Karimun Jawa book 2: The Islands

Erugren’s Journal 26th June 2010. I’ve landed at Karimun Jawa island. Let’s the party begin.

Kepulauan Karimun jawa terdiri dari 27 buah pulau, dengan pulau terbesarnya adalah Pulau Karimunjawa, terletak di sebelah utara propinsi Jawa Tengah, tepatnya sebelah utara dari kabupaten Jepara. Pulau Karimunjawa dapat ditempuh dengan menggunakan kapal ferry dari Jepara selama 6 jam atau kapal motor cepat dari Semarang selama 4.5 jam. Selain itu juga bisa menggunakan pesawat terbang yang harganya sangat mahal tentunya.

This slideshow requires JavaScript.

Mantos, Dewi, Nanette, Andre, Hevi, Yeni, Nova,Tyas, Andes, Me

Continue reading

Karimun Jawa book 1: The Journey

Erugren’s Journal, 25th June 2010. I had been thinking about journey to this place alone, but never been realized. Eventually Mantos ask me to join him to this place. What a fortune. But I must go alone and then meet the other at the port of Jepara.


Hari ini tanggal 25 Juni 2010 saatnya berangkat menuju Surabaya dan kemudian melanjutkan perjalanan ke Jepara. Di sana aku akan bertemu Mantos dan teman-teman barunya yang berangkat dari Jakarta. Waktu menunjukkan pukul 07.00 WIB, aku bangun dari tempat tidur dan segera bersiap-siap ke Terminal Tawang Alun Jember.

Tiba di Terminal pukul 09.20 WIB, suasana tidak terlalu ramai. Aku memasuki terminal, dan seperti biasa ada beberapa orang yang mencari penumpang menanyakan tujuanku, “Mau kemana Mas?”, Tanyanya. “Surabaya”, Continue reading

SMACK DOWN ISLAND – Pulau Semak Daun, Kepulauan Seribu

jump

Erugren’s Journal, 15th August 2009, 04:30 AM, Son make some noisy sound to wake up me and Agus. I said “yes” and sleep again. 05:30 AM, I am woke up, then made quacker oat for breakfast.

Dengan semangat membara aku, son, dan agus berjalan menuju MM untuk mencari taxi. Saat itu pukul 06:00 pagi, dan menurut keterangan son perahu ke pulau Pramuka berangkat jam 07:00. Itulah sebabnya kita memilih taxi. Dengan sotoynya Agus menunjukkan jalan lewat sana-lewat sini, dan akhirnya salah jalan, tujuannya adalah pelabuhan muara angke, malah sampai ke muara baru. Dan lagi-lagi dengan ilmu sotoynya kali ini Son mengusulkan menuju pelabuhan marina, ancol untuk naik KL Lumba-lumba.

Sesampainya di ancol, terlihat kapal-kapal pesiar berwarna putih bertebaran, dapat dibayangkan berapa harga sewanya. Setelah bertanya sani-sini ternyata si lumba-lumba tak beroperasi lagi. Nah Loh. Hal ini membuat semangat kami sedikit turun, tetapi karena tak mau malu pulang tanpa hasil, kami tetap mencari pelabuhan muara angke. Kami menuju Grogol dengan busway. Waktu menunjukkan pukul 09:00 dan perut pun berbunyi kelaparan. Kami makan disebuah warung tenda, tampilan tidak meyakinkan, tetapi masakannya enak sekali. Setelah makan, sesuai dengan petunjuk pemilik warung kami pun naik angkot merah menuju Muara Angke.

Yes!!!  Akhirnya sampai di Muara Angke. Dengan bantuan orang akhirnya sampai ke perahu tujuan Pulau Pramuka. Kegembiraan menjadi keraguan saat bertanya pada pemilik kapal, “Pak kapan berangkat?” Jawab si bapak: “Ya kalau penuh berangkat, kalau sepi ya besok?”. Jam demi Jam selama 3 Jam menunggu akhirnya perahu penuh juga. Perahu pun berangkat.

Waktu yang ditempuh menuju pulau Pramuka adalah kurang lebih 2.5 jam, beberapa orang mulai mabuk laut ditengah perjalanan. Untuk mengatasinya minum antimo, atau bawa permen mint dan lihat laut di jendela kapal.

Rencananya kami akan jalan-jalan dahulu di Pulau Pramuka sebelum ke pulau Semak Daun, tetapi karena sudah sore, kami memutuskan langsung ke Pulau Semak Daun (SD). Kebetulan ada ojek antarpulau yang akan kesana. Lama perjalanan ke pulau SD adalah 40 menit.

Perairan di sini sangat jernih, laut terlihat berwarna biru, perairan dekat pantai berwarna biru muda, pasir berwarna putih. Tidak perlu ke luar negeri untuk mencari pantai indah seperti ini. Sangat berlawanan dengan kondisi di laut jakarta yang berwarna coklat dan banyak sampah. Saat sore laut terlihat gemerlap bagai bintang berkedip-kedip akibat pantulan sinar matahari. Beberapa pulau besar sudah penuh dengan rumah-rumah, sedangkan pulau-pulau kecil masih sepi penduduk. Terlihat beberapa perahu berjalan dan pondok-pondok ditengah laut (mungkin tempat mancing).

Sesampainya di pulau semak daun, Agus minta ijin camping pada penjaga pulau. Di Pulau ini ada satu rumah milik penjaga pulau, beliau menjual mie instant dan makanan lain. Juga sudah ada toilet di sini, tetapi airnya asin, jadi kami sarankan bawalah air tawar yang banyak untuk minum, masak dan wudhu. Ada beberapa orang yang sudah mendirikan tenda, aku melihat  sudah ada 5 tenda. Kami pun mencari tempat untuk camping menyusuri pantai. Kami memutuskan camping dekat pantai dimana dapat melihat sunset.

Setelah mendirikan tenda yang baru saya beli itu, kami makan nasi bungkus yang tadi dibeli di Pulau Panggang saat ojek antar pulau mampir ke pulau itu. Sunset pun tiba, sayang agak berawan di bagian horison. Orang-orang pun berduyun-duyun ke pantai kami itu.

Matahari pun terbenam, Agus dan Son menjalankan sholat maghrib. Di dalam tenda sangat panas, aku pergi duduk di dekat pantai. Semilir angin berhembus nikmat. Setelah Agus dan Son selsesai sholat kami menggelar matras di pantai, tidur-tiduran melihat indahnya bintang sambil minum engergen coklat hangat. Beberapa bintang jatuh terlihat di langit yang cerah itu, suatu hal yang tak dapat dilihat di kota yang penuh dengan polusi cahaya dan asap. Sambil menikmati langit kami berbincang-bincang tentang repelita masing-masing. Agus berbicara dia ingin jadi presiden dalam lima tahun, tapi sebenarnya dia “terpenjara” dalam kondisi nyaman saat ini. Son bercerita keinginan dia untuk membuka usaha sandang. Sedangkan aku ingin jadi petani. Kemudian kami membicarakan tentang perlukah uang didunia – suatu perdebatan yang tak pernah selesai.

Setelah cukup malam, kami pindah ke tenda. Sambil makan kacang atom, kami membicarakan hal-hal tak bermutu, sampai tiba-tiba muncul dua mahluk kecil memakan kacang atom yang jatuh. Ternyata mahluk itu adalah kecoa. Kecoa ini bersih, mirip kecoa madagaskar mini, tidak jorok seperti di kota. Kami pun cuek saja. Kemudian Agus dan Son memutuskan tidur, dan aku tidur-tiduran di pantai. Dan ternyata di tenda ada kecoak yang bersembunyi, mereka berdua kalang kabut mencari kecoak itu. Hahahaha.. Setelah ngantuk, aku pun bergabung dengan mereka.

Pagi harinya kami pun langsung mencari spot sunrise. Pantai terlihat lebih luas karena air surut. Matahari terhalang oleh awan di horison, sehingga kami harus menunggu beberapa saat untuk melihat sunrise kesiangan itu. Setelah puas menikmati sunrise kami berputar mengelilingi pulau yang hanya ditempuh dalam 10 menit saja.

Akhirnya jam 10 kami dijemput oleh ojek yang sama dimana kami sudah pesan. Kami pun sampai di Pulau Pramuka kembali. Kami pergi mengelilingi pulau Pramuka ini dengan berjalan kaki. Waktu yang diperlukan adalah 40 menit saja. Di sini kami dapat melihat beberapa penginapan, penangkaran ikan, penangkaran kura-kura, tempat persewaan snorkling dan diving, rumah-rumah penduduk, dan juga sisi yang masih belum ditinggali penduduk.

Berkeliling membuat kami lapar dan berkeringat, kami pun mencari warung makan. Warung yang kami pilih cukup ramai, meskipun menunya sedikit. Seperti yang sudah saya bayangkan, orang-orang tak bisa antri, jadi kami harus aktif. Di sini bukan restoran jadi jangan harap dan jangan kecewa terhadap pelayanannya. Jika ada yang mau investasi silahkan bikin restoran di sini, dijamin laris manis.

Kami pergi ke masjid untuk mandi, tetapi airnya tidak mengalir sama sekali. Kami kembali ke warung tadi dan numpang toilet umum, tetapi airnya juga tidak mengalir. Agus membeli aqua lagi untuk wudhu. Saat adzan dhuhur terdengar kami pergi ke masjid yang tadi. Terlihat air sudah berkucur, tampaknya air dibuka saat-saat sholat untuk wudhu saja. Tapi sayang sekali airnya asin. Kami tidak jadi mandi.

Pukul 01.00 kami pergi ke dermaga untuk pulang ke Muara Angke. Terlihat dermaga penuh dengan banyak orang. Berbeda dengan waktu berangkat dimana kami membayar perahu waktu on board, disini kami harus membeli tiket terlebih dahulu. Harga tiket sama. Agus yang pasif lama sekali dapat tiketnya walaupun sudah berdiri didepan tukang jual tiketnya. Rupanya Agus lupa bahwa orang tidak bisa antri dan menganut prinsip siapa cepat dia dapat.

Perahu pertama pun datang. Orang-orang mulai berebut naik sampai-sampai perahu miring. Petugas berkata bahwa akan ada tiga perahu jadi jangan berebut. Tetapi dasar orang-orang yang  egois dan tidak bisa antri, tetap saja ingin naik. Sampai petugas teriak-teriak baru mereka mengerti.

Perahu kedua pun tiba, orang-orang masih berebut naik. Setelah perahu jalan, di dermaga sudah tidak banyak orang. Perahu ketiga agak lama datangnya. Tapi lebih nyaman karena bisa cari posisi PW. Memang orang sabar dikasihi Tuhan. Mesin sempat mati waktu perjalanan tapi puji syukur bisa diatasi dengan cepat. Kami pun tiba di Muara Angke, mampir makan otak-otak (ikan bakar dalam daun dengan bumbu kacang), kemudian pulang.

Waktu bekerja anda menjual hidup anda pada bos anda dengan gaji tiap bulan

Jangan jual semua hidup anda!

Biaya perjalanan:

Busway: Rp. 3500

Angkot Grogol-Muara Angke: Rp. 4000

Perahu Muara Angke-Pulau Pramuka: Rp. 30.000

Ojek Pulau Pramuka-Pulau Semak Daun: Rp. 200.000 (sewa satu perahu)

Ijin berkemah: Rp. 50.000 (Agus memang murah hati)

Pantai

Pantai

Dermaga Semak Daun

Dermaga Semak Daun

Air Laut yang jernih

Air Laut yang jernih

Continue reading

Pantai Slopeng, Segurat Kecantikan yang Tersembunyi

ROUND TRIP MADURA SERIES   | 1 | 2 | 34 | 5 |

Pantai Slopeng


Dengan mayoritas warga Madura yang merantau ke luar pulau, ditambah lokasinya yang benar-benar sangat jauh jika kita mengukurnya dari Surabaya, maka bisa dibayangkan minimnya pengunjung obyek wisata yang satu ini. Dari gelagatnya, pemkot setempat pada awalnya melihat potensi wisata yang besar pada obyek wisata yang satu ini, sehingga terlihat bangunan-bangunan pendukung yang lumayan bagus, walaupun saat ini sudah tampak kerusakan disana-sini karena tidak terawat. Lokasi yang sangat jauh ini lah yang membuat harapan pemkot untuk meraup ABPD berlimpah dari obyek wisata ini hanya tinggal impian. Dari Surabaya, dengan sudah adanya jembatan Suramadu-pun, lokasi pantai Slopeng ini bisa dibilang sangat jauh untuk dijangkau. Sekitar 160-180km dijangkau dari sisi manapun. Lokasinya berada dipesisir pantai sebelah utara kota Sumenep.

Tapi justru dengan kondisi seperti inilah sangat menguntungkan untuk penikmat alam seperti kami ini. Kecantikan pantai ini sama sekali belum terusik. Dia secantik kembang desa yang belum terjamah oleh rusaknya kehidupan kota. Karena, bagi saya pribadi, seindah apapun suatu pantai, jika ternyata harus berakhir seperti pantai Kuta di Bali, dimana ratusan pengunjung kleleran disana-sini, dan sampah dimana-mana, maka dimata saya itu menjadi pantai terjelek.

Pantai Slopeng ini memiliki pasir putih (tentu saja itu artinya berwarna kuning) yang semi padat, dimana di belakangnya masih dikelilingi oleh bukit kecil batuan khas pulau madura. Pepohonan semacam palem (saya tidak tahu namanya) menghiasi pesisir pantainya. Lautnya berwarna hijau kebiru-biruan dengan disemarakkan oleh puluhan perahu nelayan yang melempar sauh ditengah sana membuat suasana semakin indah. Garis pantainya sangat panjang sebenarnya, sepanjang lintasan didaerah ini memiliki kondisi pantai yang sama indahnya. Namun untuk yang dikelola ini garis pantainya sekitar 1 km. Dan suasana semakin menyentuh kalbu disaat matahari sore sudah hampir merangkul garis cakrawala. Sayang sekali kami benar-benar dikejar waktu saat ini, sehingga terpaksa harus melewatkan moment yang indah ini.

Disabtu sore ini, penggunjung pantai hanya ada 4-5 pasang muda mudi dan 1 rombongan keluarga saja, ditambah sepasang muda-muda (bukan muda-mudi) yaitu kami tentu saja. Mau teriak teriak dipantai silakan saja. Mungkin yang terganggu hanya pasangan muda-mudi yang sedang saling melancarkan rayuan gombalnya dipinggir sana. Kami benar-benar bisa menikmati keindahan alam pantai ini. Untuk ongkos masuk sepertinya gratis, tidak ada loket, dan kendaraan bisa diparkir dimanapun sesuka hati. Namun penjaga obyek ini sepertinya melihat ada pengunjung yang tidak biasa pada diri kami, maka kami dikenakan biaya parkir Rp.2.000 dan tarif masuk Rp.1.000 untuk satu orang. Tidak ada masalah untuk tarif semurah itu kan.

How to get there :
Dari kota Sumenep, ambil jalan keutara, arah ke Bangkalan/Surabaya melalui jalur utara. Maka kurang lebih 20km perjalanan meninggalkan kota Sumenep Anda akan melewati daerah wisata ini.

Pantai Slopeng_2 Pantai Slopeng_3 Pantai Slopeng_4

ROUND TRIP MADURA SERIES   | 1 | 2 | 34 | 5 |

Sumenep, Bukti Sejarah Masa Lampau Madura

ROUND TRIP MADURA SERIES   | 1 | 2 3 | 4 | 5 |

Sumenep

Sumenep, kota yang terletak paling timur dari pulau garam ini, merupakan kota bersejarah bagi warga Madura. Ditempat inilah dahulu kerajaan Sumenep pernah berjaya. Guratan sisa sejarah masih terlihat dari beberapa bangunan yang masih kokoh berdiri. Sebut saja, masjid agung Sumenep, keraton Sumenep, dan juga makam raja-raja Sumenep, Asta Tinggi.
Ketika kami memasuki kota Sumenep, disana ada baliho besar yang menyebutkan obyek wisata apa saja yang ada di Kabupaten Sumenep ini. Untuk obyek wisata budaya, disebutkan ada Masjid Agung (Jami’) Sumenep, Keraton Sumenep, Makam raja-raja Asta Tinggi, Kerajinan Batik Tulis, dan Karapan Sapi. Untuk obyek wisata alam ada Pantai Lombang, Pantai Slopeng, dan Scuba diving di Kangean yang terkenal itu. Pada kesempatan kali ini, kami hanya sempat mengunjungi 4 dari 8 obyek yang disebutkan disana.

Masjid Agung (Jami’) Sumenep.

Masjid Agung Sumenep

Sebagaimana aturan tata kota mocopat kerajaan di Jawa, lokasi masjid agung ini juga terletak dipusat kota, disebelah barat dari taman kota (alun-alun) kota Sumenep. Kami sempat ragu sebelumnya untuk memasukinya, karena dari luar astitekturnya sama sekali tidak menyerupai masjid. Seperti pintu masuk keraton. Tidak ada kubah maasjid ataupun menara layaknya masjid-masjid yang sering kami temui. Walaupun kami sempat ragu-ragu, kami putuskan tetap memasukinya. Dan benar, ternyata bangunan yang kami masuki ini benar-benar masjid. Bangunan utama masjid tertutup (yang mungkin hanya digunakan ketika jam sholat berjamaah), sehingga bagi orang-orang yang ingin melaksanakan sholat bisa melaksanakan dibagian serambi luar. Arsitekturnya sendiri, bagi saya benar-benar sangat unik, belum pernah saya lihat sebelumnya dimanapun. Saya tidak bisa mendefinisikan sama sekali ini mengadopsi budaya mana. Dan setelah saya cari tahu ternyata memang arsitektur masjid ini adalah gabungan dari budaya Arab, Persia, Jawa, India, dan Cina.

Keraton Sumenep.

Keraton Sumenep

Berada di sisi timur dari taman kota Sumenep, berdiri keraton Sumenep. Tidak bisa dibayangkan layaknya keraton Jogja atau Solo, namun walaupun keraton ini sudah tidak dihuni oleh anggota keturunan raja lagi, keraton ini bisa dibilang masih sangat terawat.
Pada saat kami kesini, keraton sedang bersiap-siap mengadakan acara tahun menyambut ulang tahun kemerdekaan RI, yang kabarnya akan mengundang wisatawan mancanegara. Digapura depan sudah banyak pasukan penyambut yang didandani sedemikan rupa. Dan dibagian pendopo sudah bersiap-siap orang-orang yang didandani layaknya raja dan abdi-abdinya untuk pertunjukan. Juga ada para pemegang alat musik gamelan yang sedang berlatih. Dibagian belakang pendopo sudah disiapkan berbagai macam menu makanan untuk para tamu nantinya. Karena kami tamu tak diundang maka kami hanya bisa berkeliling dan memotret sana-sini layaknya wartawan gadungan.

Makam raja-raja Sumenep, Asta Tinggi.

Gerbang Asta Tinggi

Ini adalah hal yang paling lucu. Kami tidak tahu apa itu Asta Tinggi pada awalnya. Namun disana-sini banyak petunjuk jalan yang membimbing ketempat ini. Pastilah itu obyek wisata menurut kami. Dan kamipun segera meluncur ketempat ini. Ternyata tempat ini adalah tempat jasad raja-raja Sumenep bersemayam, pesarean (makam) raja-raja Sumenep. Ada 4 rombongan bis besar yang sedang berziarah ketempat ini ketika kami sampai disini. Karena penampilan kami yang tidak karuan, kaos oblong dan jeans yang sudah lusuh, disaat orang lain berbusana muslim, maka kamipun hanya mampir didepan gerbangnya saja.

Pantai Slopeng

Pantai Slopeng, salah satu dari dua pantai terkenal di kabupaten Sumenep. Dimana, mengingat masih minimnya pengunjung yang datang kesini menbuat keindahan dari pantai ini masih tetap terjaga.

ROUND TRIP MADURA SERIES   | 1 | 2 3 | 4 | 5 |