Sandalku (ga penting banget)

Ini sandalku yang kupakai sehari-hari dalam 9 bulan terakhir. Entah kenapa aku suka sekali memakai sandal ini. Hanya sandal biasa. Malahan jepitnya sudah putus yang harus ‘dioperasi’ agar dapat digunakan. Sandal jepit biasa, tapi punya nilai historis dan emosional bagiku. Semua berawal dari 9 bulan yang lalu di Gunung Rinjani.

Continue reading

Main Paralayang di Puncak Bogor

Setiap naik gunung, Chimot selalu minta difoto dengan gaya terlihat bak seorang atlit paralayang. Dia selalu beragaya di tepian tebing di salah satu sisi puncak seakan siap beraksi. Maklum teman saya satu ini memang rada ngayal ga karuan. Tapi sampai saat inipun saya ga tahu sudah pernahkah dia ber-paralayang, belum pernah nanya. Paling – paling juga belum. Continue reading

Tentukan Arah dengan Mengeja Konstelasi Bintang

Langit adalah kitab yang terbentang, bumi adalah kitab yang terhampar, manusia adalah kitab yang berjalan, ……………… [Ketika Tuhan Jatuh Cinta - Wahyu Sujani]

Wajar dan sudah kodratnya manusia pernah kehilangan arah. Tersesat tak tentu arah dalam suatu perjalanan. Baik itu perjalanan ke suatu tempat maupun perjalanan dalam suatu “pencarian spiritual”(:p). Continue reading

Karimun Jawa book 2: The Islands

Erugren’s Journal 26th June 2010. I’ve landed at Karimun Jawa island. Let’s the party begin.

Kepulauan Karimun jawa terdiri dari 27 buah pulau, dengan pulau terbesarnya adalah Pulau Karimunjawa, terletak di sebelah utara propinsi Jawa Tengah, tepatnya sebelah utara dari kabupaten Jepara. Pulau Karimunjawa dapat ditempuh dengan menggunakan kapal ferry dari Jepara selama 6 jam atau kapal motor cepat dari Semarang selama 4.5 jam. Selain itu juga bisa menggunakan pesawat terbang yang harganya sangat mahal tentunya.

This slideshow requires JavaScript.

Mantos, Dewi, Nanette, Andre, Hevi, Yeni, Nova,Tyas, Andes, Me

Continue reading

Gunung Rinjani, Satu Pendakian Banyak Cerita (1)

Kisah perjalanan pendakian Gunung Rinjani 3726 mdpl 20-25 April 2011

Part 1: Sembalum Lawang
Part 2: Puncak Anjani – Segara Anak
Part 2: Senaru

Kami bahkan sudah memimpikannya jauh ketika kami baru mengenal pendakian gunung.

Bertemu dengan sahabat dekat untuk memulai sebuah petualangan baru, rasanya benar-benar luar biasa. Hari itu kami berlima, dari daerah masing-masing, Kediri, Jember, Krian, Garut dan Jakarta, berkumpul di Bandara Juanda untuk menantikan penerbangan menuju Lombok. Selain kasus harus bongkar-membongkar carrier karena gas tabung tidak boleh masuk pesawat, perjalanan 50 menit dari Surabaya menuju Ampenan Mataram ini terbilang lancar. Tiba di Bandara Selaparang pukul 2 siang waktu setempat. Untuk mengejar waktu Mantos dan Son langsung bergerak mencari mobil carteran menuju Sembalun Lawang. Sebenarnya untuk menuju Sembalun Lawang bisa juga menggunakan jasa angkutan umum via Aikmel. Namun karena waktu sudah sore dan kami juga berlima, maka lebih efektif jika kami menggunakan mobil carteran saja. Habisnya biaya juga beda sedikit, lebih cepat, dan jelas lebih nyaman. Dengan karakter kami berlima yang kurang lebih sama, yaitu malas tawar menawar yang berlebihan, maka 500 ribu merupakan harga kesepakatan mobil carteran untuk mengantar kami ke Sembalun Lawang. Lama perjalanan memakan waktu 3 jam.

Continue reading