II dan pos III.

pondok-cemara.jpgSekitar setengah jam kemudian kami tiba di pos III, Pondok Cemara. Jangan tertipu dengan kata-kata pondok dan cemara. Karena ditempat ini tidak ada pondok dan juga tidak ada cemaranya. Di pos III ini ada plakatnya, sehingga kami tahu. Kami sempatkan berfoto sebentar. Kemudian kami langsung tancap gas melanjutkan perjalanan. Dan kurang lebih setengah jam kami tiba di pos IV, Samyang Samarantu. Plakat pos IV ini terletak dibatang pohon yang melintang. Dan menurut penduduk setempak tempat ini baru saja terbakar. Pantas saja pohon-pohon di pos ini menghitam.

pondok-rangkah.jpgDengan tibanya kami di pos IV maka tidak berapa lama lagi, sekitar setengah jam, dengan meneruskan perjalanan maka kami akan tiba ditempat paling favorit untuk camp, yaitu Pos V, Samyang Rangkah. Kenapa favorit, karena tempat ini dekat dengan mata air. Di pos V ini terdapat pondok yang cukup luas, yang sanggup menampung puluhan orang. Dan karena kami cukup malas untuk membuka tenda, maka kami putuskan untuk bermalam didalam pondok. Sebenarnya pada awalnya kami berniat untuk camp ditempat yang lebih tinggi untuk meminimalisasi waktu untuk summit attack. Di Samyang Rangkah ini awalnya kami hanya berniat untuk masak-masak untuk makan saja. Namun karena tidak berapa lama setelah kami tiba di pos ini hujan lebat turun, maka memang lebih bijaksana untuk camp ditempat ini saja, dengan konsekwensi bangun lebih pagi untuk menuju puncak.

Setelah tidur tidak begitu pulas karena harus berdesak-desak dengan puluhan pendaki lainnya dan setelah makan cukup kenyang, tepat pukul 2.15 dini hari kami berangkat untuk menggapai sunrise dipuncak. Kami spare waktu cukup banyak dengan pertimbangan lebih baik kedinginan dipuncak daripada telat melihat sunrise. Maklum kami, terutama saya, terobsesi sekali dengan sunrise dipuncak. Tas kami tinggal didalam pondok. Kami hanya membawa makanan dan minuman secukupnya, serta mantel untuk berjaga-jaga jikalau hujan turun lagi.

Selepas pos V ini, tanjakan lebih kejam lagi. Tak terbayang jikalau kami harus membawa tas carrier kami. Namun bulan purnama yang cukup indah menemani perjalanan kami, membuat kami hanya terkadang menyalakan senter kami. Empat puluh lima menit kemudian kami tiba di pos VI, Samyang Jampang.

Dua puluh menit dari pos VI kami tiba dipos VII, Samyang Ketebonan. Di pos ini terdapat pondok seluas dan semirip dengan pondok yang ada di pos V. Pendaki yang ingin meminimalisasi waktu untuk menuju puncak biasanya camp ditempat ini.

Perjalanan kami teruskan hingga melewati Pos VII, Samyang Kendit dan terus hingga Plawangan. Kami tiba di plawangan sekitar pukul 4. Seperti gunung-gunung yang lain, plawangan berarti batas vegetasi. Diatas plawangan sudah tidak terdapat pepohonan lagi.

downhill2.jpgTrek selanjutnya adalah trek kerikil. Daerah ini disebut kawasan batu merah. Karena memang jikalau hari sudah terang, maka akan tampak jelas bahwa kawasan ini memang merah karena batuannya. Banyaknya kerikil-kerikil yang membuat kami merosot, maka secara naluriah kami tentu mencari batu yang cukup besar sebagai pijakan kami. Namun tidak semua batu besar tersebut kokoh menancap ketanah cukup dalam. Sehingga terkadang batu yang kami injak jatuh kebawah. Oleh karena itu, perlu diwaspadai, jikalau anda salah menginjak batu dan batu tersebut jatuh, maka sangat berbahaya bagi orang yang ada dibawah anda. Cukup untuk membuat kepala pecah dan jatuh terpelanting kebawah jika batu cukup besar. Jikalau memang batu yang jatuh, sebaiknya anda berteriak, “Awas batu!” untuk memperingatkan orang dibawah anda. Trek ini memakan waktu kurang lebih 1 jam hingga tiba benteng.

Benteng merupakan batuan besar memanjang menyerupai benteng pertahanan. Untuk menuju puncak maka kami berjalan kearah kanan sekitar 5 menit. Tepat pukul 5.15 kami tiba di puncak. Ufuk sudah mulai kemerah-merah yang membuat kami tidak sabar untuk berfoto-foto. Namun sebelum itu kami harus menunaikan kewajiban kami, yaitu sholat Subuh. Dan tak lupa kami mengucapkan syukur tak terkira atas kesempatan yang diberikan kepada kami untuk menikmati keindahan alam yang tak terkira ini. Setelah itu kami menghabiskan waktu untuk bergaya didepan kamera menyambut mentari pagi. Dibelakang kami, kawah Slamet terus mengepul. Dan dilautan pasir kawahnya tampak batu-batu tersusun yang menyebutkan nama-nama pendaki yang ingin meninggalkan kenangan-kenangan. Dari puncak ini tampak laut Jawa disebelah utara dan samudra Hindia disebelah selatan. Gunung Ciremai pun berdiri kokoh menembus awan disebelah barat laut. Dan yang jelas sangat indah adalah sunrise yang terlihat dibelakang jejeran gunung Sundoro, Sumbing, Merbabu dan Merapi.

puncak.jpg

  • Base camp Bambangan – Pos Payung : 1 jam
  • Pos Payung - Pintu Gerbang : 2 jam 45 menit
  • Pintu Gerbang – Pondok Cemara : 30 menit
  • Pondok Cemara – Samyang Samarantu : 30 menit
  • Samyang Samarantu – Samyang Rangkah : 30 menit
  • Samyang Rangkah – Samyang Jampang : 45 menit
  • Samyang Jampang – Samyang Ketebonan : 20 menit
  • Samyang Ketebonan – Plawangan : 40 menit
  • Plawangan – Benteng : 1 jam
  • Benteng –Puncak : 5 menit
  • Total perjalanan : 8 jam 5 menit

Slamet Part#1: Api abadi di tengah2 pulau Jawa

Catatan Pendakian Gn. Slamet (3428 mdpl), part 1 (perjalanan)

Rabu, 19 Maret 2008, 18:30

Libur dua hari, kamis dan jumat, ini tampaknya membuat orang-orang pendatang dari luar kota terangsang untuk mudik ke kampung halamannya masing-masing. Walaupun saya menyangka akan ada peningkatan lalu lintas yang mengarah menuju keluar kota Surabaya, namun saya tidak pernah menyangka bahwa jalanan bakal se-crowded ini. Mirip sekali dengan suasanan mudik lebaran. Dari tempat tinggal menuju terminal Bungurasih di Waru sana biasanya hanya memakan waktu 40 menit, kali ini saya menghabiskan waktu satu jam setengah. Itu pun harus berkali-kali harus melenggak-lenggok diatara mobil yang terjebak macet. Terkadang juga harus berhenti dalam waktu yang cukup lama karena penumpukan kendaraan. Kemacetan yang biasanya hanya saya dengar dari televisi yang memberitakan tentang kemacetan di Jakarta, kali harus saya alami sendiri dikota Surabaya ini. Walaupun terkadang macet, namun kemacetan di Surabaya biasanya hanya berada dibatas normal saja. Dengan kemacetan ini, saya hanya membayangkan jikalau di Jakarta harus mengalami kemacetan seperti ini setiap hari, maka Jakarta benar-benar kota yang sangat tidak menyenangkan.

Hujan rintik-rintik menemani saya melawan kemacetan ini. Belum lagi punggung yang membawa tas carrier yang terpontang panting kekiri dan kekanan mengikuti irama goyangan sepeda motor saya yang membuat punggung saya rasanya ditarik-tarik. Ditambah dengan sepeda motor yang saya tunggangi adalah sepeda motor berkopling, maka lengkaplah sudah, tangan kiri saya rasanya pegal sekali.

Setelah melalui perjuangan yang melelahkan, sekitar pukul 20 saya akhirnya tiba di terminal Bungurasih. Saya kemudian mencari tempat parkir untuk menitipkan sepeda motor saya. Dan saya pastikan tempat parkir itu buka 24 jam, untuk berjaga-jaga jikalau saya pada saat mengambil sepeda motor nanti datang tengah malam. Setelah sepeda motor terparkir dengan rapi, barulah saya menuju terminal. Dan seperti dugaan saya, melihat kemacetan tadi, suasana terminal juga sangat mirip mudik lebaran. Ramai tak terkira.

Saya yang biasanya pada saat mudik lebaran tidak pernah menggunakan jasa bis karena ketidaksukaan saya untuk berebut bis diterminal, kali ini ternyata harus mengalaminya malah tidak pada saat mudik lebaran. Sudah tidak memungkinkan lagi untuk menunggu bis diterminal keberangkatan. Orang yang menunggu disana sudah layaknya semut, berjubel sekali. Kalaupun ada bis yang datang, itupun sudah terisi penuh, karena orang-orang sudah naik ditempat parkir bis atau pada saat bis baru saja menurunkan penumpang. Saya pun karena tidak ingin berdiri sementara membawa carrier yang besar ini, berjalan terus menuju tempat parkir bis. Dan ternyata disanapun orang sudah banyak yang mengantri. Setiap ada bis yang datang, orang langsung berlompatan berebutan menuju pintu bis.

Saya sendiri belum memutuskan ingin naik bis apa. Untuk Surabaya – Purwokerto seharusnya ada bis yang langsung. Atau paling tidak bis jurusan Surabaya – Bandung seharusnya akan melewati Purwokerto, karena Purwokerto merupakan kota transit di yang menghubungkan berbagai kota di Jawa Tengah sana. Namun karena pertimbangan jumlah armada untuk trayek itu pastilah tidak begitu banyak, dan dengan banyaknya penumpang yang menunggu seperti saat ini, tentu jumlah kursi yang diperebutkan semakin tinggi. Oleh karena itu saya memutuskan untuk naik bis jurusan Surabaya – Yogyakarta saja.

Saya yang belum terbiasa dengan suasana ini harus mempelajari sejenak. Sumber Kencono pertama yang datang langsung direbut pelanggannya. Saya menemukan titik dimana bis akan mengurangi kecepatannya pada saat menikung, disanalah nanti saya putuskan untuk berebut naik. Karena jikalau menunggu bis berhenti, pintu sudah pasti dijejali calon penumpang. Saya menunggu bis kedua. Apapun bis itu, baik Sumber Kencono atau Mira, saya akan naik. Dan tidak berapa lama kemudian, Sumber Kencono kedua datang. Saya sudah berada diposisi yang saya rencanakan tadi. Walaupun ternyata banyak orang yang juga merencanakan hal yang sama. Ketika bis mengurangi kecepatannya, saya dan calon penumpang lain berlompatan menuju pintu. Saya hanya bisa meraih pegangan yang ada dipintu dan menempatkan satu kaki ditempat pijakan pintu karena pintu bis sekarang sudah dipenuhi orang. Saya harus berjuang ekstra karena tas dipunggung saya seakan menarik saya kebelakang. Begitu bis sudah berhenti, akhirnya saya bisa masuk. Dan untunglah tempat duduk paling belakang masih ada tersisa. Setelah saya menempatkan tas diatas kursi belakang, akhirnya saya bisa duduk dengan tenang.

Dan sekarang bis benar-benar penuh oleh penumpang. Jumlah penumpang yang berdiri sangat banyak sekali, hampir tidak menyisakan tempat untuk kondektur menarik karcis. Setelah membayar karcis, saya pun tertidur lelap. Angin dingin yang berhembus dari pintu belakang sudah tidak saya pedulikan lagi. Bis pun terus melaju. Saya terjaga ketika bis berhenti di teminal Ngawi. Kondektur mengumumkan bahwa bis akan berhenti sekitar setengah jam untuk mempersilakan penumpang yang ingin buang air ataupun ingin mencari makan.

Pukul 4.30 akhirnya saya menjejakkan kaki di bumi Yogyakarta. Tempat yang pertama saya tuju adalah toilet, karena saya sudah benar-benar kebelet sejak tadi. Setelah itu saya mencari musholla untuk menunaikan sholat Subuh. Mengingat keadaan masih pagi dan kemungkinan calon penumpang yang mengantri belum banyak, saya tidak ingin berlama-lama. Saya langsung mencari bis jurusan Purwokerto. Dan benarlah, jumlah penumpang dalam bis masih sedikit sehingga saya dengan leluasa memilih tempat. Sekitar pukul 5.15 bis pun meluncur.

Dalam perjalanan dari Wates menuju Purworejo, dari jendela saya melihat dengan jelas gunung Merapi dengan gagahnya berdiri menantang langit. Dan dibelakangnya juga tampak gunung Merbabu yang tidak mau kalah. Setelah semalaman harus duduk di bis dan kali ini juga harus duduk lagi, membuat pantat ini rasanya panas sekali. Sekitar pukul 10.45 saya akhirnya tiba di terminal Purwokerto.

terminal_purwo.jpgDiterminal Purwokerto ini keadaan ramai sekali. Ketika saya turun dari bis ini pun, para calon penumpang langsung berebut untuk naik. Tampaknya jika mereka menunggu diterminal keberangkatan bakal tidak dapat kursi. Para calo pun sibuk menanyakan tujuan setiap orang yang lalu lalang diterminal.

Kota Purwokerto ini adalah kota yang sangat strategis. Kota yang menghubungkan banyak kota. Kota ini menghubungkan Jakarta, Bandung, Jogja, Tegal, Semarang, Pemalang, Wonosobo, Temanggung, dll. Oleh karena itu saya menyebutnya kota transit. Jelas sudah mengapa terminalnya sangat ramai sekali. Bahasa disinipun juga sangat beragam. Orang setempat, termasuk yang dari tegal, kebumen berbicara dengan logat Banyumasan, ngapak-ngapaknya. Sedangkan orang dari jawa tengah dan timur lainya berbicara dengan logat jawa. Orang yang datang dari Jakarta berbicara dengan elu gue nya. Dan orang dari bandung dan sekitarnya berbicara dengan logat sundanya yang khas. Menyenangkan sekali duduk diterminal melihat berbagai macam orang.

Karena teman-teman saya yang dari Jakarta sepertinya baru datang sekitar pukul 3-4 sore, maka sisa waktu saya habiskan di masjid terminal. Banyak juga pendaki-pendaki lainnya yang saya temui disini. Rata-rata mereka juga akan mendaki Gunung Slamet, walaupun ada dua orang dari Bandung akan mendaki Gunung Merbabu dan Merapi.

bis_kecil.jpgTeman-teman yang saya nantikan akhirnya datang juga sekitar setengah empat sore. Setelah menunaikan sholat Ashar dan makan sesudahnya, karena takut kesorean dan tidak ada bis, kami langsung mencari bis jurusan pemalang. Dan untunglah ada bis terakhir yang belum berangkat. Ditemani mendung yang cukup pekat dan hujan rintik-rintik bis pun bergerak meninggalkan terminal Purwokerto. Kepada kondektur saya minta tolong untuk diingatkan jikalau sudah akan tiba dipertigaan Serayu, karena kami baru pertama kali kesini.

Sebelum Purbalingga kami melewati kota kecil Sokaraja yang terkenal dengan makanan khasnya yaitu gethuk goreng. Hampir semua toko yang menjual gethuk goreng yang saya lihat dari balik jendela bis bermerek ‘H. Tohirin’. Mungkin memang beliaulah pemrakarsa makanan ini. Saya sempatkan membeli ketika ada penjaja yang menjual makanan ini. Cukup dengan seribu rupiah saya sudah dapat menikmati gethuk goreng yang masih hangat ini. Dan rasanya benar-benar unik.

pertigaan_serayu.jpgSekitar setengah jam dari kota Purbalingga kondektur memperingatkan kami untuk bersiap-siap. Dan akhirnya kami tiba juga di pertigaan Serayu. Walaupun sudah Maghrib, karena ini musim pendakian, maka mobil-mobil carter tetap dengan setia menunggu pendaki yang ingin naik. Berhubung kami cuma berempat, maka kami harus menunggu pendaki lainnya mengingat kapasitas mobil mungkin cukup untuk 8-10 orang. Menurut keterangan mereka, jika pada musim pendakian dan malam telah larut, diteminal ataupun distasiun Purwokerto banyak sekali mobil carteran yang ngetem disana. Karena memang angkutan dari Purwokerto menuju pertigaan Serayu hanya sampai jam 5 sore. Jika jumlah rombongan cukup banyak maka harga carteran menjadi sangat terjangkau.

Pak sopir pemilik mobil carteran menawarkan dua opsi, jika kami ingin menunggu rombongan lainnya, satu orang hanya dikenakan biaya 15 ribu rupiah. Namun jika kami ingin berangkat sekarang maka perorangnya dikenakan biaya 25 ribu rupiah. Karena kami tidak yakin bakal ada rombongan berikutnya kami putuskan untuk naik langsung saja. Dengan kecepatan naik yang luar bisa, tampaknya sopir benar-benar sudah sangat lihai dilintasan menanjak ini, sekitar 40 menit kemudian kami tiba di dusun Bambangan. Udara khas pegunungan mulai terasa. Membuat kami benar tak sabar menunggu esok hari.

Surabaya – Yogyakarta
# Bis Sumber Kencana : Rp 42.000,-
# Waktu perjalanan : 8 jam
Yogyakarta – Purwokerto
# Bis Baker : Rp. 23.000,-
# Waktu perjalanan : 4 jam 30 menit
Purwokerto – Pertigaan Serayu
# Bis Lestari (jur. Purwokerto – Pemalang) : Rp. 6.000,-
# Waktu perjalanan : 1 jam
Pertigaan serayu – Dusun Bambangan
# Carter (carry) : Rp. 25.000,- / orang (harga tergantung kondisi)
# Waktu perjalanan : 45 menit

SMT 1 : Dari Jakarta ke Bangkok

Welcome 2 Thailand

Berawal dari ide Mantos dan Chimot yang saat itu camgkruk ngalor ngidul di warkop favorit kita, Kita berenam memutuskan pergi ke tiga Negara ( Thailand, Malaysia dan Singapore) dalam 10 hari pada 16 – 24 Mei 2009.

Sebagai pencetus ide, Chimot dan Mantos bertanggung jawab menentukan schedule, objek wisata, akomodasi dan browsing “how to get in ‘n out “. Purwo sendiri bertugas reservasi penginepan. Sedangkan yang lain cuman terima jadi dan siap berangkat.

Semua persiapan dilakukan jauh-jauh hari. Pemesanan Pesawat Air Asia dilakukan Mantos di bulan Februari. Kostum kami mulai masuk produksi pertengahan April, tanpa melalui perdebatan panjang soal desain hanya sedikit bermasalah mencari vendor kaos yang mau menerima pesanan 12 kaos untuk 2 desain.Pemesanan hostel dan penukaran uang dilakukan di bulan Mei. Untuk paspor hampir semua sudah punya, kecuali Chimot dan Son. Namun kedua bisa menyelesaikan masalah tersebut seminggu sebelum keberangkatan.

H-1 satu pun tiba. Bukan kepalang gembiranya hati ini, apalagi buat beberapa dari kami yang belum pernah ke mancanegara ( khususnya 2 orang yang baru punya passport). Chimot (dari Surabaya) sudah di Bekasi sejak tanggal 13 Mei untuk meng-fix-kan persiapan. Saat J-6 Ervan dan Son masih menyempatkan nonton Angels & Demons di XXI dan baru pukul 02:00 mereka berdua packing barang. Padahal kami berencana 03:30 berangkat dari BEKAS1.

Tepat pukul 03:30, kami meninggalkan BEKAS1. Di depan gang Edo dan Purwo sudah menunggu. Kami pun langsung menuju pool bus bandara di belakang Giant Bekasi. Pukul 04:00 kami berangkat menuju Cengkareng. Sampai di bandara, kami langsung check-in, mengurus bebas fiskal dan menunggu keberangkat…………kemudian berangkat menuju LCCT Kuala Lumpur, Malaysia, sesuai jadwal.

Pukul 08.25 (WIB) kami sampai di LCCT. Pada saat itu belum ada pemeriksaan H1N1 namun beberapa penumpang sudah banyak yang memakai masker ( begitu juga saat tiba di Svarnabhumi, Thailand ). Di sini kami menunggu jadwal keberangkatan ke Bangkok pukul 13. Kenapa kami memilih transit dulu ke LCCT, tidak langsung Jakarta – Bangkok ? Karena ini lebih murah sekitar 600 ribu daripada langsung ke bangkok. Sempat kami bingung karena jadwal keberangkatan belum tertera di LCD, padahal satu jam lagi kami harus berangkat. 15:30 WKL kami meninggalkan Malaysia menuju Bangkok.

Penerbangan memakan waktu sekitar 2 jam perjalanan. Sesampai di Svarnabhumi kami kagum dengan bangunan bandara yang besar, bersih, modern dan tetap mempunyai ciri khas budaya Thailand. Keluar bandara kami ditawari paket-paket tour, tapi sesuai kesepakatan dari awal bahwa kami tidak menggunakan agen tour maka kami menggunakan taxi untuk menuju Shukumvit 11, daerah dimana kami akan menginap.

Pulau Sempu : Pantai imut dan indah yang terasingkan

Pulau Sempu (xx-yy lupa  2006)

Pulau Sempu adalah pulau kecil yang terletak di sebelah selatan kabupaten Malang Jawa Timur. Pulau ini memiliki luas kira2 8 meter persegi yang berjarak sekita 1 km dari daratan P Jawa. Pulau sempu terkenal dengan keindahan Pantai Segara Anak nya yang berpasir putih dan masih alami. Pantai Segara Anak ini sebenarnya adalah danau air laut yang terbentuk dari bocoran ombak pantai selatan yang menghantam tebing batu yang tepat berada di sebelah selatan P Sempu. Tebing batu yang berlobang tersebut merupakan jalan masuk air dari pantai selatan ke danau ini sehingga air dari danau ini pun rasanya asin, bahkan kadungan garamnya sangat tinggi karena tingkat penguapan yang tinggi pula. Danau Segara Anak seluas 2 x lapangan bola ini memiliki pasir putih yang sangat indah seperti pantai2 berpasir putih pada umumnya. Keistimewaan dari danau ini adalah, kita serasa berada di pantai indah yang terasing dari keramaian orang dan seakan2 pantai ini adalah milik kita sendiri. Selain menikmati indahnya indahnya pantai, kita juga bisa menaiki tebing yang membatasi pantai ini dengan laut selatan. Dari atas tebing ini kita bisa menikmati hamparan luas laut selatan dengan ombaknya yang dasyat menghantam dinding tebing yang kita naiki. Kalau beruntung kita juga bisa menyaksikan kawanan ikan Lumba2 yang sedang bermain bersama ombak. Pada kesempatan kali ini kami ber-5 yaitu (Saya, Chimot, Ucup, Ketut dan Alm. Primeri) mencoba menjadi surviver di pulau tak berpenghuni ini selama 4 hari.

Perjalanan Surabaya – Sendang Biru

Sempu8Rencana ke pulau sempu awalnya adalah ide dari teman kami ketut yang sudah banyak mendengar keasyikan dari pulau ini. Selanjutnya kami mengumpukan informasi untuk menuju ke lokasi. Akhirnya Alm Primeri menawarkan diri untuk gabung dan menggunakan mobilnya. Selanjutnya kami menyiapkan bekal apa saja yang akan dibawa kesana, diantaranya adalah tenda dan bahan makanan. Kami bukanlan petualang kaya melainkan surviver bermodal nekat apa adanya. Perlengkapan tenda kami gantikan dengan terpal dan tali temali sedangkan kompor kami gantikan dengan minyak tanah dan kaleng bekas. Untuk makananya kami membawa nasi dan mie instant 1 kardus. Tidak lupa kami membawa jerigen untuk membawa air tawar untuk memasak dan minum karena sumber air tawar disana sangat jauh dari danau. Setelah perlengkapan selesai, kami berangkat pada hari kamis siang menuju kabupaten malang. Perjalanan menggunakan mobil pribadi akan lebih cepat dibandingkan menggunakan angkutan umum. Jika kita menggunakan angkutan umum, terlebih dahulu kita naik bus jurusan Surabaya-Malang selanjutnya oper angkot dari terminal Arjosari ke Gadang dan oper lagi ke desa Turen. Kami memulai perjalanan dari Surabaya sekitar jam 10 pagi, sampai di kota malang jam 12 siang. Perjalanan dari kota Malang ke desa Turen membutuhkan waktu kurang lebih 2 jam, kami sampai di Sendang Biru sekitar pukul 2 siang. Memasuki pintu masuk Kawasan Wisata Sendang Biru setiap orang di kenakan biaya sebesar 1000 rupiah, sedangkan untuk mobil 5000 rupiah. Sampai disini kami mampir di warung untuk mekan siang menjelang sore. Selagi menyantap makanan, kami di tawari jasa penyebrangan ke Pulau Sempu oleh bapak pemilik warung. Kami juga ditawari parkir mobil di depan warung dengan ongkos yang lumayan murah yaitu Rp 20.000,- untuk 3 hari 3 malam. Setelah selesai menyantap makan siang, kami segera mengikuti bapak pemilik warung menuju dermaga perahu motor yang sudah bersandar di dermaga pantai Sendang Biru.

Perjalanan Sendang Biru -Danau Segara Anak

Sempu7Dengan merogoh kocek 40 ribu rupiah, kami menyewa perahu motor untuk menyeberang ke pulau Sempu yang tidak jauh dari pandangan mata. Perjalanan dari pantai sendang biru ke tempat masuk hutan menuju danau segara anak memerlukan waktu kurang lebih 20 menit. Perjalananpun terasa sangat menyenangkan mengingat ini pertama kalinya kami naik perahu motor menyebrangi lautan. Perasaan was2 karena takut perahu ada gangguan mesin dan macet di jalan sebenernya ada di dalam pikiran, tetapi masih kalah dengan pengalaman pertama yang menantang ini. Dengan keahlian nahkoda kapal yang tidak lain adalah nelayan setempat maka perahu yang kami tumpangipun bisa melewati ombak lautan yang menghadang kami. Setelah 20 menit perjalaan akhirnya kami sampai di pinggir pulau sempu dan turun di karang karena waktu itu air sedang surut sehingga perahu tidak bisa sampai ke batas pulau. Sebelum meninggalkan perahu terlebih dahulu kami janjian untuk di jemput pada hari Minggu siang sekitar jam 10 pagi. Mengingat tidak ada perahu rutin yang beroperasi untuk trayek Sedang biru – pulau Sempu maka kita harus melakukan janjian penjemputan kepulangan kita pada hari dan jam yang telah di sepakati. Jika kita tidak melakukan janjian, bisa2 kita akan jadi Tom Henk di filmnya Cast Away sampai berjenggot disini. Setelah melewati perjalanan laut, kami menyusuri jalur darat di tengah hutan. Kami harus melakukan perjalanan memotong pulau mengingat tadi kami turun di sebelah utara P Sempu, sedangkan danau Segara Anak berada di sebelah selatan pulau. Perjalanan melewati hutan lebat kami tempuh dalam waktu sekitar 2 setengah jam. Hari hampir gelap kami akhirnya sampai juga di Danau yang amat sangat indah itu. Pengen rasanya segera menceburkan diri ke danau dan berenang sepuasnya, walaupun gaya batu karena sebagian dari kami tidak bisa berenang termasuk saya :D . Sebelum gelap kami mencari tempat untuk mendirikan tenda (baca: Tenda dari terpal) di bibir pantai imut ini.

Pulau milik kami sendiri

Sempu4Setelah mendirikan tenda, sebagian dari kami menyiapkan makan malam dan sebagian lagi bermain di pantai. Waktu itu pantai terasa sangat sepi dan benar2 tak berpenghuni karena hanya ada kami di situ. Setelah malam tiba baru ada sepasang bule (baca: turis asing) yang datang dan berkemah di sebelah tenda kami. Karena sudah kemalaman, dan mungkin mereka tidak membawa senter maka bule yang cowok meminjam senter pada kami. Hmmm……….jika kami tidak berada disini, mungkin mereka serasa memiliki pantai ini ber-2 saja. Pantai yang imut dan cantik mungkin tempat yang sangat romantis untuk bulan madu berdua, jadi pengen bulan madu kesana neeh :) . Setelah menyantap makan malam, kami bermain2 sejenak d pantai yang sudah mulai pasang airnya karen cahaya bulan. malam semakin larut, akhirnya kami tertidur dengan nyenyaknya. Berkemah di pantai tidak seperti di Gunung, di pantai udaranya hangat sedangkan di gunung udaranya sangat dingin mnusuk tulang. Pagi hari kami bangun dan memulai aktivitas pagi dengan berlari2 kecil di pinggir pantai berpasir putih itu. Seharian terasa pantai ini milik kami dan sepasang bule eropa tadi karena sampai malam tidak ada orang yang berkunjung ke tempat ini. Puas bermain-main dan berenang di pantai, kami mencoba memancing ikan dengan sisa2 kail yang ada di pinggir danau. Walaupun ikanya banyak, tapi tak satupun ikan yang kami dapatkan (lagi sial :( ). Sore menjelang, kami mencoba mencari kerang dan kepiting laut saat air danau surut. Saat air danau surut, kita bisa memanfaatkanya untuk berburu kerang dan kepiting. Tak jarang kami tertipu dengan selongsongan rumah kerang yang berada di dasar pantai. Lama sudah kami mencari buruan, hanya beberapa kerang dan seekor kepiting kecil yang kami dapatkan. Tak mau menyia-nyiakan pengorbanan, kamipun membakarnya dan menyantapnya rame-rame. Tidak sebanding dengan usahanya yang ber-jam2, sekali santappun langsung ludes masuk ke perut. Hari yang sangat mengasyikkan, kami lupa akan kepenatan mengerjakan Tugas Akhir di kampus. Sebelum malam datang, hujan mengguyur kami cukup deras. Bukan malah masuk ke dalam tenda melainkan kita ber-5 malah asyik menikmati guyuran hujan sebagai ritual mandi air tawar. Kami memanfaatkannya untuk membersihkan diri dengan sabun karena sabun tidak akan berfungsi jika kita mandi menggunakan air laut. Kami juga menadahkan air hujan untuk tambahan air minum kami, maklum krisis air tawar. Hari pertama kami kuasai sendiri pulau ini, berbagi kekuasaan dengan sepasang bule eropo itu saja. Hari mulai gelap, kami masuk ke tenda untuk beristirahat sejenak setelah bermain seharian. Keesokan harinya, sabtu pagi kami memulai aktifitas lagi di sepanjang pantai ini. Kami mencoba naik ke atas tebing dan menyaksikan deburan ombak pantai selatan yang sangat dasyat dan mengerikan. Walaupun tidak sampai puncak tebing, tapi kami sudah bisa menyaksikan hamparan laut selatan yang begitu luas dan ganas itu. Setelah agak siang, kami mendengar suara anak2 yang berteriak dari arah hutan. Ternyata banyak sekali anak smp yang melakukan tour kesini bersama pembinanya. Pantai ini mulai ramai dan berisik karena terlalu banyak orang. Ketenanganyapun mulai terusik oleh suara2 anak2 yang sedang bermain. Pantai yang tadinya terasing dan tenang sekarang berubah menjadi tempat bermain anak2 yang ramainya melebihi taman kanak2. Cukup sudah kami menikmati dan memiliki panati ini seharian kemarin, biarlah orang lain yang ganti memilikinya.

Sempu3

Sempu9Sempu2

Sempu5

Meninggalkan keterasingan

Setalah mengasingkan diri selama 2 hari 3 malam, kami akhirnya meninggalkan tempat cantik yang terasing ini. Minggu pagi kami berkemas2 dan melakukan perjalanan pulang ke Surabaya. Jam 10 pagi kami janjian dengan perahu nelayan yang menjemput kami. Jam 8 kami mulai beranjak meninggalkan rumah kami dengan membawa sejuta kenangan indah. Sampai di tempat penjemputan sekitar pukul 10 pagi, perahu kami belum juga datang disini. Kami menunggu dengan santai selama kurang lebih setengah jam, akhirnya perahu kamipun datang. Maklum ombak agak besar sehingga perjalanan perahu motor agak terhambat. Sampai juga kami di daratan jawa dan membayar ongkos perahu sebesar 40rb rupiah. Selanjutnya kami menuju warung tempat kami menitipkan mobil kemarin. Setelah makan siang dan menyelesaikan urusan pembayaran, kami segera bertolak kembali ke Surabaya. Inilah akhir dari petualangan kami di Pulau Sempu, rindu rasanya kembali ke situ. Untuk mengobati rasa rindu camping di Pulau Sempu, kami berencana untuk Camping di Pulau Seribu yang tidak berpenghuni. Mudah2an bisa segera terealisasi rencana kami ini….Sempu6

*** In Memorian : Primeri Listriko – > Pemilik sekaligus driver mobil Carry yang kami naiki bersama. Meninggal dunia karena sakit kangker beberapa tahun kemudian.

Sindoro : Dari kebun teh sampai padang edelweis

Sindoro 13 – 14 Juni 2009

Gunung Sindoro terletak di provinsi Jawa Tengah dengan ketinggian 3136 mdpl, tepatnya terletak di kabupaten Wonosobo. Gunung ini bersebelahan dengan Gunung Sumbing yang berada di sebelah tenggaranya. Dua buah gunung ini yaitu Sumbing dan Sindoro seperti gunung kembar jika di lihat dari kejauhan. Jalur pendakianya pun berdekatan yang terletak diantara dua gunung ini, yaitu desa Kledung untuk pendakian ke SIndoro dan desa Garung untuk pendakian ke Sumbing. Gunung Sindoro memiliki 2 jalur pendakian favorit, yaitu jalur Kledung dari Timur dan jalur Sigedang dari barat daya. Adapaun larangan untuk para pendaki pada hari pasaran jawa “Wage” dan hari Selasa pasaran “Kliwon”. Gunung ini terkenal dengan padang Edelweis yang sangat luas di atas puncaknya. Pada kesempatan kali ini saya kembali melakukan duet yang ke dua kalinya dengan teman setia saya yaitu Chimot. Pendakian duet pertama kami lakukan ketika mendaki Gunung Arjuno pada tahun 2006. Kali ini kami memilih untuk mendaki melalui jalur Segedang dan turun di desa Kledung. Pendakian ini juga merupakan perayaan ultah saya yang ke-26 yang jatuh pada tanggal 06 Juni 2009, dimana untuk yang ke-2 kalinya pula saya merayakan ultah di puncak  gunung.

Perjalanan menuju Sigedang

SindoroHari itu Jum’at malam tanggal 12 Juni 2009 saya bertolak dari Bekasi sedangkan Chimot dari rumahnya di kediri. Kami janjian bertemu di terminal bis Wonosobo sebelum jam 9 pagi. Sehabis pulang kerja saya berkemas2 sebentar dan sehabis sholat Isya’ saya berangkat dari kost menuju pangkalan Bus Sinar Jaya di Cibitung menggunakan Taksi dari Bekasi Barat. Sedangkan Chimot berangkat dari rumah ke Terminal kertosono untuk selanjutnya oper Bus Sumber Kencana jurusan Yogyakarta. Pukul 8 malam saya sampai di pangkalan bus Sinar Jaya, tanpa antrian saya langsung mendapatkan tiket bus kelas ekonomi jurusan Wonosobo seharga 60 ribu rupiah. Perjalanan malam kami lalui, kontak sms sepanjang perjalanan terus kami lakukan. Tak terasa pagi menjelang, kabut pagi menghalangi pandangan saya saat sampai di terminal bis Wonosobo. Sampai di terminal kurang lebih jam 7 pagi, segera saya mencari tempat untuk bersantai sambil menunggu sahabat saya yang masih dalam perjalanan dari Magelang ke Wonosobo. Setengah jam saya menunggu akhirnya sosok yang tidak asing lagi muncul di hadapan saya, tak salah lagi dia adalah sahabatku Chimot. Senang rasanya telah menemukan partner untuk berpetualang. Setelah membersihkan bdan dan berganti pakaian, kami segera menuju warung untuk mencari sarapan pagi. Sambil menyantap nikmatnya masakan sederhana warung di terminal, kami mencoba mencari informasi angkutan menuju desa Sigedang. Untuk menuju desa Sigedang, dari terminal wonosobo kami naik bus jurusan kota dan turun di pertigaan jalur menuju arah Dieng. Jam 9 kami mulai bertolah dari terminal menuju kota, selanjutnya turun di pertigaan seperti informasi yang di berikan kondektur bus yang kami tumpangi. Sampai di pertigaan, kami lanjutkan naik bus mini jurusan Dieng yang nantinya turun di desa Rejosari. Perjalanan dari Kota menuju desa Rejosari kami tempuh dalam waktu sekitar 1/2 jam. Sampai di desa Rejosari kami turun, rombongan tukan ojek langsung menyambut kedatangan kami. Mereka menawarkan harga yang cukup murah bagi kami, yaitu 5 ribu rupiah sampai Pos Pendakian desa Sigedang. Perjalanan menyusuri ladang jalan aspal yang rusak di tengah2 ladang penduduk kami lewati dalam waktu 1/4 jam. Sampai di Pos Pendakian kami berhenti sejenak, karena kami berniat langsung mendaki makan kami menambah ongkos seribu rupiah lagi untuk sampai titik awal pendakian. Akhirnya pendakian ilegalpun kami mulai dari sini (tanpa surat ijin pendakian :D ). Kami berada di tengah2 kebun teh yang hijau. Stelah foto2 sejenak, kami memulai pendakian tepat pukul 10 pagi.

Kebun Teh

Sindoro3Titik awal pendakian kami terletak di tengah kebun teh yang luas. Perjalanan landai menelusuri bebatuan kami lalui selama 10 menit, setelah itu kami di hadapkan jalur tanah yang memotong hamparan kebun teh di sekeliling. Jalan bebatuan yang kami lewati cukup lebar, jalan ini memang sebenarnya di gunakan petani untuk memanen teh. Jalur ini cukup landai dan lebar untuk dilalui mobil pengangkut barang, bahkan truk pun bisa lewat disini. Jalur mobil ini berkelok-kelok, sehingga cukup jauh jika kita harus mengikutinya dengan jalan kaki. Di tengah2 kebun teh terdapat pos2 pendakian yang mungkin merupakan gubuk2 para petani teh disini. tak jarang kami melihat muda mudi yang sedang bercengkrama dan berpelukan di sepanjang perjalanan. Udara yang sejuk dan hamparan kebun teh yang hijau membuat suasananya menjadi romantis dan asyik untuk menguntai mimpi dua sejoli yang sedang jatuh cinta. Pendaki harus berhati-hati melewati jalur di sepanjang kebun teh ini karena minim sekali tanda2 ataupun marka yang menunjukkan arah jalur pendakian. Tidak ada bedanya jalur pendakian dengan jalur petani teh. Untuk kami diselamatkan dengan pilok fospor yang sengaja di tinggalkan pendaki sebelum kami, mungkin masih baru mengingat warnanya masih cerah sekali. Setelah melakukan perjalanan selama 1,5 jam akhirnya kami sampai di batas kebun teh. Target kami selanjutnya adalah pos Watu Susu, dimana menurut informasi memerlukan waktu kurang lebih 3 jam dari batas kebun teh.

Watu Susu

Sindoro4Setelah lepas dari kebun teh, kami dihadapkan dengan padang rumput dan ilalang di sepanjang perjalanan menuju Watu Susu. Waktu itu kami tertolong dengan kabut tebal yang selalu mengiringi perjalanan kami dan menutupi kami dari teriknya sinar matahari. Sungguh jalur ini merupakan jalur terbuka sepanjang perjalanan. Jika cuaca cerah para pendaki harus siap2 terbakar oleh teriknya matahari dan dehidrasi sepanjang perjalanan. Tidak ada sumber air di sepanjang perjalanan dari bawah sampai puncak. Di musim hujan para pendaki bisa mengambil air di dalam kawah mati yang tergenangi air. Gunung yang benar2 gundul yang hanya ditumbuhi rerumptan dan padang ilalang. Trek yang kami lalui cukup terjal dengan sedikit bebatuan sampai ke batas vegetasi rumput. Watu susu di kenal sebagai payudara dari gunung Sindoro, dimana Sindoro digambarkan sebagi gunung perempuan. Perjalanan selama 4 jam telah kami lalui, tetapi kami tidak menemukan batu besar yang kami cari tersebut. Perjalanan akhirnya sampai di batas vegetasi rumput dan memasuki padang Edelweis. Kami istirahat sejenak disini sambil memandangi puncak yang tinggal sejengkal langkah lagi kami gapai. Setelah menikmati makan siang dan menunaikan sholat, kami melanjutkan perjalanan menuju puncak. Dari sini kami di temani banyak pendaki yang datang mendahului kami. Perjalanan menuju puncak dari sini melewati jalur bebatuan besar dan terjal. Tak jarang kami berhenti untuk meluruskan kaki dan mengatur nafas kami yang mudah terenga karena faktor usia. Setelah 1 jam perjalanan, akhirnya kami sampai di Puncak Sindoro yang ditandai dengan Tugu dari batu bata dan semen. Walaupun kelihatanya bukan merupakan tempat tertinggi dari gunung ini, tapi tugu tersebut merupakan pertanda puncak sindoro. Melangkah sedikit ke depan, kami dihadapkan hamparan tanah datar yang menyerupai lapangan bola. Memang di puncak Sindoro kita bisa bermain bola karena terdapat dataran yang benar2 luas dan datar. Lapangan inipun terdapat garis2 yang menandakan batas2 permainan sepakbola, mungkin memang dulu pernah ada pendaki yang bermain bola disini. Sindoro terkenal dengan Surganya Edelweis karena memang di sepanjang puncak terdapat banyak sekali pohon edelweis, sayang waktu belum banyak yang berbunga. Kami mencoba menengok sebentar bibir kawah Sindoro sebelum mencari tempat untuk mendirikan tenda. Di sebelah tenggara kami terlihat Gunung Sumbing yang sudak mengantuk dan berselimut kabut tebal. Baru kali ini kami bisa mencapai puncak gunung sebelum matahari tenggelam. Karena hari sudah mulai gelap, kami memutuskan untuk mencari tempat mendirikan tenda di balik lindungan pohon Edelweis. Banyak para pendaki yang menginap di sini, bahkan banyak yang camping disini untuk beberapa hari. Udara dingin di puncak gunung cukup menusuk tulang, kamipun mencari ranting2 pohon dan kayu kering untuk membuat api unggun. Pesta perayaan ulang tahun sayapun di mulai setelah ami selesai memasak makan malam kami yang sangat sederhana, yaitu mie instant dan energen. Cuaca malam itu sangat cerah, sehingga kami bisa menikmatu gugusan galaksi Bima Sakti yang sangat luas dan indah itu. Serasa bintang di langit berada sangat dekat dengan kami, benar2 pemandangan yang menabjubkan. Lilin berpola angka 2 dan 6 pun segera saya sulut dengan api, sayapun merasa puas bisa menyelesaikan misi ini. Karena sudah malam dan udara malam semakin dingin, kami memutuskan untuk segera tidur.

Indahnya Sunrise

Tenda yang seharusnya berisi 4 orang kami tempati untuk 2 orang saja yang membuat kami leluasa tidur malam itu. Baru kali ini kami merasakan leganya tidur di dalam tenda, pendakian sebelumnya selalu memaksa kami tidur umpek2an dalam satu tenda. Jam 5 pagi alarm berbunyi, saatnya untuk bangun dan menyambut Sunrise di ufuk  timur. Kami bangun tanpa harus bersusah payah merapikan tenda dan mengemasi barang kami seperti pendakian2 sebelumnya. Kami cukup mengambil kamera dan menutup tenda untuk emudian jalan2 di sepanjang puncak untuk mencari spot Sunrise terbaik. Hamparan cakrawala telah menjingga di ufuk timur yang memotong gunung2 yang berada di depan kami. Gunung Sumbing, Merapi, Merbabu dan juga Lawu terlihat jelas di depan kami. Pemandangan sangat indah ketika Sunrise mulai mengintip dari balik Cakrawala. Hmm…..saatnya berfoto2 dan bergaya sebagus mungkin. Setelah puas berfoto2 dengan Sunrise, kami sejenak menikmati hangatnya sinar matahari sambil menyusuri bibir kawah.  Kamipun menemukan jalan turun menuju kawah mati, tak puas hanya melihat dari atas kami segera turun dan berfoto2 di bawah. Banyak sekali prasasti2 dari bebatuan yang bertuliskan nama2 seseorang ataupun organisasi yang ditinggalkan oleh para pendaki disini. Dalam kawahnya kurang lebih sama dengan kawah Sumbing, tetapi memiliki diameter yang lebih pendek. Setelah selesai mengunjungi kawah mati, kami meneruskan perjalanan mengelilingi puncak. Di sebelah utara kami lihat hamparan pegunungan Dieng yang terkenal itu. Pemandangan disini sangat indah dengan bukit Dieng yang menghijau di bawah kita. Akhirnya usai sudah kami mengitari puncak Sindoro ini, kami kembali ke tenda dan mulai berkemas untuk turun.

Sindoro8

Sindoro9

Sindoro7

Turun ke Jalur Kledung

Setelah merapikan tenda dan berkemas2, jam setengah 9 pagi kami mulai melakukan perjalanan turun melalui Jalur Kledung. Jalur Kledung berada di sebelah timur puncak Sindoro. Jalurnya cukup jelas dan banyak terdapat petunjuk2 pendakian, tidak seperti jalur Sigedang yang sangat minim petunjuknya. Jalur ini sama terjalnya dengan jalur Sigedang. Selama 2 setengah jam perjalanan turun kami melewati padang ilalang sampai menemukan batas vegetasi hutan pinus. Perjalanan melewati padang ilalang sangat menguras keringat karena terik matahari yang terus menyengat di sepanjang perjalanan. Setelah mencapai batas vegetasi padang ilalang, kita akan melalui hutan pinus yang lumayan teduh. Perjalanan turun  sekitar 1 jam kamitempuh melewati hutan pinus sampai akhirnya sampai di batas ladang penduduk. Akhirnya kami sampai di ladang penduduk, dan beruntung sekali kami di sambut oleh petani yang menawarkan jasa ojek sampai Pos. Tak berfikir panjang kami langsung menerima tawaran itu, satu motor untuk 3 orang hanya 10 ribu rupiah. Lumayan daripada harus jalan kaki yang memerlukan waktu kurang lebih satu jam. Jam setengah 1 siang kami sampai di Pos pendakian. Karena ramai pendaki, kami tidak sempat membersihkan badan disini sehingga kami memutuskan untuk membersihkan badan di Masjid terdekat tanpa berganti pakaian. Setelah selesai, kami mencari warung terdekat di sepanjang jalan raya. Berburu makanan setelah mendaki gunung adalah Wajib bagi kami. Makanan pasca pendakian adalah yang ternikmat setelah masakan ibu kami di kampung. Setelah 2ratus meter berjalan, akhirnya kami menemukan Warung Sederhana “SUSI”, masakan jawa khas pegunungan benar2 nikmat. Kami bersantai sejenak sehabis makan sambil membicarakan pendakian berikutnya. Jam 2 siang akhirnya saya dan Chimot harus berpisah disini. Saya mengambil arah wonosobo, sedangkan chimot mengambil arah magelang. Selamat jalan wahai sahabat, senang bisa mendaki bersama dalam keceriaan tanpa batas. Sampai bertemu lagi di pendakian selanjutnya Gunung Lawu.

Sindoro5