Semarak 17 Agustus di bumi Pulau Garam

ROUND TRIP MADURA SERIES   | 1 | 2 | 3 | 45 |

Pawai_1


Gegap gembita menyambut ulang tahun kemerdekan Republik Indonesia ini dirayakan dengan berbagai macam cara didaerah manapun dipelosok tanah air ini. Tidak terkecuali dibumi Madura ini. Selama perjalanan tur kami mengelilingi Madura ini, hampir ditiap kota kecamatan mengadakan yang namanya gerak jalan alias baris berbaris. Tapi berbeda dengan yang biasa kami temui di Jawa, gerak jalan disini tidak berdasarkan tingkatan sekolah (SD, SLTP, SMU) dan tidak menggunakan seragam sekolahnya masing-masing, seperti yang biasa kami lihat. Disini semuanya jadi satu, capur aduk. mulai dari anak kecil sampai orang dewasa jadi satu. Dan seragamnya adalah bebas. Sehingga masing-masing team menonjolkan kreasi konstumnya masing-masing. Ada yang berpenampilan modis dengan topi centilnya, busana muslim, wajah coreng moreng layaknya tentara, punk dengan wajah putih seperti band Kuburan, dan masih banyak lagi. Gerakan barisnya pun bebas. Ada yang layaknya orang baris resmi, ada yang seperti jalan santai, ada yang hormat terus, ada yang menampilkan gerakan-gerakan khas. Benar-benar sangat menarik. Dan satu hal yang sangat saya kagumi adalah antusiasmenya. Melihat banyaknya jumlah peserta yang ikut serta dalam acara ini, dan ratusan orang yang berkerumun dipinggir jalan, saya sama sekali tidak bisa menyangga bahwa ini berasal dari kota kecamatan yang tidak begitu besar. Keramaian yang bahkan tidak lagi saya temui dikota saya tercinta, Kediri.

Pawai_6 Pawai_7

Selain gerak jalan, ada juga pawai kendaraan hias, seperti sepeda dan becak hias. Ada juga arak-arakan pawai kostum (jadi ingat acara Kartini-an waktu saya SD dulu), atau pertunjukan jalanan (semacam barongsai, tari-tarian, dll). Suasana benar-benar meriah.

Pawai_3 Pawai_4 Pawai_5

ROUND TRIP MADURA SERIES   | 1 | 2 | 3 | 45 |

Pantai Slopeng, Segurat Kecantikan yang Tersembunyi

ROUND TRIP MADURA SERIES   | 1 | 2 | 34 | 5 |

Pantai Slopeng


Dengan mayoritas warga Madura yang merantau ke luar pulau, ditambah lokasinya yang benar-benar sangat jauh jika kita mengukurnya dari Surabaya, maka bisa dibayangkan minimnya pengunjung obyek wisata yang satu ini. Dari gelagatnya, pemkot setempat pada awalnya melihat potensi wisata yang besar pada obyek wisata yang satu ini, sehingga terlihat bangunan-bangunan pendukung yang lumayan bagus, walaupun saat ini sudah tampak kerusakan disana-sini karena tidak terawat. Lokasi yang sangat jauh ini lah yang membuat harapan pemkot untuk meraup ABPD berlimpah dari obyek wisata ini hanya tinggal impian. Dari Surabaya, dengan sudah adanya jembatan Suramadu-pun, lokasi pantai Slopeng ini bisa dibilang sangat jauh untuk dijangkau. Sekitar 160-180km dijangkau dari sisi manapun. Lokasinya berada dipesisir pantai sebelah utara kota Sumenep.

Tapi justru dengan kondisi seperti inilah sangat menguntungkan untuk penikmat alam seperti kami ini. Kecantikan pantai ini sama sekali belum terusik. Dia secantik kembang desa yang belum terjamah oleh rusaknya kehidupan kota. Karena, bagi saya pribadi, seindah apapun suatu pantai, jika ternyata harus berakhir seperti pantai Kuta di Bali, dimana ratusan pengunjung kleleran disana-sini, dan sampah dimana-mana, maka dimata saya itu menjadi pantai terjelek.

Pantai Slopeng ini memiliki pasir putih (tentu saja itu artinya berwarna kuning) yang semi padat, dimana di belakangnya masih dikelilingi oleh bukit kecil batuan khas pulau madura. Pepohonan semacam palem (saya tidak tahu namanya) menghiasi pesisir pantainya. Lautnya berwarna hijau kebiru-biruan dengan disemarakkan oleh puluhan perahu nelayan yang melempar sauh ditengah sana membuat suasana semakin indah. Garis pantainya sangat panjang sebenarnya, sepanjang lintasan didaerah ini memiliki kondisi pantai yang sama indahnya. Namun untuk yang dikelola ini garis pantainya sekitar 1 km. Dan suasana semakin menyentuh kalbu disaat matahari sore sudah hampir merangkul garis cakrawala. Sayang sekali kami benar-benar dikejar waktu saat ini, sehingga terpaksa harus melewatkan moment yang indah ini.

Disabtu sore ini, penggunjung pantai hanya ada 4-5 pasang muda mudi dan 1 rombongan keluarga saja, ditambah sepasang muda-muda (bukan muda-mudi) yaitu kami tentu saja. Mau teriak teriak dipantai silakan saja. Mungkin yang terganggu hanya pasangan muda-mudi yang sedang saling melancarkan rayuan gombalnya dipinggir sana. Kami benar-benar bisa menikmati keindahan alam pantai ini. Untuk ongkos masuk sepertinya gratis, tidak ada loket, dan kendaraan bisa diparkir dimanapun sesuka hati. Namun penjaga obyek ini sepertinya melihat ada pengunjung yang tidak biasa pada diri kami, maka kami dikenakan biaya parkir Rp.2.000 dan tarif masuk Rp.1.000 untuk satu orang. Tidak ada masalah untuk tarif semurah itu kan.

How to get there :
Dari kota Sumenep, ambil jalan keutara, arah ke Bangkalan/Surabaya melalui jalur utara. Maka kurang lebih 20km perjalanan meninggalkan kota Sumenep Anda akan melewati daerah wisata ini.

Pantai Slopeng_2 Pantai Slopeng_3 Pantai Slopeng_4

ROUND TRIP MADURA SERIES   | 1 | 2 | 34 | 5 |

Sumenep, Bukti Sejarah Masa Lampau Madura

ROUND TRIP MADURA SERIES   | 1 | 2 3 | 4 | 5 |

Sumenep

Sumenep, kota yang terletak paling timur dari pulau garam ini, merupakan kota bersejarah bagi warga Madura. Ditempat inilah dahulu kerajaan Sumenep pernah berjaya. Guratan sisa sejarah masih terlihat dari beberapa bangunan yang masih kokoh berdiri. Sebut saja, masjid agung Sumenep, keraton Sumenep, dan juga makam raja-raja Sumenep, Asta Tinggi.
Ketika kami memasuki kota Sumenep, disana ada baliho besar yang menyebutkan obyek wisata apa saja yang ada di Kabupaten Sumenep ini. Untuk obyek wisata budaya, disebutkan ada Masjid Agung (Jami’) Sumenep, Keraton Sumenep, Makam raja-raja Asta Tinggi, Kerajinan Batik Tulis, dan Karapan Sapi. Untuk obyek wisata alam ada Pantai Lombang, Pantai Slopeng, dan Scuba diving di Kangean yang terkenal itu. Pada kesempatan kali ini, kami hanya sempat mengunjungi 4 dari 8 obyek yang disebutkan disana.

Masjid Agung (Jami’) Sumenep.

Masjid Agung Sumenep

Sebagaimana aturan tata kota mocopat kerajaan di Jawa, lokasi masjid agung ini juga terletak dipusat kota, disebelah barat dari taman kota (alun-alun) kota Sumenep. Kami sempat ragu sebelumnya untuk memasukinya, karena dari luar astitekturnya sama sekali tidak menyerupai masjid. Seperti pintu masuk keraton. Tidak ada kubah maasjid ataupun menara layaknya masjid-masjid yang sering kami temui. Walaupun kami sempat ragu-ragu, kami putuskan tetap memasukinya. Dan benar, ternyata bangunan yang kami masuki ini benar-benar masjid. Bangunan utama masjid tertutup (yang mungkin hanya digunakan ketika jam sholat berjamaah), sehingga bagi orang-orang yang ingin melaksanakan sholat bisa melaksanakan dibagian serambi luar. Arsitekturnya sendiri, bagi saya benar-benar sangat unik, belum pernah saya lihat sebelumnya dimanapun. Saya tidak bisa mendefinisikan sama sekali ini mengadopsi budaya mana. Dan setelah saya cari tahu ternyata memang arsitektur masjid ini adalah gabungan dari budaya Arab, Persia, Jawa, India, dan Cina.

Keraton Sumenep.

Keraton Sumenep

Berada di sisi timur dari taman kota Sumenep, berdiri keraton Sumenep. Tidak bisa dibayangkan layaknya keraton Jogja atau Solo, namun walaupun keraton ini sudah tidak dihuni oleh anggota keturunan raja lagi, keraton ini bisa dibilang masih sangat terawat.
Pada saat kami kesini, keraton sedang bersiap-siap mengadakan acara tahun menyambut ulang tahun kemerdekaan RI, yang kabarnya akan mengundang wisatawan mancanegara. Digapura depan sudah banyak pasukan penyambut yang didandani sedemikan rupa. Dan dibagian pendopo sudah bersiap-siap orang-orang yang didandani layaknya raja dan abdi-abdinya untuk pertunjukan. Juga ada para pemegang alat musik gamelan yang sedang berlatih. Dibagian belakang pendopo sudah disiapkan berbagai macam menu makanan untuk para tamu nantinya. Karena kami tamu tak diundang maka kami hanya bisa berkeliling dan memotret sana-sini layaknya wartawan gadungan.

Makam raja-raja Sumenep, Asta Tinggi.

Gerbang Asta Tinggi

Ini adalah hal yang paling lucu. Kami tidak tahu apa itu Asta Tinggi pada awalnya. Namun disana-sini banyak petunjuk jalan yang membimbing ketempat ini. Pastilah itu obyek wisata menurut kami. Dan kamipun segera meluncur ketempat ini. Ternyata tempat ini adalah tempat jasad raja-raja Sumenep bersemayam, pesarean (makam) raja-raja Sumenep. Ada 4 rombongan bis besar yang sedang berziarah ketempat ini ketika kami sampai disini. Karena penampilan kami yang tidak karuan, kaos oblong dan jeans yang sudah lusuh, disaat orang lain berbusana muslim, maka kamipun hanya mampir didepan gerbangnya saja.

Pantai Slopeng

Pantai Slopeng, salah satu dari dua pantai terkenal di kabupaten Sumenep. Dimana, mengingat masih minimnya pengunjung yang datang kesini menbuat keindahan dari pantai ini masih tetap terjaga.

ROUND TRIP MADURA SERIES   | 1 | 2 3 | 4 | 5 |

Perjalanan Panjang 376km Mengelilingi Pulau Madura

ROUND TRIP MADURA SERIES   | 1 2 | 3 | 4 | 5 |

Sesuai agenda semula. Hari sabtu tanggal 15 Agustus kita berangkat untuk memulai tur mengitari pulau Madura.

Etape 1 : Mojoarum – Suramadu. 14 km

Rencana awal kami (chimot dan mantos) berangkat pukul setengah 6 pagi. Tapi karena bakat bangun pagi yang susah Mantos, ditambah malamnya kami cangkrukan di warung pecel Pucang hingga pukul 11 malam, jadilah keberangkatan kami kali ini molor. Kami baru bertolak dari rumah saya di Mojoarum pukul 7 pagi. Walaupun matahari sudah cukup tinggi, namun jalanan cukup lengang, hanya diramaikan oleh orang-orang yang sedang jogging pagi saja. Suasana gerbang tol jembatan Suramadu pun bisa dibilang sepi. Tidak ada antrian sama sekali. Bertolak belakang dengan keadaan hingga satu bulan pasca pembukaan yang antriannya hingga mencapai 3 km.
Setelah membayar Rp.3.000, tarif yang dikenakan kepada pengendara sepeda motor (Rp.30.000 untuk kendaraan roda empat atau lebih), kami pun melenggang melintasi jembatan terpanjang di Indonesia ini sepanjang 5,4 km. Jembatan yang menghubungkan pulau Jawa dengan pulau terbesar di propinsi Jawa Timur ini. Angin berhembus cukup kencang, terutama dibagian main gate dari jembatan Suramadu ini. Pantas saja ada rambu-rambu yang menunjukkan kecepatan minimal diharuskan adalah 60 km/jam dibagian ini untuk pengendara sepeda motor. Dengan tujuan agar pengendara sepeda motor tidak terbawa oleh derasnya tiupan angin. Kami membutuhkan waktu sekitar 15 menit melintasi jembatan ini, dengan kecepatan yang santai, sambil menikmati suasana pagi diatas jembatan yang cukup nyaman.

Etape 2 : Suramadu – Sampang. 74 km

Tol Suramadu

Selepas Suramadu kami dihadapkan lintasan panjang berujung bertemu dengan jalanan utama Bangkalan – Sampang. Lintasan panjang lebih dari 10 km ini jalan baru proyek jembatan Suramadu, sehingga belum ada kehidupan disekitarnya. Hanya ada beberapa penjual bensin eceran dan tukang tambal ban sekitar 1 km sekali. Selepas kami bertemu jalanan utama Bangkalan – Sampang misi berikutnya adalah mencari pom bensin. Karena jarum penunjuk level tangki sepeda motor saya sudah hampir berdamai dengan huruf E. Ketakutan kami adalah isu bahwa di Madura jarang sekali ada pom bensin, membuat kami sudah ingin mengisi ditempat penjual bensin eceran. Namun kami tahan dulu hingga ambang batas minimum. Dan memang, dari hasil kami selama mengelilingi madura ini, pom bensin hanya ada rata-rata setiap 10 km sekali. Itu rata-rata. Kadang 3 km sudah ada. Tapi tidak jarang 15 km baru ada. Tapi jangan salah orang penjual bensin eceran ada dimana-mana. Jangan khawatir. Pintar-pintar saja memilih penjual jika memang khawatir bensin yang dijual tidak murni.
Bisa dibilang perjalanan menuju Sampang ini lengang, cenderung monoton. Karena mungkin saya pribadi terbiasa dengan suasana jalan yang ramai ketika berkendara di Jawa. Disini lalu lalang orang sedikit sekali. Dan kondisi rumah-rumah disekitar jalan raya juga sepi kalau tidak ingin dibilang serasa tak berpenghuni. Namun tepatnya di kecamatan Galis, tiba-tiba saja jalanan menjadi macet, padat tak bergerak. Rupanya didepan sana ada pasar hewan. Dan berpuluh-puluh kendaran penganggut sapi hadir disana. Benar-benar ramai suasanananya. Ada yang sibuk memarkir kendaraaanya. Ada yang sibuk menurunkan sapi-sapinya. Bahkan sapi-sapipun bersliweran dijalan raya, dengan pemiliknya tentunya. Selepas melewati pasar hewan ini, perjalanan pun relatif sepi kembali hingga sampai di Sampang.

Etape 3 : Sampang – Pamekasan. 36 km

Sampang

Sampang, salah satu dari 4 kota besar di Madura adalah kota yang tidak terlalu besar dan ramai untuk ukuran Jawa dimata kami. Sesampainya di Sampang kami langsung mencari warung makan, karena tangki bahan bakar perut kami juga sudah empty. Pilihan kami jatuh kepada warung sate, masakan khas Madura. Harga murah meriah. Satu porsi, terdiri dari sate ayam 10 tusuk dengan nasi putih dikenakan tarif Rp.8.000.
Setelah tangki perut kami kembali full perjalanan kami lanjutkan menuju kota Pamekasan. Dengan sebelumnya kami berencana mampir terlebih dahulu di Pantai Camplong. Salah satu obyek wisata andalan kabupaten Sampang. Keindahan dari pantai yang satu ini adalah lautnya yang tenang dengan warna yang hijau bak jamrud. Sehingga tampak menawan mata, sedikit mengurangi keindahannya. Cobaan sempat hinggap karena ban belakang sepeda motor saya bocor. Seperti ketakutan kami sebelumnya, ban belakang sepeda motor saya yang gundul benar-benar sensitif terhadap benda-benda kecil yang tajam. Dengan menuntun kurang lebih 1 km membuat nasi sate kami terbuang jadi keringat. Perjalanan pun kami lanjutkan setelah itu. Menyisir pantai selatan pulau Madura, yang memiliki laut sangat hijau. Namun kemonotonan kembali menghinggapi perjalanan kami. Jalur yang sepi dan serasa kering (seperti perjalanan ke gresik) membuat Mantos yang berada dibelakang sudah manggut-manggut menabrak helm saya karena mulai kehilangan kesadaran alias mengantuk.
Menjelang memasuki kota Pamekasan jalan padat tak bergerak kembali. Kami menduga ada pasar hewan lagi. Ternyata bukan. Didepan ada pawai arak-arakan menyambut 17 Agustusan. Kami pun memutuskan untuk mencari jalur alternatif.

Etape 4 : Pamekasan – Sumenep. 58 km

Pamekasan

Di Pamekasan kami tidak mampir kemana-mana. Rencana awal kami ingin melihat api abadi Dhangka. Namun karena harus berkejar-kejaran dengan waktu sehingga diputuskan untuk dilewati saja. Ditambah lagi juga karena siang-siang panas, kurang nikmat jika masih harus ditambah dengan menikmati api. Sempat berhenti didepan masjid agung Pamekasan, tapi karena waktu dzuhur masih 20 menit lagi, sehingga kami putuskan perjalanan kami lanjutkan saja.
Perjalanan menuju Sumenep ini melintasi hutan dan naik turun bukit. Semacam alas Roban. Hingga menjelang 10 km terakhir memasuki Sumenep suasana berubah dari menembus hutan menjadi menyisir areal tambak. Suasana benar-benar sangat indah. Seperti jalan yang serasa menembus lautan, dengan pinggir-pinggir jalan banyak pohon-pohon besar menaungi. Kami tergoda untuk berhenti sejenak menikmati suasana ini. Ditambah lagi aliran darah dipantat kami benar-benar sudah berhenti, yang membuat rasanya panas sekali karena otot-otot pantat berontak minta untuk disupply oksigen. Dan ini  menjadi alasan yang tepat untuk berhenti sebagai suatu keharusan. Setelah puas menikmati suasana dan beristirahat sejenak, kamipun melanjutkan perjalanan yang tinggal 6 km menuju kota Sumenep.

Etape 5 : Sumenep – Bangkalan. 161 km

Sumenep

Sumenep, kota inilah tujuan utama kami. Banyak sekali obyek wisata andalan pulau Madura yang berada di kabupaten ini. Selain itu kota Sumenep merupakan kota yang sangat bersejarah bagi warga Madura. Dikota ini kami singgah di Masjid Agung Sumenep untuk menunaikan kewajiban sholat Dzuhur sekaligus untuk rehat sejenak meluruskan tulang punggung yang sudah bengkok tidak karuan, kemudian dilanjutkan ke keraton Sumenep, dan terakhir ke makan para raja-raja Sumenep, Asta Tinggi. Karena waktu sudah semakin sore dan kami harus menempuh perjalanan pulang yang sangat-sangat panjang, maka kamipun bertolak melakukan perjalanan pulang. Sempat terbersit keinginan untuk mengunjungi pantai Lombang, pantai yang kabarnya sangat indah terkenal hingga mancanegara, obyek andalan kota Sumenep. Namun mengingat letaknya masih 30 km sebelah timur laur kota Sumenep dan ditambah lagi itu berlawanan dengan jalur pulang kami, maka kami putuskan untuk tidak usah kesana. Cukuplah diwakili oleh pantai Slopeng, pantai tandingan, yang akan kami lewati dalam perjalanan pulang kami. Eksotisme dari pantai Slopeng ini menjadi suntikan energi baru bagi urat-urat ditubuh kami yang sudah mencapai kelelahan.
Perjalanan pulang kami ini menyusuri pantai utara dari pulau madura, yang pemandangan indahnya membuat mata kami terjaga untuk tetap segar. Ini adalah etape terpanjang dari perjalanan ini. Dipesisir utara pulau Madura ini tidak ada kota-kota besar seperti halnya Sampang, Pamekasan dan Sumenep, namun jangan salah, kota-kota kecilnya ini sangat ramai, paling tidak ketika adanya acara pawai 17 Agustus ini. Ditiap kota kecamatan ada lomba gerak jalan. Juga pawai kendaraan hias. Dan beberapa kali kami harus terjebak kemacetan karenanya. Putar sana putar sini tetap efeknya sama saja. Tetap menemui keramaian. Mulai dari Ambunten, Pasongsongan, hingga Sokabana kami harus bersabar menghadapi kemacetan. Di kota kecamatan Ketapang sudah tidak terjebak lagi, karena hari sudah menjelang maghrib, namun bekas dari keramaian masih ada disana.
Gelap pun tiba. Dan ini menjadi siksaan baru. Karena lampu sepeda motor saya sudah sangat redup, dimana lampu dekatnya sudah mati, tersisa lampu jauh dan itu sangat mendongak, sedikit sekali membantu penglihatan malam. Kami mengandalkan bantuan dari kendaraan lain yang lewat. Ada mobil lewat kami membuntuti dibelakangnya. Tapi karena kendaraan tersebut melaju dengan kecepatan yang kencang, sayapun juga harus menggeber gas sekencang-kencangnya agar tidak ketinggalan. Aneh juga. Disiang hari saya maksimal hanya 70 km/jm. Namun dimalam hari dengan keadaan hampir buta ini saya malah ngebut tidak karuan. Hampir 100 km/jam. Shogun saya rasanya sudah meronta-ronta tidak tahan. Namun karena mobil-mobil tersebut lebih sering tidak terkejarnya, maka ketika sudah tidak terkejar lagi kami pun berjalan pelan-pelan lagi menunggu mobil berikutnya. Disaat seperti itu kami hanya lebih banyak mengandalkan insting daripada mata. Tidak ada lampu jalan, lampu sepeda motor yang tinggal setengah watt, tidak adanya kehidupan dipinggir-pinggir jalan, membuat suasana hampir gelap total. Pernah kami hampir jalan terus padahal jalanan menikung. Dan itu terjadi berulang kali. Pada saat kami kebut-kebutan membuntuti mobil didepan kami, satu yang kami kagumi, jalan aspalnya benar-benar mulus. Hampir tidak ada cacat sedikitpun. Membuat acara kebut-kebutan kami ini tetap lancer. Kami tidak perlu terjerumus kedalam lobang jalan raya yang tidak kami lihat. Acara gelap-gelapan ini berakhir ketika kami memasuki Bangkalan. Denyut kehidupan mulai terasa keras. Dan itu berarti penerangan yang cukup.

Etape 6 : Bangkalan – Mojoarum. 36 km
Di Bangkalan kami cuma lewat saja. Selain tidak ada hal yang ingin kami singgahi disana, hari juga sudah malam, fisik sudah sangat lemah, perut juga sudah demo minta di isi. Tepat dipersimpangan menuju jembatan Suramadu, tempat dimana kami pagi tadi berangkat dari titik ini menuju kearah timur, dan kami sekarang kembali dari arah barat, ada keharuan tersendiri. Kami benar-benar sudah satu putaran penuh. Saatnya untuk pulang.
Sebelum pulang ke rumah saya di Mojoarum, kami isi perut dulu di warung bebek super depan tugu pahlawan untuk merayakan perjalanan kami kali ini. Warung adalan saya kalau lagi minta traktir Mantos ketika mampir ke Surabaya (tuan rumah yang minta traktir). Wajah yang seperti topeng karena debu jalanan yang menempel, bau badan yang tidak karuan, tidak kami pedulikan ketika mengantri dengan puluhan orang lainnya, karena demonstrasi diperut semakin menjadi-jadi. Dan benar, rasa bebeknya yang biasanya saja sudah sangat nikmat, kali ini terasa 2x lebih nikmat. Tiba dirumah, langsung ambil posisi tengkurap semua. Meluruskan tulang punggung biasanya dengan cara tidur terlentang, tapi kali ini tidak bisa. Karena pantat sudah emosi. Tidak bisa diajak untuk bersentuhan dengan apapun. Mereka benar-benar berontak meminta kebebasan. Dengan semakin terbangnya kami kealam mimpi, maka perjalanan kami mengitari pulau Madura sepanjang 376 km selama 13 jam pun berakhir.

ROUND TRIP MADURA SERIES   | 1 2 | 3 | 4 | 5 |

Rencana Gila Menyambut Libur Panjang 17 Agustus

ROUND TRIP MADURA SERIES   |  12 | 3 45 |

Pantai Slopeng_4

Liburan panjang 17 Agustus kali ini sebenarnya ada agenda dari engineear untuk camping di pulau semak daun. Dan saya adalah salah satu yang sangat antusias, mengingat kerinduan karena sudah lama tidak camping (terakhir camping di sempu) dan juga karena ingin snorkeling disana. Namun karena ada tugas ‘kenegaraan’ hingga jumat sore dan permasalahan teknis akhirnya saya memutuskan untuk tidak jadi ikut.

Saya tidak punya agenda liburan dengan batalnya keikutsertaan saya di semak daun tersebut, namun tiba-tiba masuk sms dari Mantos – yang sejak semula berhalangan untuk ikut agenda semak daun karena harus mudik – yang mengatakan bahwa sepulangnya dari dinas di Bali dia mau mampir ke Surabaya sebelum akhirnya mudik kerumahnya di Klaten. Selain ada agenda mau menemui kolega bisnis, Mantos minta diantarkan ke jembatan Suramadu. Ini terkait dengan perdebatan sengit kita sebelumnya dengan adanya isu berhembus bahwa jembatan Suramadu adalah jembatan terpanjang di Asia Tenggara dan tentang panjang jembatan Suramadu yang masih kalah dengan jembatan Penang yang pernah kami lalui dulu.

Dan segalanya pasti tidak akan menjadi se-simple itu jika dua otak gila kami bertemu.

Daripada mung bolak balik nglewati jembatan, mending dolan sekalian wae nang Meduro
(daripada cuma balok balik melewati jembatan, mending jalan-jalan sekalian di Madura)

Sing paling apik nang Meduro kui Sumenep, piye lak rono mesisan ae
(yang paling bagus di Madura itu adalah Sumenep, bagaimana kalau kesana sekalian.”

Aseeeem, tas delok peta aku, ternyata Sumenep kui adoh tenan. Diterusne po gak iki?
(sialan, baru lihat peta aku, ternyata Sumenep itu jauh sekali, diteruskan apa tidak ini?)

“Lanjut.”

Peh, aku males lak mbalik melalui jalur yang sama, piye lak mbalike liwat jalur utara wae?
(Aku males kalau harus kembali melalui jalur yang sama, bagaimana kalau kembalinya melalui jalur utara saja?)

Jadilah agenda tur mengitari pulau madura dimulai. Mengitari. Alias mengeliling pulau. Bukan Cuma pulang pergi. Kami tahu itu mungkin jauh. Tapi tidak menyangka bakal sejauh ini. Perjalanan kali ini mungkin terasa semakin berat dari sisi mental, karena kendaraan yang digunakan adalah sepeda motor saya, shogun ’97 yang gear dan rantainya sudah aus ditambah ban belakang yang sudah sangat gundul. Suntikan energi yang saya berikan hanya sekedar mengganti olie saja sehari sebelum keberangkatan.

Dan mungkin tidak banyak yang dapat kami ambil pada perjalanan kali ini, karena kami hanya melintasi kota-kata yang kami lalui, tanpa menggeledahnya begitu dalam. Namun ada eksotisme tersendiri yang kami temui selama dalam perjalanan tersebut, baik itu alam dan juga kehidupan. Kehidupan dibumi orang madura, golongan orang yang sering mendapat pandangan tidak adil dan miring dari golongan yang lain.

ROUND TRIP MADURA SERIES   |  12 | 3 45 |